Trump Guyur Petani AS Rp200 Triliun, Padi dan Kapas Jadi Prioritas
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengalokasikan bantuan finansial sebesar USD 12 miliar atau sekitar Rp200,2 triliun bagi para petani di Amerika Serikat. Program bantuan ini menyasar berbagai komoditas pertanian, dengan menempatkan petani padi dan kapas sebagai prioritas utama penerima dana.
Berdasarkan laporan Reuters pada Jumat (2/1), Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) telah merilis rincian teknis mengenai besaran dana yang akan diterima. Bantuan tersebut disalurkan melalui program bertajuk Farmer Bridge Assistance, di mana penghitungannya didasarkan pada luas lahan per hektar untuk 19 jenis komoditas tanaman pangan yang dinyatakan memenuhi syarat.
Dalam rincian yang dirilis, petani padi akan menerima alokasi tertinggi sebesar USD 132,89 per hektar, diikuti oleh petani kapas yang mendapatkan USD 117,35 per hektar. Komoditas lain juga mendapatkan porsi bantuan dengan besaran yang bervariasi, di antaranya petani gandum oat sebesar USD 81,75 per hektar, jagung USD 44,36 per hektar, gandum USD 39,35 per hektar, dan kedelai sebesar USD 30,88 per hektar.
Baca Juga: Efek Trump! Monumen China Diruntuhkan Paksa, Terusan Panama Jadi Medan Tempur Geopolitik! – Economix
Daftar penerima manfaat ini juga mencakup komoditas kacang tanah, sorgum, barley, canola, bunga matahari, lentil, kacang polong, mustard, safflower, flax, serta chickpea besar dan kecil. USDA menjelaskan bahwa skema pembayaran tersebut dihitung berdasarkan data luas tanam tahun 2025, biaya produksi, serta kondisi pasar terkini.
Sebanyak USD 11 miliar dari total anggaran akan disalurkan dalam bentuk pembayaran satu kali. Sementara itu, sisa USD 1 miliar akan dialokasikan untuk petani tanaman hortikultura dan gula, meskipun waktu pencairan dan mekanisme penyalurannya saat ini masih dalam tahap finalisasi oleh USDA.
Respons Petani Kedelai terhadap Tekanan Pasar
Meskipun terdapat bantuan dari pemerintah, para petani jagung dan kedelai di AS tengah menghadapi tantangan berat. Hasil panen yang melimpah pada musim gugur ini justru berujung pada kerugian miliaran dolar akibat anjloknya harga pasar yang dipicu oleh kelebihan pasokan global.
Kondisi ini diperparah oleh hilangnya pasar China sebagai konsumen terbesar kedelai AS. Dampak perang dagang membuat China mengalihkan sumber pasokan mereka ke Amerika Selatan. Hal ini membuat petani kedelai menjadi pihak yang paling terdampak secara ekonomi.
Rendahnya alokasi bantuan untuk kedelai, yang hanya sebesar USD 30,88 per hektar, dinilai belum mencukupi. Scott Metzger, seorang petani asal Ohio yang juga menjabat sebagai Presiden American Soybean Association, menyatakan bahwa kerugian perdagangan yang signifikan tahun ini membuat bantuan tersebut kemungkinan besar tidak akan mampu menjaga keberlangsungan finansial usaha tani kedelai dalam menghadapi musim tanam berikutnya.
“Akibat kerugian perdagangan yang signifikan tahun ini, bantuan untuk petani kedelai kemungkinan tidak cukup untuk menjaga keberlangsungan finansial usaha para petani kedelai menjelang musim tanam berikutnya,” kata Scott Metzger dikutip pada Jumat (2/1/2026).
Baca Juga: KFC & Pizza Hut Resmi Merger, Kenapa? – Economix

[…] Trump Guyur Petani AS Rp200 Triliun, Padi dan Kapas Jadi Prioritas […]