Perang Iran Kuras Amunisi AS, Rusia dan China Mengintai
Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran disebut mulai menguras persediaan senjata militer Washington.
Kondisi tersebut bahkan dinilai mengkhawatirkan. Pengalihan sejumlah alutsista dan rudal pertahanan udara dari Asia serta Eropa ke Timur Tengah membuat posisi militer AS lebih rentan.
Situasi ini juga berpotensi dimanfaatkan Rusia dan China untuk mengambil langkah geopolitik yang lebih agresif.
Rangkaian operasi militer AS terhadap Iran telah berlangsung lebih dari lima bulan. Ribuan rudal presisi yang bernilai jutaan dollar AS disebut telah digunakan dalam operasi tersebut.
Penurunan stok amunisi memicu kekhawatiran di kalangan intelijen dan militer AS. Namun, Gedung Putih membantah laporan mengenai kekosongan persediaan senjata.
“Menipisnya amunisi merupakan pemusnahan generasi terhadap sarana pencegahan konvensional. Mustahil hal itu tidak berdampak signifikan pada perhitungan keputusan Rusia dan China,” tegas Peneliti Senior CSIS, Tom Karako, dikutip dari New York Times, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Karako, kondisi tersebut dapat memengaruhi perhitungan strategis Moskwa dan Beijing.
Dampaknya diperkirakan terasa dalam pengambilan keputusan politik dan militer kedua negara selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Nilai Presiden Diungkap Prabowo: 98, Tuhan Punya 100
Bantahan Gedung Putih
Gedung Putih dan Pentagon membantah laporan mengenai krisis persediaan persenjataan AS.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan AS masih memiliki kemampuan tempur yang cukup untuk menjalankan berbagai operasi militer.
Ia juga mengecam dugaan pembocoran informasi rahasia intelijen kepada publik. Leavitt meminta pelaku pembocoran diproses secara hukum.
“Perusahaan pertahanan kita memproduksi amunisi lebih banyak dari sebelumnya, sambil dengan cepat memperluas pabrik dan peralatan mereka pada tingkat rekor,” tegas Karoline Leavitt.
“Siapa pun yang membocorkan informasi rahasia telah mengkhianati kepercayaan dan melanggar hukum federal,” sambung dia.
Di sisi lain, sejumlah ahli memperkirakan AS membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk memulihkan stok rudal pencegat Patriot yang telah digunakan.
Stok rudal Patriot yang tersisa di AS diperkirakan kurang dari 1.700 unit.
Persediaan rudal jarak jauh seperti ATACMS dan Precision Strike Missile (PrSM) juga disebut hampir habis digunakan.
Kedua jenis rudal tersebut memiliki peran penting. Keduanya dibutuhkan untuk menghadapi ancaman militer berteknologi tinggi dari negara seperti Rusia dan China.
Baca Juga: Siswa Diminta BGN Tak Bawa Pulang MBG, Bisa Picu Keracunan
Imbas Langsung ke Ukraina dan Asia-Pasifik
Penurunan persediaan sistem pertahanan udara AS turut berdampak pada Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyoroti penurunan bantuan rudal pencegat dari negara-negara Barat.
Volume bantuan tersebut disebut turun hingga tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini dinilai membuat rudal Rusia lebih mudah menembus pertahanan Ukraina.
Dampak lainnya terlihat di kawasan Asia-Pasifik.
AS mengalihkan sejumlah aset pertahanan ke Timur Tengah. Aset tersebut mencakup kapal perusak, kelompok tempur kapal induk, serta sistem pertahanan udara dari kawasan Korea Selatan dan Komando Indo-Pasifik.
Pengalihan tersebut dinilai dapat memengaruhi kalkulasi pertahanan di sekitar Selat Taiwan.
Para analis juga mengkhawatirkan dampaknya terhadap sekutu AS. Jepang dan Korea Selatan berpotensi mempertimbangkan penguatan kemampuan pertahanan secara mandiri.
Analis pertahanan dari American Enterprise Institute, Todd Harrison, menilai perang yang berlangsung lama akan memperbesar kerentanan AS.
“Semakin lama perang ini berlangsung dan semakin sering kita saling baku tembak dengan Iran, semakin buruk masalah amunisi bagi Amerika Serikat, dan semakin besar serta semakin terlihat celah kerentanan ini,” pungkas Todd Harrison.
