Trump Pertimbangkan Serangan Udara 14 Hari ke Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi melancarkan serangan udara intensif selama 10 hingga 14 hari terhadap Iran.
Rencana tersebut disusun setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke pasukan AS di Yordania pada Selasa (28/7/2026).
Mengutip laporan The Wall Street Journal, Rabu (29/7/2026), operasi militer itu disiapkan oleh Komandan Komando Pusat AS (Centcom), Laksamana Brad Cooper.
Targetnya adalah melemahkan kemampuan rudal Iran melalui serangan udara dalam skala besar.
Baca Juga: Rp20 Miliar Disiapkan Prabowo untuk Kota Terbersih dan Berani
Seorang pejabat senior AS mengatakan Trump saat ini cenderung mempertimbangkan langkah yang lebih agresif.
Meski begitu, Presiden AS tersebut masih mengevaluasi sejauh mana respons militer yang akan diambil.
Trump juga telah memberi sinyal mengenai kemungkinan peningkatan operasi militer.
“Kami akan menghancurkan mereka habis-habisan. Kami akan memukul mereka dengan keras,” kata Trump kepada Fox News.
Meski menyampaikan ancaman tersebut, Trump menegaskan jalur diplomasi masih tetap terbuka.
“Kami akan memebiarkan mereka terus berbicara,” lanjutnya.
Perbedaan Pandangan di Internal Militer AS
Di balik penyusunan rencana operasi, muncul perbedaan pandangan di kalangan petinggi militer AS.
Laksamana Brad Cooper disebut mendorong serangan udara berskala besar. Menurut sejumlah sumber, Cooper menilai serangan balasan terbatas selama ini belum mampu menghentikan ancaman Iran terhadap pelayaran di Selat Hormuz maupun serangan rudal ke pasukan AS.
Ia meyakini operasi udara yang lebih intensif dapat menghancurkan basis rudal Iran dalam jumlah besar.
Dengan begitu, kebutuhan rudal pertahanan AS dalam jangka panjang dinilai dapat berkurang karena kemampuan balasan Iran melemah.
Di sisi lain, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengambil sikap lebih berhati-hati.
Baca Juga: Perdagangan Minyak Iran ke China Tetap Berjalan di Tengah Blokade
Ia mengingatkan Gedung Putih mengenai risiko eskalasi, termasuk menipisnya stok rudal pencegat yang juga dibutuhkan untuk menghadapi potensi ancaman dari China, Rusia, dan Korea Utara.
Meski demikian, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dilaporkan mendukung rencana kampanye udara yang disusun Cooper.
Kementerian Pertahanan AS juga menegaskan seluruh pimpinan militer tetap berada dalam satu komando.
Sebagai respons atas serangan Iran pada Selasa lalu, Centcom telah menyerang puluhan target yang dikaitkan dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Rabu malam. Target tersebut meliputi pusat komando serta fasilitas rudal dan drone.
“Semua rudal Iran berhasil dicegat. Pasukan AS tetap waspada dan dalam tingkat kesiapan tinggi,” bunyi pernyataan resmi Centcom terkait serangan balik Iran tersebut.
Meski demikian, rencana memperpanjang operasi udara hingga dua pekan memicu kekhawatiran di Capitol Hill.
Sejumlah pihak menilai langkah tersebut berpotensi menyeret AS ke konflik yang lebih panjang. Para analis juga mempertanyakan efektivitas serangan udara semata karena Iran dinilai masih mampu memindahkan dan mengoperasikan kembali peluncur rudalnya dari fasilitas bawah tanah.
