AS Blokade Iran, Teheran Ancam Pasokan Energi Dunia
Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran setelah menuduh Teheran menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Kebijakan yang diambil Presiden AS Donald Trump itu memicu respons keras dari Iran.
Teheran pun memperingatkan bahwa pasokan energi dari Timur Tengah bisa terganggu jika tekanan dari Washington terus berlanjut.
Langkah tersebut juga menandai berakhirnya masa jeda dalam negosiasi sementara terkait program nuklir Iran.
Sebelumnya, kedua negara sempat menyepakati periode perundingan selama 60 hari.
Namun, kesepakatan itu kini terancam gagal setelah ketegangan dan bentrokan di Selat Hormuz kembali meningkat.
Baca Juga: Pembangkit Listrik dan Pembatas Iran Terancam Disasar Trump
Iran Ancam Ganggu Pasokan Energi
Menanggapi blokade yang diberlakukan AS, Garda Revolusi Iran mengeluarkan pernyataan tegas yang berpotensi mengguncang pasar energi global.
“Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan menjadi milik semua orang atau bukan milik siapapun,” tegas Garda Revolusi Iran, dilansir dari The Associated Press, Rabu (15/7/2026).
Pernyataan tersebut mengisyaratkan kemungkinan gangguan terhadap aliran minyak dan gas dari Timur Tengah, wilayah yang selama ini menjadi pemasok energi penting bagi dunia.
Di tengah meningkatnya ketegangan, juru bicara Kementerian Kesehatan Iran Hossein Kermanpour mengatakan serangan udara AS yang terjadi semalam menyebabkan lebih dari 260 orang terluka.
Ia tidak merinci jumlah korban tewas, tetapi menyebut dampak serangan kali ini lebih besar dibanding bentrokan sebelumnya di sekitar Selat Hormuz.
Sementara itu, militer AS melancarkan serangan baru ke sejumlah target di Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut berlangsung sekitar tujuh jam dan menghantam puluhan sasaran.
Laksamana Brad Cooper mengatakan Iran telah menembakkan puluhan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk.
“Pasukan AS meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi yang tidak beralasan yang terus membahayakan nyawa orang tak berdosa,” kata Cooper.
Ketegangan juga meluas ke negara-negara sekitar. Bahrain dan Kuwait mengeluarkan peringatan siaga rudal. Yordania mengklaim berhasil mencegat tiga rudal Iran, sementara Teheran mengakui bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Di kawasan itu, sedikitnya 19 kapal perang AS masih disiagakan. Armada tersebut mencakup dua kapal induk dan satu kapal serbu amfibi yang membawa lebih dari 1.000 marinir.
Baca Juga: Konflik Memanas, Iran-AS Baku Tembak di Selat Hormuz
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, menuding AS sebagai pihak yang memicu konflik.
“AS adalah agresor, bukan korban,” tulis Iravani dalam surat kepada pimpinan PBB yang dikutip kantor berita Iran, IRNA.
Sebelumnya, Trump sempat mengusulkan pungutan sebesar 20 persen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Namun, rencana itu dibatalkan setelah para pemimpin negara Teluk menawarkan peningkatan investasi ke AS.
Ketidakpastian di Timur Tengah langsung mempengaruhi pasar energi global. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 87 dollar AS per barel.
Namun, harga kemudian turun ke 78 dollar AS per barel setelah rencana pungutan kapal dibatalkan.
Meski situasi masih memanas, para mediator regional terus berupaya membawa AS dan Iran kembali ke meja perundingan untuk mencegah krisis energi global yang lebih besar.
