Perdagangan Minyak Iran ke China Tetap Berjalan di Tengah Blokade
Perdagangan minyak mentah Iran ke China dilaporkan masih terus berlangsung meski Amerika Serikat (AS) kembali memperketat blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Salah satu jalur yang menjadi perhatian berada di kawasan Outer Port Limits (EOPL) Malaysia di Laut China Selatan, yang lokasinya berdekatan dengan wilayah Indonesia.
Mengutip laporan Al Jazeera, Kamis (30/7/2026), kapal tanker minyak Iran Humanity diketahui mematikan sistem identifikasi otomatis (Automatic Identification System/AIS) saat melintasi kawasan EOPL Malaysia pada Sabtu pekan lalu (25/7/2026).
Langkah tersebut diduga dilakukan untuk mempersiapkan proses transfer minyak mentah antar-kapal (ship-to-ship transfer) sebelum dikirim ke China melalui pihak perantara.
Baca Juga: Proyek Kereta Api RI Diincar 15 Perusahaan Inggris, Ada Apa?
Aktivitas perdagangan di kawasan perairan seluas sekitar 1.200 kilometer persegi itu disebut tetap padat, meski konflik antara AS-Israel dan Iran telah berlangsung selama lima bulan serta blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran kembali diberlakukan sejak 14 Juli.
Direktur Proyek Pemantauan Keamanan Maritim SeaLight Stanford University Ray Powell mengatakan data satelit menunjukkan banyak kapal memanfaatkan identitas palsu atau menonaktifkan sistem pelacakan.
“Data satelit mencatat sejak awal tahun ini terdapat 62 kapal yang memancarkan identitas palsu atau tidak aktif saat bergerak di antara Teluk, EOPL, Hong Kong, hingga ke China utara. Kapal-kapal ini menjadi bagian dari jaringan perantara yang memfasilitasi penjualan minyak Iran ke kilang independen di China,” terang Ray Powell.
Minyak Iran tersebut terutama dibeli oleh kilang-kilang independen di China atau yang dikenal sebagai kilang teapot.
Berbeda dengan perusahaan energi besar milik negara seperti CNPC, Sinopec, dan CNOOC, kilang-kilang ini dinilai lebih berani mengambil risiko sanksi karena tidak terlalu bergantung pada sistem keuangan AS.
EOPL Malaysia Jadi Titik Strategis, Pembayaran Gunakan Yuan
Kawasan EOPL Malaysia selama ini dikenal sebagai lokasi yang kerap dimanfaatkan untuk aktivitas transfer minyak karena memiliki perairan yang tenang dan berada sekitar 70 kilometer dari pantai.
Meski berada di luar laut teritorial Malaysia, kawasan tersebut masih termasuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), sehingga pengawasannya dinilai cukup kompleks.
Pakar keamanan maritim dari YCAPS Charlie Brown menyebut aktivitas kapal di kawasan itu tetap berlangsung meski sanksi internasional terhadap Iran diperketat.
“Sebelum perang hingga di seluruh fase konflik saat ini, kapal-kapal di luar sana tetap berlabuh dan melangsungkan berbagai operasi transfer antar-kapal. Sanksi tidak pernah menghentikan perdagangan ini, satu-satunya hal yang secara fisik menghentikan aliran minyak adalah blokade militer,” jelas Charlie Brown.
Malaysia sendiri telah mengubah Undang-Undang ZEE pada Juni lalu untuk memperketat penindakan terhadap aktivitas lego jangkar ilegal, pengisian bahan bakar (bunkering), maupun transfer kargo tanpa izin.
Namun, data satelit pada Kamis masih menunjukkan sedikitnya 18 kapal tanker berbendera Iran serta sekitar 50 kapal yang dikenai sanksi AS dan Uni Eropa tetap beroperasi di kawasan tersebut.
Di sisi lain, transaksi minyak Iran ke China disebut difasilitasi melalui Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) milik China yang memungkinkan pembayaran menggunakan mata uang yuan di luar jaringan SWIFT yang diawasi AS.
Baca Juga: Obligasi Perang Dikaji Inggris, Itu Apa dan Bagaimana Risikonya?
Peneliti Senior Center on Global Energy Policy Columbia University Erica Downs mengatakan data perdagangan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara ekspor Iran dan catatan impor resmi China.
“Tahun lalu Iran mengekspor sekitar 1,4 juta barel per hari ke China, namun bea cukai China tidak melaporkan impor minyak dari Iran. Pada saat yang sama, data melaporkan impor China dari Malaysia melonjak jauh melebihi kapasitas produksi minyak Malaysia sendiri,” ungkap Erica Downs.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pembelian minyak mentah Iran oleh kilang-kilang China telah turun sekitar 40 persen sejak perang pecah.
Meski demikian, keberadaan jaringan perdagangan di kawasan EOPL Malaysia dinilai masih mampu menjaga sebagian ekspor minyak Iran tetap mengalir ke pasar internasional.

[…] Perdagangan Minyak Iran ke China Tetap Berjalan di Tengah Blokade […]
[…] Perdagangan Minyak Iran ke China Tetap Berjalan di Tengah Blokade […]