Saudi Dilema Hadapi Iran, Visi 2030 Jadi Taruhan Besar
Arab Saudi kembali menghadapi situasi sulit di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Riyadh sebelumnya berusaha tidak terseret secara langsung sejak perang pecah pada 28 Februari.
Namun, serangkaian serangan drone dan rudal yang dikaitkan dengan kelompok-kelompok yang memiliki hubungan dengan Iran mulai mendorong kerajaan mengambil sikap yang lebih keras secara militer.
Mengutip BBC International, Kamis (30/7/2026), Arab Saudi pada pekan ini menjalankan operasi militer bersama AS terhadap milisi pro-Iran di Irak. Kelompok tersebut dituding berada di balik serangkaian serangan drone yang menyasar wilayah Saudi.
Baca Juga : Inggris Tengah Kaji Obligasi Perang, Untuk Apa?
Meski mengambil langkah militer, Riyadh tetap menghadapi pilihan sulit. Arab Saudi harus menentukan apakah akan terus melakukan serangan balasan untuk memberikan efek jera atau kembali menurunkan tensi demi mencegah konflik berkembang menjadi perang regional.
Situasi tersebut menjadi semakin rumit karena Saudi dalam beberapa tahun terakhir berusaha menjaga kawasan tetap stabil untuk mendukung agenda ekonomi besar yang dicanangkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS).
Melalui program Visi 2030, Riyadh berupaya mengurangi ketergantungan terhadap sektor minyak, meningkatkan investasi asing, serta mengembangkan industri dan infrastruktur modern.
Namun, target tersebut dapat terganggu jika serangan drone dan rudal terhadap wilayah Saudi terus berlangsung.
Dua Blok
Konflik yang berlangsung selama lima bulan terakhir memperlihatkan terbentuknya dua kubu yang saling berhadapan.
Di satu pihak ada Iran bersama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan sejumlah kelompok yang menjadi sekutunya. Mereka mencakup Houthi di Yaman, Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) di Irak, serta Hizbullah di Lebanon.
Sementara di kubu lain terdapat AS melalui Komando Pusat (Centcom), yang memperoleh dukungan dari sejumlah negara Teluk dan Yordania. Israel juga merupakan sekutu dekat Washington, meskipun saat ini tidak terlibat secara langsung dalam operasi tersebut.
Iran disebut turut meningkatkan tekanan dengan melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk, termasuk Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Teheran juga mengancam kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz di luar aturan yang mereka tetapkan. Keterlibatan milisi Irak dan Houthi semakin meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas menjadi perang kawasan.
Ancaman Bukan Hal Baru
Ancaman keamanan terhadap Arab Saudi sebenarnya bukan fenomena baru. Pada September 2019, fasilitas minyak strategis Abqaiq dan Khurais pernah menjadi sasaran serangan drone yang dikaitkan dengan kelompok proksi Iran.
Serangan tersebut sempat menyebabkan ekspor minyak Saudi turun sekitar setengahnya selama beberapa hari. Peristiwa itu sekaligus memperlihatkan kerentanan infrastruktur energi kerajaan terhadap serangan udara.
Kekhawatiran Riyadh kembali meningkat setelah citra satelit pada pekan ini memperlihatkan fasilitas minyak Abqaiq kembali diduga menjadi target serangan drone.
Pada saat bersamaan, Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS dan Israel. Kondisi tersebut membuat Arab Saudi mengalihkan sekitar lima juta barel minyak per hari melalui jaringan pipa timur-barat menuju terminal Yanbu di Laut Merah.
Pengalihan rute tersebut dilakukan agar pasokan minyak ke pasar Asia tetap dapat dipertahankan.
Baca Juga : Iran Borong 400 Rudal China, Siap Hadapi Perang AS?
Namun, jalur alternatif itu kini ikut menghadapi ancaman. Setelah Saudi menyerang Bandara Sanaa pada pertengahan Juli untuk mencegah pesawat Iran mendarat, Houthi melakukan serangan balasan terhadap Bandara Abha dan Jizan.
Kelompok tersebut juga meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal Saudi yang melintas di Laut Merah. Akibatnya, pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb menjadi semakin berisiko dan dapat mengganggu jalur ekspor minyak Saudi menuju Asia.
Situasi tersebut menjadi persoalan serius bagi Riyadh. Setelah selama tujuh tahun gagal menundukkan Houthi lewat operasi militer dan sempat mencapai gencatan senjata yang rapuh pada 2022, Saudi kini kembali menghadapi ancaman dari dua arah.
Ancaman tersebut datang dari Houthi di selatan dan milisi Irak di utara.
Tekanan keamanan ini berpotensi berbenturan dengan ambisi Visi 2030. Program tersebut membutuhkan kondisi kawasan yang stabil serta iklim investasi yang aman dan kondusif agar berbagai proyek transformasi ekonomi Arab Saudi dapat berjalan.
