Perang AS-Iran Memanas, Minyak Tembus US$100 per Barel
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan terbaru ke Iran. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman baru terhadap kelompok Houthi di Yaman, sementara harga minyak dunia melonjak hingga menembus level psikologis US$100 per barel.
Berikut rangkuman perkembangan terbaru konflik AS-Iran pada Jumat (24/7/2026) yang dilansir CNBC Indonesia.
Gelombang Serangan ke-13 AS Hantam Iran
Militer AS kembali menggempur sejumlah target di Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut merupakan gelombang serangan ke-13 secara berturut-turut.
“Ini adalah malam ke-13 berturut-turut serangan yang bertujuan untuk meminta pertanggungjawaban Iran dan mengurangi ancaman dari Korps Garda Revolusi Islam terhadap pelayaran komersial,” tulis CENTCOM.
Baca Juga : Juara Piala Dunia 2026 Terancam Pajak Rp 268M
Serangan berlangsung setelah Trump mengindikasikan belum bersedia membuka kembali perundingan gencatan senjata dengan Teheran. Menurutnya, tekanan militer masih perlu dilanjutkan.
“Mereka membutuhkan lebih banyak hal yang sama,” kata Trump merujuk pada operasi udara yang terus berlangsung.
Ledakan Terdengar di Iran
Media Iran melaporkan sejumlah ledakan terjadi di beberapa wilayah.
Kantor berita Fars menyebut suara ledakan terdengar di Ahvaz, ibu kota Provinsi Khuzestan. Sementara itu, Tasnim melaporkan dua ledakan di sekitar Desa Mosan, Pulau Qeshm, yang berada dekat Selat Hormuz.
Tasnim menduga ledakan tersebut dipicu serangan rudal AS, meski hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai penyebab insiden tersebut.
Trump Ancam Iran Bayar Kerusakan Kapal
Trump juga menegaskan Iran harus bertanggung jawab atas seluruh kerusakan terhadap kapal maupun muatan yang melintas di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang sejumlah kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah.
“Kerusakan ini mungkin sangat besar, namun demikian, ini adalah hal yang adil dan wajar untuk dilakukan,” tulis Trump melalui Truth Social.
Harga Minyak Tembus US$100 per Barel
Meningkatnya eskalasi perang mendorong lonjakan tajam harga minyak dunia. Minyak Brent ditutup naik sekitar 7% ke level US$100,69 per barel, menjadi harga penutupan tertinggi sejak 22 Mei.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 6,17% ke US$92,19 per barel, tertinggi sejak awal Juni.
Kenaikan dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi akibat meningkatnya risiko di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb.
Wall Street Tertekan, Imbal Hasil Obligasi Naik
Lonjakan harga minyak turut mengguncang pasar keuangan global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak Januari 2025.
Di sisi lain, bursa saham Wall Street ditutup melemah dengan Dow Jones turun lebih dari 550 poin, S&P 500 melemah 1,4%, dan Nasdaq Composite merosot sekitar 2,5%.
Trump Belum Mau Bahas Gencatan Senjata
Trump kembali menegaskan bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk membuka negosiasi damai dengan Iran.
“Kami melakukannya dengan sangat baik melawan Partai Republik Islam Iran, kami melakukannya dengan sangat baik.”
“Mereka ingin melakukan sesuatu, tapi menurut saya mereka belum siap. Mereka membutuhkan lebih banyak hal yang sama.”
Trump juga kembali menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
Intelijen AS Selidiki Dugaan Peran Rusia
Pemerintah AS tengah menyelidiki kemungkinan keterlibatan Rusia dalam membantu Iran melancarkan serangan drone terhadap fasilitas rahasia CIA di kawasan Teluk.
Kecurigaan muncul karena tingkat akurasi serangan drone Iran dinilai meningkat signifikan.
Analis Sciences Po, Nicole Grajewski, menilai dugaan tersebut cukup masuk akal mengingat Iran tidak memiliki kemampuan satelit setara Rusia.
Meski demikian, Moskow membantah tuduhan telah memberikan bantuan teknologi maupun sistem anti-jamming kepada Teheran.
Baca Juga : AS dan Arab Saudi Sepakati Kerja Sama Nuklir
Inggris Siaga Penuh Usai Ancaman Iran
Pemerintah Inggris menyatakan seluruh angkatan bersenjatanya berada dalam kondisi siaga penuh setelah Iran mengancam akan menyerang pangkalan RAF Fairford.
Ancaman muncul setelah laporan menyebut pesawat pengebom B-1 milik AS lepas landas dari pangkalan tersebut untuk melaksanakan misi menyerang target di Iran.
“Angkatan Bersenjata kami siap menjaga keamanan Inggris dari segala jenis serangan, baik yang berasal dari dalam negeri kami atau dari luar negeri. Inggris siap 24/7 untuk mempertahankan diri,” kata juru bicara pemerintah Inggris.
Iran menyatakan setiap pangkalan yang digunakan untuk menyerang wilayahnya akan dianggap sebagai target yang sah. Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian apakah Teheran memiliki kemampuan melakukan serangan presisi terhadap pangkalan RAF Fairford yang berjarak sekitar 2.800 mil dari ibu kota Iran.
