Purbaya Yakin Investor Kembali Meski Rupiah Rp18.000
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang telah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.
Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap situasi ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, ia menilai saat ini terdapat sentimen positif yang dapat meningkatkan kepercayaan pasar, yakni keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings yang kembali mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil.
Baca Juga: Disetujui Prabowo, Solar Nelayan Kapal 30-200 GT Turun Jadi Rp15 Ribu/Liter
Keputusan yang diumumkan pada Senin (13/7/2026) itu menegaskan bahwa Indonesia masih berada dalam kategori layak investasi (investment grade) di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dengan adanya penilaian tersebut, Purbaya meyakini investor akan kembali menanamkan modalnya di Indonesia secara bertahap.
“Saya belum ngomong kali bahwa ini berita yang bagus. Jadi begitu ini keluar, viewnya clear bahwa fondasi ekonomi kita bagus. Investor akan balik ke sini secara bertahap,” papar Purbaya kepada pewarta di DPR, Selasa (14/7/2026).
Ia mengatakan bahwa investor yang memahami kondisi ekonomi akan melihat peluang tersebut lebih cepat.
Menurut dia, penilaian dari S&P menjadi bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan pengelolaan fiskal pemerintah berjalan sesuai jalur.
“Tapi kalau yang pintar sih akan masuk cepat. Ini menunjukkan bahwa tadi yang diragukan banyak orang bahwa kita tidak bisa mengimplementasikan kebijakan fiskal dengan baik. Itu salah,” kata dia.
Purbaya juga membantah anggapan bahwa kebijakan fiskal pemerintah dijalankan tanpa perencanaan yang matang. Purbaya menegaskan Kementerian Keuangan secara rutin melakukan pembahasan terkait arah kebijakan ekonomi dan fiskal nasional.
Baca Juga: 15 Daerah Ditetapkan Pemerintah untuk Optimalkan Bonus Demografi
Menurut dia, diskusi mengenai kondisi ekonomi dan fiskal juga dilakukan secara berkala bersama Presiden untuk memastikan setiap kebijakan tetap berada dalam koridor yang telah direncanakan.
“Dengan Bapak Presiden juga mungkin seminggu dua minggu sekali diskusi ekonomi dan kebijakan fiskalnya. Jadi gak ada itu. Orang kan kesannya seolah-olah kebijakannya liar. Gak ada itu,” lanjut dia.
Purbaya menambahkan, pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi secara detail dan melakukan evaluasi secara rutin guna menjaga stabilitas fiskal dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita diskusikan terus secara regular. Bapak Presiden meminta terus kondisi fisikal dan ekonomi secara berkala dan cukup detail,” pungkas dia.
