Yield Obligasi AS Tertinggi sejak 2007, Investor Diperingatkan Masuk Zona Bahaya
Pasar obligasi Amerika Serikat (AS) disebut mulai memasuki “zona bahaya” setelah lonjakan tajam imbal hasil atau yield surat utang pemerintah memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global.
Kenaikan yield tersebut dinilai mulai memberi tekanan terhadap saham hingga berbagai aset berisiko lainnya.
Kekhawatiran pasar meningkat setelah aksi jual besar-besaran di pasar obligasi mendorong yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun menembus level 5,19 persen.
Angka itu menjadi yang tertinggi sejak 2007 atau sebelum terjadinya krisis keuangan global 2008.
Sementara itu, yield obligasi tenor 10 tahun juga naik mendekati 4,69 persen.
Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran inflasi yang masih tinggi serta ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama.
Baca Juga:18 Ribu Lapangan Kerja Diklaim Prabowo Diciptakan Kopdes
Strategis HSBC menilai kondisi pasar obligasi AS kini sudah berada pada level yang mulai membahayakan pasar keuangan secara luas.
“US Treasuries are now firmly in the danger zone,” tulis HSBC dalam catatannya yang dikutip CNBC International, Kamis (21/5/2026).
Analis menilai kenaikan yield membuat biaya pinjaman perusahaan dan konsumen semakin mahal.
Kondisi itu dinilai dapat menekan valuasi saham, terutama sektor teknologi dan perusahaan yang sangat bergantung pada pembiayaan utang.
Tekanan di pasar obligasi juga diperburuk memanasnya konflik Iran yang mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Investor kini khawatir bank sentral AS atau Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Chief Strategist Interactive Brokers Steve Sosnick menyebut kondisi pasar saat ini masih berada pada tahap “yellow alert” atau peringatan kuning dan belum masuk krisis besar.
Namun ia memperingatkan tekanan pasar bisa meningkat jika yield obligasi tenor 10 tahun bergerak menuju kisaran 4,65 persen hingga 4,70 persen dan tenor 30 tahun mendekati 5,5 persen.
Baca Juga: Kerugian Ekspor Curang Diklaim Prabowo Tembus Rp15.400 T
Analis BMO Capital Markets Ian Lyngen juga mengingatkan pasar saham global berpotensi mengalami koreksi lebih dalam apabila yield obligasi 30 tahun terus naik menuju 5,25 persen.
Menurut dia, pasar global kini sangat sensitif terhadap perkembangan inflasi, arah kebijakan suku bunga, dan situasi geopolitik sepanjang 2026.

[…] Baca Juga : Yield Obligasi Tertinggi Sejak 2007, Investor Diperingatkan Bahaya […]