AS Bantu Jepang Topang Yen, Ini Alasan di Baliknya
Pemerintah Jepang mengonfirmasi telah melakukan intervensi bersama Amerika Serikat (AS) untuk memperkuat nilai tukar yen yang terus tertekan.
Tokyo juga menegaskan siap kembali mengambil langkah serupa apabila gejolak di pasar valuta asing meningkat.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan pemerintah terus memantau pergerakan pasar dan menjaga komunikasi dengan Departemen Keuangan AS.
“Kementerian Keuangan Jepang tetap memantau situasi dan menjalin komunikasi erat dengan rekan-rekan kami di Departemen Keuangan AS. Kami tidak akan ragu untuk melakukan intervensi bersama lebih lanjut,” ujar Katayama dalam pernyataan resminya, seperti dikutip Japan Times, Senin (3/8/2026).
Intervensi tersebut dilakukan pada Jumat (31/7/2026) melalui pembelian yen di pasar valuta asing bersama Departemen Keuangan AS.
Menurut Kementerian Keuangan Jepang, langkah itu diambil untuk mengatasi “volatilitas berlebihan dan pergerakan yang tidak tertib” setelah yen terus melemah hingga mencapai level terendah dalam hampir 40 tahun.
Sebelum pengumuman resmi dari Tokyo, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington membantu Jepang memperkuat yen sebagai bentuk persahabatan sekaligus menjaga stabilitas ekonomi global.
Baca Juga: Selat Hormuz Disorot, Trump Buka Pembicaraan dengan Iran
AS Dinilai Juga Melindungi Pasar Obligasinya
Intervensi bersama ini menjadi operasi pembelian yen pertama yang dilakukan Jepang dan AS sejak 1998.
Sebelum intervensi dilakukan, nilai tukar yen sempat melemah hingga 163,73 per dolar AS. Sehari kemudian, mata uang Jepang menguat ke kisaran 157,57 per dolar AS.
Sejumlah analis menilai keputusan Washington tidak hanya bertujuan membantu Jepang, tetapi juga melindungi stabilitas pasar keuangan Amerika Serikat.
Jepang diketahui merupakan pemegang surat utang pemerintah AS (US Treasury) terbesar di dunia. Apabila Tokyo harus melakukan intervensi sendiri, pemerintah Jepang berpotensi menjual sebagian kepemilikan obligasi AS untuk memperoleh dolar AS.
Langkah tersebut dikhawatirkan dapat mengguncang pasar obligasi Amerika sekaligus meningkatkan biaya pinjaman pemerintah AS.
Kepala Ekonomi Asia Oxford Economics Louise Loo mengatakan terdapat unsur kepentingan Amerika Serikat dalam keputusan tersebut.
“Gejolak pasar yang dipicu kebijakan fiskal agresif Jepang bisa merembet ke pasar obligasi pemerintah AS dan mengganggu stabilitas dolar,” ujarnya kepada CNBC International.
Untuk menghindari risiko itu, Jepang akan memanfaatkan fasilitas FIMA Repo milik Federal Reserve (The Fed). Fasilitas tersebut memungkinkan bank sentral asing memperoleh likuiditas dolar AS tanpa harus menjual obligasi pemerintah AS.
Senior Macro Strategist State Street Masahiko Loo menilai penggunaan fasilitas tersebut bahkan lebih penting dibandingkan aksi intervensi itu sendiri.
Selain menjaga stabilitas pasar obligasi, AS juga dinilai berkepentingan mengurangi pelemahan yen yang selama ini memberikan keuntungan bagi daya saing ekspor Jepang.
Baca Juga: Bank Dunia Sebut 48 Persen UMKM Batasi Qris untuk Hindari Pajak
Intervensi Dinilai Hanya Memberi Efek Sementara
Trump menyebut keterlibatan AS dalam intervensi mata uang merupakan bentuk dukungan kepada Jepang sekaligus upaya menjaga stabilitas ekonomi global.
Namun, pakar Monex Jesper Koll menilai operasi tersebut juga menandai babak baru hubungan ekonomi antara Washington dan Tokyo.
“Ketika Jepang meminta bantuan, Amerika menjawabnya,” katanya.
Menurut dia, langkah tersebut sekaligus mengirim sinyal geopolitik kepada China bahwa kerja sama AS dan Jepang semakin erat.
Sementara itu, analis Mizuho Securities Vishnu Varathan mengatakan keterlibatan Departemen Keuangan AS dan Federal Reserve meningkatkan kepercayaan pasar bahwa pemerintah siap kembali melakukan intervensi apabila tekanan terhadap yen berlanjut.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa intervensi hanya mampu memberikan dampak dalam jangka pendek.
Senior Fellow Brookings Institution Robin Brooks menilai arah pergerakan yen tetap ditentukan oleh fundamental ekonomi Jepang, terutama kondisi pasar obligasi dan kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ).
“Selama imbal hasil obligasi Jepang masih ditekan rendah melalui pembelian obligasi oleh BOJ, tekanan terhadap yen akan tetap berlanjut,” ujarnya.
Louise Loo juga menilai intervensi hanya memberi waktu bagi Jepang untuk melakukan penyesuaian. Dalam jangka panjang, menurut dia, penguatan yen tetap bergantung pada normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan, bukan semata-mata melalui intervensi pemerintah.

[…] AS Bantu Jepang Topang Yen, Ini Alasan di Baliknya […]
[…] AS Bantu Jepang Topang Yen, Ini Alasan di Baliknya […]