Xi Jinping Rangkul Rusia-Iran, Tekanan Sanksi AS Mulai Dipertanyakan
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) yang berlangsung selama dua hari sejak Senin (31/8/2026) di Bishkek, Kirgistan, memperlihatkan semakin kuatnya pengaruh China di panggung politik global.
Di tengah upaya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperkuat tekanan diplomatik dan ekonomi terhadap negara-negara yang berseberangan dengan Washington, pertemuan tersebut justru menunjukkan kemampuan Presiden China Xi Jinping dalam membangun hubungan dengan negara-negara yang menjadi lawan AS, termasuk Rusia dan Iran.
China menjadi salah satu faktor penting yang membuat Rusia dan Iran mampu bertahan dari tekanan ekonomi Barat. Sebagai importir minyak mentah terbesar dunia sekaligus salah satu pusat manufaktur global, Beijing memiliki peran strategis dalam menjaga jalur perdagangan dan pasokan ekonomi kedua negara tersebut.
Baca Juga: RI Diminta Siap, Purbaya Ingatkan Risiko Ekonomi Global Masih Tinggi
Hal ini terlihat ketika Trump sebelumnya mengancam akan memberikan sanksi besar terhadap negara-negara yang membantu Iran. Namun, ancaman tersebut dinilai belum mampu mengubah sikap Beijing.
“Setelah tahun lalu, Trump memiliki masalah kredibilitas mendasar dengan Xi,” kata mantan Direktur Senior Urusan China dan Taiwan di Dewan Keamanan Nasional AS, Julian Gewirtz, dikutip dari New York Times, Minggu (31/8/2026).
“Baik ancaman maupun jaminannya tampak bagi Beijing, seperti yang dikatakan pemimpin dunia lainnya, seperti ditulis dengan pensil,” sambungnya.
Xi Perkuat Posisi China Sebelum Bertemu Trump
Kehadiran Xi Jinping dalam KTT SCO berlangsung di tengah agenda diplomasi besar antara China dan Amerika Serikat.
Pertemuan tersebut digelar bersamaan dengan KTT finansial G20 di Asheville, North Carolina. Sebelum melakukan kunjungan ke Washington untuk membahas kelanjutan kesepakatan gencatan senjata ekonomi dengan AS, Xi memanfaatkan forum SCO untuk menunjukkan jaringan hubungan internasional China.
Selain menghadiri KTT SCO, Xi juga dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Mesir dan India. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Beijing menunjukkan bahwa China memiliki hubungan luas dengan berbagai negara ketika hubungan AS dengan sejumlah mitranya mengalami ketegangan.
“Xi tampaknya melihat peluang untuk menunjukkan bahwa China memiliki teman dan pilihan di seluruh dunia tepat pada saat Washington mengasingkan banyak sekutunya,” jelas Gewirtz.
Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Bishkek, Xi menyebut hubungan kedua negara memiliki prospek yang semakin baik.
Putin juga menyambut penguatan kerja sama tersebut dengan menyampaikan rencana kebijakan bebas visa permanen bagi warga China. Selain itu, Putin menyoroti keberhasilan pelayaran perdana kapal kontainer China melalui Rute Laut Utara di kawasan Arktik pada pertengahan Agustus lalu.
Meski memperkuat kerja sama ekonomi dengan Rusia dan Iran, China tetap menjaga jarak dari konflik militer secara langsung. Beijing lebih memilih memperluas perdagangan, investasi, serta kerja sama teknologi strategis dibandingkan terlibat dalam konfrontasi bersenjata.
Baca Juga: Kerugian Capai Rp5,3 T, 19 Perusahaan Diduga Picu Karhutla
Kehadiran Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam KTT SCO juga dinilai menjadi tanda bahwa upaya isolasi ekonomi yang dilakukan negara-negara Barat belum sepenuhnya berhasil.
Negara-negara Asia Tengah kini berkembang menjadi jalur penting bagi perdagangan dan pembayaran Rusia serta Iran untuk mengurangi dampak sanksi Amerika Serikat.
Di sektor energi, posisi China sebagai pembeli utama minyak Rusia dan Iran semakin memperkuat pengaruh Beijing di kawasan. Kondisi tersebut juga terjadi ketika India kembali meningkatkan impor minyak dari Rusia akibat perubahan dinamika pasar energi global.
“Trump telah memojokkan dirinya sendiri. Pemerintahan ini kesulitan menyelaraskan dua tujuan yang tampaknya tidak dapat didamaikan, memperketat tekanan terhadap Iran dan mempertahankan gencatan senjata dengan China,” tegas Gewirtz.
