Netanyahu Samakan Gaza dengan Korea Utara, Ini Alasannya
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyamakan Jalur Gaza dengan Korea Utara. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah siniar berbahasa Ibrani saat membahas pembatasan pergerakan warga Palestina di wilayah tersebut.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (4/8/2026), Netanyahu mengatakan Gaza menjadi salah satu dari sedikit wilayah di dunia yang penduduknya tidak dapat meninggalkan daerah tersebut.
Israel sendiri telah memberlakukan blokade darat dan laut terhadap Gaza selama hampir 15 tahun sebelum perang yang pecah pada Oktober 2023. Dalam periode tersebut, hanya sebagian kecil warga Palestina yang diizinkan keluar dan masuk Jalur Gaza.
Baca Juga: Netanyahu Bertemu Trump, Survei Sebut Posisi Makin Tertekan
Menurut Netanyahu, keterbatasan itu juga dipengaruhi oleh sikap sejumlah negara yang enggan menerima pengungsi dari Gaza.
“Orang-orang sama sekali tidak diizinkan meninggalkan Gaza. Negara-negara mengatakan, ‘Tidak, kami tidak akan menerima mereka, karena itu akan membantu Israel,’” kata Netanyahu.
“Saya bertanya, bagaimana dengan membantu warga Gaza? Mengapa mereka tidak memiliki hak dasar yang sama seperti miliaran orang di seluruh dunia, yaitu kebebasan untuk bergerak?” sambungnya.
Israel Masih Bersikeras Pertahankan Pasukan di Gaza
Di tengah pembahasan mengenai Gaza, Israel masih melanjutkan operasi militernya meski Hamas sebelumnya menyatakan bersedia melucuti senjata.
Salah satu poin dalam rancangan kesepakatan mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza serta pengalihan pemerintahan kepada otoritas Palestina.
Namun, usulan tersebut mendapat penolakan dari sejumlah pejabat Israel.
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menilai isi kesepakatan berbeda dengan yang sebelumnya disetujui pemerintah. Ia juga meminta dilakukan pemungutan suara baru.
Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan dokumen yang beredar tidak mencerminkan posisi resmi pemerintah Israel. Menurut kantor Netanyahu, keberatan tersebut telah disampaikan kepada Amerika Serikat.
“Mencapai perdamaian abadi itu sulit tetapi dapat dicapai jika semua orang melakukan upaya terbaiknya,” tulisnya.
Baca Juga: Erdogan dan MBS Bahas Laut Merah, Sepakat Perkuat Kerja Sama
Hamas Minta Israel Penuhi Isi Kesepakatan
Di sisi lain, Hamas menegaskan kesepakatan tidak akan dijalankan apabila Israel tidak memenuhi kewajibannya.
Dalam proses pembicaraan, mantan utusan PBB Nickolay Mladenov disebut mendesak Netanyahu menghentikan serangan ke Gaza. Informasi itu disampaikan dua sumber yang mengetahui jalannya pertemuan kepada Associated Press.
Namun, Israel tetap menolak menghentikan operasi militernya meski gencatan senjata telah diumumkan pada Oktober 2025.
Menurut laporan tersebut, lebih dari 1.200 warga Palestina dilaporkan tewas sejak gencatan senjata diberlakukan. Dari jumlah itu, lebih dari 36 orang meninggal setelah pengumuman kesepakatan perlucutan senjata disampaikan.
