Cadangan Minyak AS Turun ke Level Terendah sejak 1980-an
Cadangan Minyak Strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) Amerika Serikat (AS) turun ke level terendah sejak dekade 1980-an. Data terbaru Kementerian Energi AS menunjukkan, volume cadangan minyak tersebut hanya tersisa 298,7 juta barrel per Jumat (7/8/2026).
Penurunan hingga di bawah 300 juta barrel itu menjadi yang pertama sejak awal 1980-an, sebagaimana dilansir The Independent.
Pada periode tersebut, AS meningkatkan kapasitas penyimpanan cadangan minyak sebagai respons terhadap embargo minyak yang diberlakukan negara-negara Arab anggota OPEC pada dekade 1970-an.
Sebagai perbandingan, sebelum perang AS dan Israel melawan Iran pecah, persediaan minyak dalam SPR mencapai sekitar 415 juta barrel.
Selain cadangan minyak, sejumlah laporan media AS juga menyebut perang Iran telah menguras persediaan senjata militer AS hingga tingkat yang mengkhawatirkan.
Baca Juga: Perang Iran Siap Diakhiri Trump Tanpa Deal Nuklir
Cadangan Minyak AS Terus Menyusut
Penurunan cadangan minyak nasional AS sebenarnya telah diproyeksikan pemerintahan Presiden Donald Trump sejak Maret 2026.
Saat itu, pemerintah AS mengumumkan rencana pelepasan 182 juta barrel minyak dari SPR selama 120 hari. Pelepasan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan pasar minyak akibat perang di Iran yang dimulai Trump pada akhir Februari.
Konflik tersebut kemudian memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) selama beberapa bulan terakhir. Kondisi itu juga belum menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan dalam waktu dekat.
Kepala Analisis Minyak Bumi di GasBuddy, Patrick De Haan, memperkirakan volume SPR masih akan terus berkurang dalam beberapa waktu ke depan.
“Penurunan SPR kemungkinan akan berlanjut untuk beberapa minggu lagi sebelum pelepasan yang diizinkan selesai,” ujar De Haan melalui unggahannya di platform X.
Pelepasan minyak dari cadangan strategis bukan pertama kalinya dilakukan pemerintah federal AS dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, mantan Presiden Joe Biden juga mengizinkan pelepasan 180 juta barrel minyak dari SPR setelah invasi Rusia ke Ukraina menyebabkan harga minyak dunia melonjak.
Infrastruktur SPR Menua dan Minyak Sulit Diakses
Selain akibat pelepasan minyak secara sengaja, kemampuan operasional SPR juga menghadapi persoalan karena infrastruktur yang semakin menua.
Berdasarkan laporan Government Accountability Office (GAO) yang dirilis pada Mei 2026, lebih dari seperempat inventaris minyak SPR tidak dapat ditarik per Desember 2025. Kondisi tersebut disebabkan penghentian operasional akibat proyek konstruksi serta gangguan pada fasilitas penyimpanan.
Analisis Rapidan Energy yang dipublikasikan pada Juli 2026 bahkan menunjukkan sedikitnya 103 juta barrel minyak dalam cadangan tersebut saat ini tidak dapat diakses.
“Kemampuan penarikan, distribusi, dan pengisian SPR saat ini terbatas dan berisiko ke depannya karena masalah infrastruktur tua yang sudah berlangsung lama, diperparah oleh konstruksi besar-besaran yang tengah berlangsung untuk mengatasinya,” tulis GAO dalam laporannya.
Meski demikian, juru bicara Kementerian Energi AS mengatakan kepada CNBC pada Juli bahwa jumlah minimum minyak yang dibutuhkan agar SPR dapat beroperasi secara aman berada di kisaran 70 juta barrel.
Baca Juga: Bahas Ekonomi Iran, Mojtaba Khamenei Bertemu Pezeshkian
Mantan utusan khusus Kementerian Luar Negeri AS untuk urusan energi internasional pada era Presiden Barack Obama, David Goldwyn, juga menilai kondisi tersebut belum membahayakan ketahanan minyak nasional AS.
“Saya tidak khawatir tentang stabilitas cadangan minyak atau kemampuan kita untuk melakukan penarikan lagi jika kita membutuhkannya,” tutur Goldwyn saat itu.
Di sisi lain, harga minyak mentah di pasar AS terus meningkat seiring memudarnya optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
Melansir New York Post, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 5,1 persen menjadi 82,13 dollar AS per barrel pada Senin (10/8/2026).
Pada hari yang sama, minyak mentah Brent yang menjadi acuan harga global juga naik 5 persen hingga mencapai 87,72 dollar AS per barrel.
Kenaikan harga tersebut terjadi setelah Trump mengatakan kepada Axios pada Minggu (9/8/2026) bahwa AS baru melakukan “setengah bernegosiasi” dengan Iran.
“Kami hanya setengah bernegosiasi dengan mereka. Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi besarnya dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang.” kata Trump.
