China Tegaskan Garis Merah Ekonomi Jelang Negosiasi dengan AS
Pemerintah China menegaskan tetap mempertahankan kebijakan ekonomi yang berfokus pada penguatan sektor industri berteknologi tinggi, meski menghadapi tekanan dari Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE).
Sikap tersebut disampaikan menjelang agenda negosiasi perdagangan penting dengan kedua mitra dagangnya.
Menurut laporan Reuters, Presiden China Xi Jinping dijadwalkan menggelar beberapa pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump pada tahun ini. Sementara itu, Uni Eropa memberikan tenggat hingga Oktober 2026 bagi Beijing untuk menyelesaikan perselisihan terkait surplus perdagangan China yang telah melampaui 1 triliun dollar AS.
Baca Juga: Untuk Bongkar Jaringan Drone Iran, AS Tawarkan Rp270 Miliar
Negara-negara Barat menilai model ekonomi China terlalu berorientasi pada manufaktur dan kurang mendorong konsumsi domestik. Kebijakan itu dinilai menyebabkan membanjirnya produk murah ke pasar global sehingga menekan industri di berbagai negara.
Sebelumnya, tekanan AS melalui tarif impor lebih dari 100 persen sempat tertahan karena China memiliki posisi penting dalam rantai pasok logam tanah jarang (rare earths).
Di sisi lain, Uni Eropa yang mencatat defisit perdagangan sekitar 1 miliar dollar AS per hari mulai memperkuat kebijakan industri dan pengadaan domestik untuk melindungi pasar dalam negerinya.
Kanselir Jerman Friedrich Merz juga mengkritik Beijing karena dinilai mempertahankan nilai tukar mata uangnya tetap rendah.
Namun, laporan OECD dan Bank of Italy menyebut sekitar 75 persen pertumbuhan ekspor serta peningkatan pangsa pasar China didorong oleh subsidi pemerintah dan lemahnya konsumsi domestik.
Beijing Tolak Tuduhan Kelebihan Kapasitas Industri
Meski mendapat kritik, jajaran tertinggi Partai Komunis China memastikan arah kebijakan ekonomi tidak berubah. Pemerintah tetap memilih memberikan dukungan kepada sektor industri dibandingkan menyalurkan stimulus yang berorientasi pada konsumsi masyarakat.
Kementerian Perdagangan China juga menolak tuduhan negara-negara Barat mengenai kelebihan kapasitas industri.
Menurut kementerian tersebut, narasi mengenai kelebihan kapasitas memiliki kelemahan logika dan didorong oleh kepentingan tertentu.
Jurnal teori Partai Komunis China, Qiushi, turut membela rendahnya tingkat konsumsi domestik dengan menyebut kondisi tersebut sebagai konsekuensi historis dari model pembangunan berbasis investasi.
Meski demikian, jurnal itu juga mengakui bahwa model ekonomi tersebut perlu disesuaikan secara bertahap dalam jangka panjang.
Baca Juga: Purbaya Pesan Siswa Sekolah Rakyat Belajar agar Sukses
Senior Economist Economist Intelligence Unit Xu Tianchen mengatakan pemerintah China ingin memperjelas batas yang tidak ingin dilanggar dalam pembahasan dengan negara lain.
“China memperjelas bahwa mereka tidak akan menerima tindakan atau aturan diskriminatif yang menyasar perusahaan maupun produk ekspornya,” ujarnya.
Pemerintah China menegaskan produk ekspornya tidak hanya lebih murah, tetapi juga semakin kompetitif berkat investasi di bidang teknologi.
Perdana Menteri Li Qiang bahkan menyebut kekuatan manufaktur China sebagai “China opportunity 2.0”, sebagai respons atas kekhawatiran Barat terhadap fenomena yang disebut “China shock 2.0”.
Sementara itu, Co-Founder Rhodium Group Daniel Rosen menilai Beijing kini semakin aktif menjelaskan kebijakan ekonominya kepada dunia.
“Argumentasi China kini disampaikan lebih sering dan formal karena bukti masalah ekonomi domestik sistemik yang berdampak pada seluruh dunia meningkat makin cepat,” kata Rosen.

[…] China Tegaskan Garis Merah Ekonomi Jelang Negosiasi dengan AS […]