Iran Ancam Setop Ekspor Minyak Kawasan jika Diblokade AS
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa tidak ada negara di kawasan yang dapat menjual minyak jika Iran dicegah mengekspor komoditas tersebut.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
“Dalam sebuah kawasan di mana kami tidak bisa menjual minyak, tidak seorang pun akan menjual minyak,” kata Ghalibaf dalam unggahan di platform X, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga: Indonesia Masuk Daftar, AS Siapkan Tarif Baru
Ghalibaf juga menegaskan bahwa keamanan kawasan tidak akan terjamin apabila keamanan Iran turut terancam.
Iran Singgung Kehadiran Militer AS
Menurut Ghalibaf, stabilitas di Selat Hormuz hanya dapat terwujud apabila tidak ada kehadiran militer Amerika Serikat (AS) di kawasan tersebut.
Ia menegaskan Iran telah berulang kali menyampaikan bahwa kondisi di Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang.
Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan membombardir jembatan atau pembangkit listrik di Iran setiap kali Teheran menyerang kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
Iran Klaim Pelayaran Komersial Tetap Aman
Di sisi lain, Iran memastikan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz tetap aman selama kapal-kapal mematuhi pengaturan maritim yang ditetapkan Teheran.
Pemerintah Iran menyebut kapal dagang yang berkoordinasi dengan otoritas setempat tetap dapat melintasi jalur tersebut dengan aman.
Baca Juga: Program Nuklir Sipil Arab Saudi 30 Tahun Disetujui Trump
Meski demikian, Iran menegaskan akan terus mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan jangka panjang.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak yang diangkut melalui laut melintasi kawasan tersebut.
Wilayah itu kembali menjadi pusat perhatian sejak pecahnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat pada Februari.
Ketegangan semakin meningkat setelah kedua negara berselisih terkait keamanan dan navigasi di perairan strategis tersebut.
