Trump Klaim Putra Khamenei Nyaris Tewas di Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang disebut menjadi penerusnya, berada dalam kondisi kritis setelah serangan militer yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (13/7/2026).
Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa kemampuan militer Iran telah mengalami kerusakan besar akibat operasi gabungan yang dilakukan Washington dan Tel Aviv.
“Mereka tidak punya angkatan laut. Mereka tidak punya angkatan udara. Semuanya sudah hilang. Sistem pertahanan udara mereka hilang. Para pemimpin mereka semuanya telah terbunuh,” ungkap Trump, dilansir dari Anadolu.
Ia juga mengklaim sejumlah komandan militer utama Iran telah tewas dalam konflik tersebut.
“Pemimpin terbaik mereka telah terbunuh. Mereka sudah tidak ada. Khomeini sudah tidak ada,” ujar Trump.
Meski menyebut nama Ayatollah Ruhollah Khomeini yang wafat pada 1989, pernyataan Trump dinilai merujuk kepada Ali Khamenei yang sebelumnya dilaporkan meninggal dunia pada hari pertama serangan AS-Israel.
Trump kemudian menambahkan, “Anak (Ali Khamenei) 90 persen sudah tiada.”
Baca Juga: Diyakini Purbaya, Rating BI Bakal Naik, Sinyal Positif Muncul
Mojtaba Khamenei Tak Muncul di Publik
Diketahui, Mojtaba Khamenei belum terlihat di hadapan publik sejak serangan udara pada 28 Februari. Sejumlah laporan menyebut ia mengalami luka dalam serangan yang juga menewaskan ayahnya.
Ketidakhadirannya semakin menjadi perhatian setelah Mojtaba tidak menghadiri prosesi pemakaman Ali Khamenei yang digelar bulan ini di Iran maupun Irak.
Absennya Mojtaba memicu berbagai spekulasi terkait kondisi kesehatan dan keberadaannya. Beberapa laporan sebelumnya menyebutkan ia tengah menjalani pemulihan akibat cedera yang dialami dalam serangan tersebut.
Konflik AS-Iran Kembali Memanas
Sementara itu. pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Setelah berakhirnya gencatan senjata yang berlangsung beberapa bulan, kedua negara kembali terlibat aksi saling serang pada akhir pekan lalu.
Trump juga telah mengirim pemberitahuan resmi kepada Kongres AS mengenai dimulainya kembali operasi militer terhadap Iran melalui sejumlah gelombang serangan yang menyasar target-target strategis.
Selain itu, ia menyatakan Washington kembali memberlakukan blokade terhadap Iran.
Trump juga mengatakan kapal yang melintasi Selat Hormuz akan dikenai biaya sebagai imbalan atas jaminan keamanan pelayaran yang diberikan AS.
Baca Juga: Dipastikan Bahlil, Solar Nelayan Rp15.000 Tak Bebani APBN
Di sisi lain, Iran merespons dengan melancarkan serangan yang menargetkan Bahrain serta dua kapal tanker yang terkait dengan Uni Emirat Arab di Selat Hormuz.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan seorang pelaut keturunan India dan menyebabkan delapan orang lainnya mengalami luka-luka.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi rute utama bagi sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam global pada masa normal.
