Laporan Intelijen AS Soroti Dampak Serangan ke Iran
Sebuah laporan intelijen Amerika Serikat (AS) disebut menilai operasi militer Washington terhadap Iran belum mencapai tujuan strategis yang diharapkan.
Penilaian tersebut menjadi sorotan karena dinilai bertolak belakang dengan narasi yang selama ini disampaikan pemerintah AS.
Berdasarkan laporan The Washington Post, dokumen yang sebagian besar disusun oleh CIA itu menyebut Iran masih bertahan dalam sikapnya terkait sanksi, hak kedaulatan, dan keamanan di Selat Hormuz.
Kesimpulan tersebut muncul setelah AS melanjutkan serangan udara terhadap Iran selama beberapa hari.
Laporan itu juga terbit ketika operasi militer AS memasuki malam ke-11 setelah Presiden Donald Trump menyatakan berakhirnya gencatan senjata secara sepihak.
Berikut sejumlah indikator yang disebut dalam laporan tersebut.
Baca Juga: Iran Ancam Setop Ekspor Minyak Kawasan Kalau Diblokade AS
Empat Indikator yang Disoroti Laporan Intelijen AS
1. Konflik Berpotensi Meluas ke Kawasan
Laporan tersebut menyebut konflik mulai meluas ke tingkat regional. Serangan terhadap Iran dilaporkan menyebabkan korban jiwa, termasuk warga sipil.
Di sisi lain, tiga personel militer AS dilaporkan tewas akibat serangan balasan Iran pada akhir pekan lalu.
Pasukan AS juga disebut menargetkan ratusan lokasi di Iran, termasuk infrastruktur seperti jembatan, jalur kereta api, dan fasilitas pembangkit listrik.
Selain itu, Yaman dilaporkan menutup Selat Bab el-Mandeb di pintu masuk Laut Merah. Langkah tersebut dinilai meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur pelayaran internasional.
2. Cadangan Minyak AS Menurun
Mengutip Press TV, laporan menyebut penutupan Selat Hormuz telah mendorong cadangan minyak mentah strategis AS ke level terendah sejak 1983.
Di saat yang sama, harga rata-rata bensin di AS dilaporkan meningkat hingga melampaui 4 dollar AS per galon.
Laporan juga menyebut Presiden Donald Trump kembali mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran. Ancaman itu disampaikan dalam pertemuan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Dalam beberapa hari terakhir, pasukan AS kembali melancarkan serangan di sejumlah provinsi Iran, seperti Ilam, Hamadan, Hormozgan, Sistan dan Baluchestan, Azerbaijan Timur, serta Khuzestan.
Menurut laporan pemerintah Iran, sebagian besar serangan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, aparat setempat tetap melakukan penilaian terhadap dampak serangan dan menyiagakan layanan darurat.
3. Iran Terus Melakukan Serangan Balasan
Laporan intelijen juga menyebut Iran masih mampu melancarkan serangan balasan terhadap aset militer AS di Yordania dan sejumlah negara di kawasan Teluk Persia.
Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan korban di pihak militer AS, terutama di Yordania.
Dokumen CIA juga mengungkap adanya “dilema” yang dihadapi Presiden Trump terkait kelanjutan operasi militer AS dan Israel terhadap Iran.
Baca Juga: Diselidiki AS, soal Dugaan Rusia Bantu Serangan Drone Iran
4. Serangan Dinilai Belum Melemahkan Iran
Laporan menyebut serangan udara AS belum memberikan dampak signifikan terhadap kemampuan militer Iran.
Mantan Wakil Direktur Intelijen Nasional AS Jonathan Panikoff turut mempertanyakan strategi pemerintahan Trump.
“Pemerintahan Trump tampaknya percaya bahwa jika mereka terus menyerang Iran lebih keras secara militer, Teheran pada akhirnya akan menjadi lebih fleksibel. Penilaian itu hampir pasti salah,” kata Panikoff kepada The Washington Post.
Laporan tersebut juga menyebut Iran “kemungkinan besar tidak akan merasakan dampak signifikan” meski menghadapi serangan udara berskala besar.
Sementara itu, penilaian intelijen AS pada April yang dikutip CNN menyebut Teheran masih memiliki kemampuan peluncuran rudal yang besar.
Salah satu sumber bahkan menyatakan pasukan Iran “masih sangat siap untuk menimbulkan kekacauan besar di seluruh wilayah.”
