Iran Klaim Kuasai Selat Hormuz, 26 Kapal Sudah Diizinkan Melintas
Pemerintah Iran mengklaim seluruh lalu lintas kapal di Selat Hormuz kini berada di bawah koordinasi langsung Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di tengah kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat terkait pembukaan jalur pelayaran energi global tersebut.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita afiliasi pemerintah Iran, ISNA, Rabu (21/5/2026), IRGC menyebut sebanyak 26 kapal telah melintas melalui Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir dengan izin resmi dari angkatan laut mereka.
“Lalu lintas melalui Selat Hormuz dilakukan dengan izin dan dalam koordinasi dengan Angkatan Laut IRGC,” demikian pernyataan IRGC, dikutip Al Jazeera.
Pernyataan itu menandai semakin ketatnya pengawasan Iran terhadap Selat Hormuz, jalur laut strategis yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima perdagangan energi dunia sebelum pecahnya konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Baca Juga: IPO Rp1.325 T Diajukan SpaceX, Berpotensi Pecahkan Rekor
Zona Pengawasan Iran Meluas
Tak lama setelah pengumuman IRGC, Otoritas Selat Teluk Persia Iran atau Persian Gulf Strait Authority (PGSA) turut merilis peta baru wilayah pengawasan Selat Hormuz melalui akun resmi mereka di platform X.
Dalam peta tersebut, Iran menandai sejumlah zona maritim yang disebut tidak dapat dilintasi tanpa otorisasi resmi dari otoritas Iran.
PGSA menjelaskan area pengawasan itu membentang dari Kuh-e Mubarak di Iran hingga wilayah selatan Fujairah di Uni Emirat Arab pada sisi timur selat.
Sementara di sisi barat, area pengawasan disebut meluas dari Pulau Qeshm hingga wilayah Umm al-Quwain.
Langkah tersebut dinilai menjadi perubahan besar dalam pengelolaan salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia yang selama puluhan tahun beroperasi tanpa kendali langsung satu negara.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan masih terdapat “kemajuan” dalam pembicaraan dengan Iran terkait penyelesaian konflik.
Namun, Trump juga kembali mengancam akan melanjutkan aksi militer apabila Teheran tidak menyepakati perjanjian damai.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut memberikan sinyal keras dengan memperingatkan bahwa perang berikutnya akan membawa dampak yang lebih besar.
“Kembalinya perang akan menghadirkan jauh lebih banyak kejutan,” ujar Araghchi.
IRGC bahkan menegaskan konflik selanjutnya tidak lagi terbatas di kawasan Timur Tengah apabila Iran kembali diserang.
Sejumlah analis menilai baik Washington maupun Teheran kini sama-sama meyakini tekanan ekonomi berkepanjangan akan memperkuat posisi tawar masing-masing pihak.
Baca Juga: Kabel Internet Dunia di Selat Hormuz Kena Ancam Iran
Peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), Will Todman, menilai kedua negara tampak percaya lawan mereka akan lebih dulu mengalami tekanan ekonomi apabila situasi berlarut-larut.
“Saya pikir sangat sulit melihat sesuatu yang benar-benar dapat mengubah perhitungan mereka secara mendasar, karena kedua pihak tampaknya percaya bahwa semakin lama situasi ini berlangsung, semakin besar pula daya tawar mereka karena lawan mereka akan semakin menderita secara ekonomi,” kata Todman kepada Al Jazeera.

[…] Baca Juga: Selat Hormuz Diklaim Dikuasai Iran, 26 Kapal Diizinkan Melintas […]