Update Konflik Thailand-Kamboja, Jam Malam Diperluas
Situasi konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja terus memanas dan menunjukkan eskalasi yang semakin mengkhawatirkan. Terbaru, pemerintah Thailand mengumumkan pemberlakuan jam malam di Provinsi Trat, wilayah tenggara yang berbatasan langsung dengan Kamboja, setelah pertempuran meluas hingga ke kawasan pesisir perbatasan yang disengketakan.
Kebijakan tersebut mulai diberlakukan sejak Minggu dan menambah daftar wilayah Thailand yang berada di bawah pembatasan aktivitas warga akibat konflik. Langkah ini diambil meski sebelumnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kedua negara telah sepakat untuk menghentikan pertempuran.
Trump mengungkapkan dirinya telah berbicara langsung dengan Perdana Menteri sementara Thailand, Anutin Charnvirakul, serta Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, pada Jumat lalu. Menurut Trump, kedua pemimpin telah sepakat untuk “menghentikan semua penembakan”.
Baca Juga: Versi Linkedin, Ini Perguruan Tinggi Terbaik di AS 2025
Namun di lapangan, situasi menunjukkan sebaliknya. Bentrokan justru terus berlanjut, bahkan semakin meluas. Konflik bersenjata ini bukan pertama kali terjadi sepanjang tahun 2025. Sejak seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan pada Mei lalu, ketegangan di perbatasan kedua negara kembali meningkat dan telah menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi di kedua sisi perbatasan.
Thailand dan Kamboja diketahui saling baku tembak menggunakan senjata berat di beberapa titik sepanjang perbatasan darat mereka yang membentang sekitar 817 kilometer. Eskalasi kali ini disebut sebagai yang paling sengit sejak bentrokan selama lima hari pada Juli lalu, yang kala itu berakhir dengan mediasi Presiden Trump dan Malaysia pada Oktober.
“Secara keseluruhan, telah terjadi bentrokan terus-menerus sejak Kamboja kembali menegaskan keterbukaannya terhadap gencatan senjata pada hari Sabtu,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Laksamana Muda Surasant Kongsiri, dalam konferensi pers di Bangkok setelah pengumuman jam malam, Senin (15/12/2025).
Ia menambahkan bahwa pemerintah Thailand tetap membuka jalur diplomasi, tetapi dengan syarat tertentu.
Baca Juga: Pos Militer Diserang, Guatemala Tetapkan Status Darurat
“Thailand terbuka untuk solusi diplomatik tetapi Kamboja harus menghentikan permusuhan terlebih dahulu sebelum kita dapat bernegosiasi,” lanjut dia.
Jam malam di Provinsi Trat mencakup lima distrik, yakni Khlong Yai, Bo Rai, Laem Ngop, Khao Saming, dan Mueang Trat. Warga dilarang meninggalkan rumah antara pukul 19.00 hingga 05.00 waktu setempat. Meski demikian, pembatasan ini tidak mencakup pulau wisata populer seperti Koh Chang dan Koh Kood. Sebelumnya, militer Thailand juga telah memberlakukan jam malam di Provinsi Sakeo di bagian timur, yang hingga kini masih berlaku.
Dari pihak Thailand, Anutin Charnvirakul menegaskan sikap keras pemerintahnya. Pada Sabtu lalu, ia bersumpah akan terus melawan hingga ancaman benar-benar berakhir. Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, menuduh Thailand terus melancarkan serangan. Ia mengatakan Thailand masih menembakkan mortir dan bom ke wilayah perbatasan sejak tengah malam.
Dampak konflik ini dirasakan langsung oleh warga sipil di kedua negara. Dikutip dari AFP, sedikitnya 25 orang dilaporkan tewas, terdiri dari 14 tentara Thailand dan 11 warga sipil Kamboja.
“Saya sudah berada di sini selama enam hari dan saya merasa sedih karena pertempuran terus berlanjut,” kata Sean Leap (63).
“Saya ingin ini berhenti,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia merasa khawatir dengan situasi yang kian memburuk.
Hingga kini, upaya gencatan senjata masih menghadapi jalan terjal, sementara warga sipil terus menanggung dampak dari konflik bersenjata yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Baca Juga: Trump Imbau Wisatawan Wajib Tunjukkan Media Sosial 5 Tahun
