Trump Ingin Minyak Venezuela Isi Cadangan Strategis AS
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan rencana menggunakan minyak Venezuela untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis negaranya.
Cadangan tersebut merupakan persediaan minyak yang disimpan pemerintah AS untuk menghadapi kondisi darurat, seperti gangguan pasokan global atau lonjakan harga energi.
Trump mengatakan cadangan minyak strategis AS saat ini hampir kosong dan menyalahkan pemerintahan mantan Presiden Joe Biden atas kondisi tersebut.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut proses pengisian kembali cadangan minyak atau “topping out” akan segera dimulai. Ia juga menggambarkan minyak Venezuela sebagai hadiah dari negara tersebut untuk masyarakat AS.
Baca Juga: Prabowo Pilih Investasi, Tak Mau Terlalu Banyak Utang ke LN
Namun, belum diketahui seberapa cepat kesepakatan dengan Venezuela dapat menyediakan pasokan minyak untuk cadangan strategis AS maupun memberikan dampak langsung terhadap harga energi bagi warga Amerika.
Kesepakatan Minyak Venezuela-AS Senilai Ratusan Miliar Dolar
Dilansir Al Jazeera, kesepakatan yang diumumkan Trump pada Jumat (28/8/2026) bertujuan untuk menghidupkan kembali industri minyak Venezuela yang mengalami kemunduran dalam beberapa tahun terakhir.
Meski Venezuela memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, peningkatan produksi membutuhkan investasi besar serta pembangunan kembali infrastruktur energi yang mengalami kerusakan.
Data menunjukkan cadangan minyak strategis AS berada di sekitar 290 juta barel per 21 Agustus, mendekati level terendah dalam 44 tahun terakhir. Jumlah tersebut berkurang setelah pemerintah AS menggunakan sebagian cadangan untuk menghadapi gangguan pasokan energi global.
Kesepakatan Washington dan Caracas disebut mencakup pengelolaan sekitar 65 miliar barel minyak Venezuela selama 25 tahun.
Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez menegaskan kerja sama tersebut tidak menghilangkan kepemilikan Venezuela atas sumber daya alamnya. Menurutnya, kesepakatan itu justru akan membantu pemulihan industri minyak melalui investasi, teknologi, dan keahlian operasional dari pihak luar.
Baca Juga: Xi Jinping dan Putin Bertemu di KTT SCO, Bahas Tekanan AS ke Iran?
“Venezuela akan tetap memiliki sumber daya alamnya sambil memanfaatkan modal, teknologi, dan keahlian operasional untuk mendukung pemulihan industri strategis yang telah sangat terpengaruh oleh sanksi,” katanya.
Melalui kesepakatan tersebut, Venezuela juga disebut tetap memperoleh keuntungan dari produksi minyak. Dari setiap barel minyak yang diproduksi dan dijual ke AS, sekitar 19 dolar AS akan mengalir kembali ke Caracas.
Dengan asumsi harga minyak tertentu, skema tersebut berpotensi menghasilkan pendapatan hingga 209 miliar dolar AS atau sekitar Rp3.709 triliun per tahun bagi Venezuela.
Selain itu, proyek tersebut mencakup pengembangan 17 ladang minyak strategis dengan target produksi awal mencapai 1,5 juta barel per hari. Pemerintah Venezuela juga merencanakan pengembangan delapan blok minyak baru untuk memperluas sektor energi nasional.
