Negara Teluk Pilih Kompromi demi Buka Selat Hormuz
Negara-negara penghasil energi di kawasan Teluk Persia mulai menghadapi kenyataan bahwa Iran memiliki pengaruh besar terhadap Selat Hormuz. Meski kondisi tersebut tidak sepenuhnya disukai, sejumlah pejabat negara Teluk menilai kompromi dengan Teheran lebih baik daripada kembali menghadapi eskalasi militer antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Laporan The Wall Street Journal, Senin (10/8/2026), menyebut negara-negara Teluk khawatir konflik baru dapat memicu serangan yang lebih luas terhadap infrastruktur energi mereka.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Sebelum konflik berlangsung, sekitar 20 juta barrel minyak dan produk minyak melintasi perairan tersebut setiap hari.
Namun, aktivitas pengiriman melalui selat itu kini turun tajam akibat serangkaian serangan Iran. Berdasarkan data perusahaan penyedia informasi komoditas Kpler, ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz turun menjadi sekitar 2,2 juta barrel per hari pada pekan lalu.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 8,5 juta barrel per hari sebulan sebelumnya.
Baca Juga: Ini Profil Destry Damayanti, Calon Gubernur BI Pilihan Prabowo
Jalur Alternatif Belum Mampu Gantikan Hormuz
Negara-negara Teluk sebenarnya telah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. Arab Saudi, misalnya, mempertahankan sebagian kapasitas ekspornya dengan mengalirkan minyak melalui jaringan pipa darat menuju pelabuhan di Laut Merah.
Namun, jalur alternatif tersebut juga menghadapi ancaman. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran dilaporkan menyerang pengiriman minyak Saudi yang dialihkan menuju Laut Merah.
Uni Emirat Arab (UEA) juga berusaha mengatasi blokade dengan mengirimkan minyak melalui jalur darat. Selain itu, kapal-kapal yang tetap melewati Hormuz dilaporkan mematikan sistem penanda lokasi untuk mengurangi risiko serangan.
Menurut perusahaan pelacak kapal Vortexa, kombinasi strategi tersebut sempat membuat ekspor minyak UEA kembali ke level sebelum perang pada pertengahan tahun. Namun, kondisi itu kembali memburuk setelah serangan Iran.
Perusahaan minyak milik negara UEA, Adnoc, mengatakan empat kapalnya terkena rudal atau drone dalam satu pekan terakhir. Secara keseluruhan, 16 kapal Adnoc disebut telah menjadi sasaran serangan sejak perang dimulai.
Mesir juga terkena dampak konflik. Sebuah kapal tanker gas dilaporkan diserang drone di Pelabuhan Damietta. Serangan tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap ekspor energi kawasan tidak hanya berasal dari Selat Hormuz, tetapi juga mulai menjangkau infrastruktur energi lainnya.
Tekanan terhadap negara-negara Teluk semakin besar karena Iran dan kelompok yang bersekutu dengannya juga mengancam fasilitas energi di kawasan.
Para pejabat Teluk mengatakan Iran berulang kali memperingatkan bahwa fasilitas energi regional dapat menjadi sasaran apabila Presiden AS Donald Trump melanjutkan ancaman untuk meningkatkan eskalasi.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran bahkan mengirimkan peringatan bahwa seluruh fasilitas energi di kawasan Teluk berpotensi diserang.
Data Armed Conflict Location and Event Data, lembaga pemantau konflik yang berbasis di AS, menunjukkan Iran dan milisi sekutunya di Irak melakukan sedikitnya 172 serangan terhadap infrastruktur nonmiliter di enam negara Arab Teluk antara 28 Februari hingga 30 Juli.
Sekitar separuh serangan tersebut menyasar fasilitas energi, termasuk infrastruktur minyak, instalasi gas, pembangkit listrik, dan fasilitas desalinasi air.
Pada Minggu (9/8/2026), kelompok Houthi juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap sebuah kilang minyak Saudi di Jizan, pesisir Laut Merah. Kementerian Energi Saudi mengonfirmasi terjadinya kebakaran di fasilitas tersebut, tetapi tidak menjelaskan penyebabnya.
Baca Juga: Aturan Baru BGN Perketat Pengawasan Program MBG
Negara Teluk Pilih Risiko yang Lebih Kecil
Peneliti keamanan Teluk dari University of Birmingham, Umer Karim, menilai negara-negara Arab Teluk kini tidak dapat sepenuhnya menjamin keamanan dan keterbukaan Selat Hormuz.
Akibatnya, negara-negara tersebut untuk sementara tidak memiliki banyak pilihan selain mengakomodasi sebagian tuntutan Iran.
Kekhawatiran terbesar mereka adalah konflik yang berlangsung berkepanjangan. Kondisi tersebut dapat menghambat lebih banyak aliran energi sekaligus membuat investor dan wisatawan asing menjauh.
Para pejabat negara Teluk juga semakin frustrasi karena menilai AS belum memiliki strategi yang jelas dalam menghadapi perang. Konflik yang terus berlanjut dinilai mengancam keamanan nasional sekaligus perekonomian negara-negara di kawasan.
Di sisi lain, negara-negara Teluk menyadari bahwa kesepakatan apa pun dengan Iran kemungkinan tidak akan menghapus program rudal Teheran maupun dukungannya terhadap kelompok milisi sekutu di kawasan. Kedua hal tersebut selama ini menjadi salah satu ancaman utama terhadap keamanan negara-negara Teluk.
Karena itu, negara-negara Teluk pada akhirnya cenderung memilih kompromi jangka pendek untuk membuka kembali Selat Hormuz daripada menghadapi tekanan yang lebih besar akibat perang Iran dan AS yang kembali meningkat.
