12 Negara Ajukan Utang ke IMF, Purbaya Sebut Indonesia Tidak Perlu!
Lonjakan harga energi serta gangguan distribusi akibat konflik di kawasan Timur Tengah dinilai memperdalam tekanan ekonomi global, terutama bagi negara berkembang. Dampak tersebut mendorong meningkatnya kebutuhan dukungan finansial internasional untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik masing-masing negara.
Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkapkan bahwa setidaknya 12 negara, yang saat ini sedang bersiap mengajukan pinjaman baru sebagai langkah antisipasi menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyampaikan bahwa permintaan bantuan keuangan diperkirakan meningkat tajam dalam waktu dekat. Ia memperkirakan total kebutuhan pendanaan tambahan dapat mencapai antara US$20 miliar hingga US$50 miliar, atau setara Rp340 triliun hingga Rp850 triliun (kurs Rp17.000/US$).
Baca Juga : Jalankan Misi Besar dari Prabowo, Danantara-Kementan Kolaborasi!
“Gangguan akibat perang dapat memicu permintaan dukungan keuangan baru dalam jumlah besar, baik dalam bentuk pinjaman baru maupun tambahan dari program yang sudah berjalan,” ujar Georgieva dalam konferensi pers di sela Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia di Washington, seperti dikutip Reuters, Kamis (16/4/2026).
Ia menambahkan bahwa sejumlah negara di kawasan Afrika sub-Sahara, telah mulai menjajaki kemungkinan memperoleh bantuan keuangan. Namun, hingga kini IMF belum membahas rencana penambahan program pinjaman bagi Mesir, yang saat ini memiliki fasilitas pembiayaan senilai US$8 miliar atau sekitar Rp136 triliun.
Indonesia Klaim Masih Punya Ruang Fiskal yang Kuat
Di tengah meningkatnya tekanan global, pemerintah Indonesia menyatakan masih memiliki kapasitas fiskal yang cukup untuk menghadapi dampak ketidakpastian ekonomi dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, setelah melakukan pertemuan dengan Managing Director IMF, Kristalina Georgieva, dalam rangkaian agenda IMF Spring Meetings 2026 di Washington DC, Amerika Serikat.
“Tentu saja Indonesia tidak membutuhkan karena negara kita cukup baik, dan kita masih punya batas yang cukup besar, yaitu Rp420 T yang saya bilang sebelumnya,” ujarnya.
Menurutnya, IMF sempat menanyakan faktor yang membuat Indonesia tetap stabil di tengah situasi global yang penuh tantangan. Purbaya menjelaskan, bahwa ketahanan tersebut merupakan hasil dari penyesuaian kebijakan ekonomi yang telah dilakukan pemerintah sejak tahun sebelumnya.
Baca Juga : Pemerintah Evaluasi Harga BBM Non-Subsidi, Naik apa Turun?
Reformasi kebijakan tersebut dinilai meningkatkan kesiapan ekonomi nasional dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal, termasuk dampak dari kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik.
“Kenapa kita bisa bertahan di tengah keadaan global yang seperti ini. Tapi saya jelaskan bahwa memang kita sudah merubah kebijakan sejak tahun lalu, dan tampaknya sudah jelas. Jadi kita sedang mengalami percepatan ketika shock dari ketidakpastian global, dari harga minyak yang tinggi. Sehingga kita bisa menyerap shock yang terjadi,” ujarnya.

Mantul