Selat Hormuz Segera Dibuka? AS-Iran Mulai Dekati Kesepakatan
Peluang tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz mulai terbuka. Pada Selasa (4/8/2026), Qatar menyatakan proposal untuk meredakan ketegangan telah disusun, sementara Washington dan Teheran sama-sama menunjukkan optimisme terhadap proses negosiasi.
Presiden AS Donald Trump membahas upaya meredakan konflik dengan Iran bersama Emir Qatar Sheikh Tamim Bin Hamad Al-Thani melalui sambungan telepon. Pemerintah Qatar mengkonfirmasi pembicaraan tersebut, sementara pejabat Gedung Putih membenarkannya tanpa mengungkap detail isi percakapan.
Optimisme diplomatik tersebut turut mempengaruhi pasar. Harga minyak yang sebelumnya sempat menguat berbalik turun, sementara obligasi pemerintah AS menguat. Minyak mentah Brent bahkan merosot lebih dari 5% dan ditutup di bawah US$80 per barel, menjadi level terendah dalam lebih dari tiga pekan.
Penurunan harga tersebut dipicu meningkatnya harapan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali berfungsi normal dan risiko serangan udara AS baru dapat ditekan.
Kesepakatan Hormuz Belum Berarti Perang Berakhir
Kesepakatan jangka pendek mengenai Selat Hormuz berpotensi memulihkan aktivitas pelayaran komersial di jalur yang menjadi salah satu rute utama pasokan energi dunia. Namun, kesepakatan tersebut belum tentu menyelesaikan konflik AS-Iran secara menyeluruh.
Baca Juga : Netanyahu Temui Trump di Gedung Putih, Survei Ungkap Posisi Makin Tertekan
Persoalan lain, termasuk program nuklir Iran, masih menjadi perhatian utama Washington. Gencatan senjata sebelumnya bahkan hanya bertahan kurang dari satu bulan sebelum kembali runtuh akibat perselisihan mengenai kendali atas Selat Hormuz.
Jika kesepakatan baru kembali gagal, potensi serangan AS dan aksi balasan Iran masih terbuka.
Salah satu opsi kompromi yang tengah dipertimbangkan Iran adalah memberikan izin kepada negara-negara Eropa untuk melakukan pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Informasi tersebut disampaikan sejumlah diplomat yang mengetahui pembicaraan tersebut dengan syarat anonim.
Langkah ini dinilai berbeda dengan sikap resmi Iran selama ini. Namun, dalam pertemuan tertutup selama beberapa pekan terakhir, Teheran disebut mulai menunjukkan kelonggaran dalam posisinya.
AS Optimistis Selat Hormuz Bisa Segera Dibuka
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dan Menteri Keuangan, Scott Bessent, secara terpisah memberikan sinyal positif mengenai negosiasi untuk memulihkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
“Saya pikir kesepakatan langsung, yang saat ini banyak menjadi fokus, adalah mengenai selat tersebut,” kata Rubio kepada wartawan.
Bessent bahkan memperkirakan kesepakatan dapat dicapai dalam waktu dekat.
“Kami sedang berunding dengan Iran dan saya pikir ada peluang kita bisa mencapai kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka selat tersebut,” kata Bessent kepada CNBC pada Selasa.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya pungutan terhadap kapal yang melintas, Bessent menjawab, “Saya pikir akan ada kebebasan bergerak.”
Optimisme tersebut muncul setelah Qatar, yang menjadi salah satu mediator antara Washington dan Teheran, menyatakan rancangan resolusi deeskalasi telah beredar di antara pihak-pihak yang berkepentingan.
Sementara itu, kantor berita Iran IRIB News mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei yang menyebut dialog Iran dan Oman berlangsung positif. Menurutnya, pembicaraan difokuskan pada upaya menentukan jalur aman bagi kapal yang keluar dan masuk melalui Selat Hormuz.
Meski demikian, Qatar dan AS menegaskan belum ada kesepakatan final. Juru bicara Qatar juga belum dapat memastikan kapan kesepakatan tersebut akan tercapai karena pembahasan saat ini masih berfokus pada solusi jangka pendek untuk mencegah eskalasi konflik.
Trump Kembali Beri Iran Waktu untuk Bernegosiasi
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat setelah Trump mengklaim telah memberikan kesempatan terakhir kepada Iran untuk mencapai kesepakatan.
Pada akhir pekan, Trump menunda serangan yang disebutnya berpotensi menjadi serangan terbesar sejak Perang Dunia II.
“Saya ingin memberi mereka kesempatan terakhir sebelum dilakukan pemenggalan,” kata Trump kepada wartawan pada Senin.
Trump juga mengatakan keputusan mengenai langkah selanjutnya akan segera terlihat.
“Kamu akan mengetahuinya hari ini atau besok. Maksud saya, mereka akan bergerak cepat, dengan satu cara atau lainnya. Ini tidak terlalu rumit,” ujarnya.
Jalur diplomasi kini banyak bergantung pada pembicaraan antara Oman dan Iran. Teheran masih mempertahankan sikap tegas dengan menyatakan memiliki kewenangan mengatur lalu lintas kapal serta menghentikan kapal yang mencoba melintasi jalur tersebut tanpa izin.
Sikap itu sekaligus memperlihatkan betapa rumitnya upaya Trump mengakhiri perang yang dimulai pada akhir Februari. Konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga energi dan berpotensi menjadi persoalan politik bagi Trump serta Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu AS pada November.
Iran Siapkan Balasan Jika Diserang
Iran telah berulang kali memperingatkan akan memberikan respons keras jika kembali menjadi sasaran serangan AS-Israel. Dalam konflik sebelumnya, serangan Iran menggunakan drone dan rudal balistik telah menimbulkan kerusakan di sejumlah negara Teluk, termasuk Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Di sisi lain, pemerintahan Trump juga menghadapi persoalan terkait ketersediaan persenjataan. Laporan Reuters menyebut Angkatan Darat AS telah menggunakan sebagian besar persediaan rudal presisi jarak jauh setelah perang berlangsung selama berbulan-bulan.
Baca Juga : Saudi dan Turki Perkuat Kerja Sama Terkait Laut Merah
Meski begitu, pejabat pemerintahan AS berulang kali menyatakan stok senjata masih mencukupi untuk mencapai sasaran militer yang telah ditetapkan.
Trump pada Selasa juga mengatakan AS memiliki persediaan amunisi yang sangat besar dan industri pertahanan terus meningkatkan produksinya.
“Seiring kami meningkatkan persediaan, kami akan mulai mengirimkan lebih banyak kepada sekutu kami di Eropa dan tempat lainnya,” tambah Trump.
Trump sebelumnya beberapa kali mengeluarkan ancaman serangan besar terhadap Iran, tetapi kemudian mengurungkan rencana tersebut. Jika ancaman itu kembali diwujudkan, harga minyak dunia berpotensi kembali melonjak.
Seorang pejabat senior Iran pun meminta Washington mengambil langkah pertama untuk meredakan ketegangan.
Ia mendesak AS untuk mengambil langkah pertama dan mengubah perilakunya, serta kembali pada ketentuan kesepakatan damai sementara yang dicapai kedua negara pada Juni.
