Rusia Murka usai AS Serang Iran, Lavrov Buka Suara
Rusia mengecam keras serangan terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menilai aksi militer Washington telah menggagalkan peluang penyelesaian sengketa terkait program nuklir Teheran melalui jalur diplomasi.
Menurut Lavrov, operasi militer AS juga bertentangan dengan memorandum yang sebelumnya ditandatangani Iran dan pemerintahan Presiden Donald Trump pada bulan lalu. Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Chad, Abdoulaye Sabre Fadoul, di Moskow.
“Yang paling penting adalah ini tidak mengarah pada penyelesaian. Ini menutup pintu yang, tampaknya, telah dibuka oleh memorandum tersebut,” katanya, dikutip dari Middle East Monitor (MEMO), pada Rabu (15/7/2026).
Baca Juga : Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Pasokan Minyak Terancam!
Lavrov menegaskan Rusia memandang tindakan militer tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang sebelumnya diharapkan menjadi jalan menuju deeskalasi konflik.
“Kami melihat ini sebagai pelanggaran terhadap memorandum. Ini sangat disesalkan karena infrastruktur sipil di Iran dan fasilitas sipil di negara-negara Teluk menderita. Ini tidak membawa ke arah yang baik,” tambahnya.
Konflik Iran-AS Kembali Memanas
Pernyataan Rusia muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. Kedua negara kembali terlibat aksi saling serang meski sebelumnya telah tercapai kesepakatan damai yang dimediasi Pakistan pada Juni lalu.
Mengutip Al Jazeera, militer AS mengkonfirmasi telah melancarkan gelombang serangan lanjutan yang menyasar puluhan target militer di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup selama Amerika Serikat masih melanjutkan operasi militernya.
IRGC juga memperingatkan kemungkinan serangan terhadap jalur ekspor minyak dan gas yang melayani kepentingan AS maupun sekutunya apabila konflik terus berlanjut.
IRGC Klaim Serang Fasilitas Militer AS
Dalam pernyataannya, IRGC mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Target yang disebutkan antara lain pusat komando Armada Kelima AS, fasilitas pendukung militer, dan tangki bahan bakar di Bahrain. Selain itu, Iran juga mengklaim menyerang pusat logistik militer AS di Mina Abdullah, Kuwait.
Sementara itu, militer Yordania melaporkan berhasil mencegat dan menghancurkan tiga rudal balistik Iran yang memasuki wilayah udaranya pada Rabu pagi.
Harga Minyak Naik, Sanksi Baru Dijatuhkan
Eskalasi konflik turut memicu kenaikan harga minyak dunia. Pasar merespons kebijakan Presiden Donald Trump yang kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran serta serangan balasan yang dilakukan Teheran terhadap pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga : Trump Pilih Investasi Teluk, Batalkan Tarif di Hormuz
Di saat yang sama, Departemen Keuangan AS mengumumkan pembekuan aset senilai lebih dari US$130 juta atau sekitar Rp2,35 triliun. Langkah tersebut dilakukan melalui pemberian sanksi terhadap sejumlah dompet mata uang kripto yang disebut memiliki keterkaitan dengan Bank Sentral Iran.
Rusia menilai runtuhnya kesepakatan damai yang sempat dicapai pada Juni lalu merupakan perkembangan yang sangat disayangkan karena berdampak langsung terhadap stabilitas kawasan serta keamanan fasilitas sipil.
