Trump Klaim Kuasai Selat Hormuz, Kapal Dagang Malah Pilih Jalur Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim militer AS telah menguasai penuh navigasi di Selat Hormuz. Namun, kondisi lalu lintas maritim di jalur strategis tersebut menunjukkan situasi yang berbeda.
Data pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal kargo yang melintas di Selat Hormuz anjlok drastis. Dari rata-rata lebih dari 130 kapal per hari sebelum perang, kini hanya sekitar 14 kapal yang tercatat melintas.
Menariknya, sebagian besar kapal yang masih beroperasi justru memilih jalur pelayaran di bawah pengawasan Iran dibandingkan menggunakan rute yang dikawal armada AS.
Kondisi tersebut dikutip dari The Wall Street Journal, Rabu (12/8/2026).
Situasi ini menunjukkan bahwa Iran dinilai berhasil mempertahankan kendali secara de facto atas salah satu jalur energi paling penting di dunia. Teheran tidak harus mengalahkan Angkatan Laut AS secara langsung.
Baca Juga: China dan Rusia Didekati FBI AS, Kerja Sama Lawan Kejahatan Global
Sebaliknya, Iran cukup menciptakan persepsi risiko keamanan yang membuat perusahaan pelayaran, kapten kapal, hingga perusahaan asuransi enggan mengambil risiko melintasi Selat Hormuz.
Peneliti senior Center for a New American Security, Rachel Ziemba, menilai Iran berhasil memanfaatkan faktor ketakutan tersebut untuk mempertahankan pengaruhnya atas jalur pelayaran.
Trump sendiri membantah kondisi tersebut melalui unggahan di media sosial.
“Amerika Serikat memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. SAYA PIKIR KITA AKAN MEMPERTAHANKANNYA! Dan tidak ada yang bisa dilakukan Iran untuk mencegahnya. Segala puji bagi Allah!” tulis Trump di Truth Social.
Lonjakan Biaya Asuransi
Data perusahaan analisis maritim Kpler dan Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan Selat Hormuz secara efektif kembali tertutup setelah kesepakatan damai sementara runtuh.
CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan gangguan lalu lintas kapal di jalur tersebut telah menahan distribusi lebih dari 2,6 miliar barel minyak global sejak konflik pecah pada akhir Februari.
Jaminan keamanan dari armada AS di koridor selatan juga belum mampu membuat perusahaan pelayaran kembali melintas secara normal. Sejumlah pemilik kapal memilih mematikan sistem pelacakan otomatis atau mengikuti aturan navigasi yang ditetapkan Iran.
Risiko tersebut berdampak langsung terhadap biaya pelayaran. Pialang asuransi Marsh mencatat premi risiko perang untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz melonjak dari 0,25 persen menjadi 10 persen dari total nilai kapal.
Kenaikan tersebut membuat kapal tanker berukuran besar harus mengeluarkan tambahan biaya sekitar 3 juta hingga 10 juta dollar AS hanya untuk memperoleh perlindungan asuransi dalam satu kali pelayaran.
Meningkatnya biaya logistik energi juga berpotensi menekan harga komoditas dan memicu inflasi di AS menjelang pemilu paruh waktu.
Baca Juga: Rencana Trump Ditolak Netanyahu, AS-Israel Mulai Retak?
Pembangkangan terhadap Blokade Laut
Ketegangan di jalur pelayaran Timur Tengah juga meluas ke kawasan lain. Kelompok Houthi di Yaman memperluas serangan hingga Selat Bab al-Mandeb di Laut Merah.
Salah satu serangan rudal Houthi terhadap kapal kargo berbendera Tanzania, Tihamah, menewaskan empat pelaut di lepas pantai Yaman. Insiden tersebut menjadi catatan korban jiwa pertama pada kapal komersial sejak perang AS-Iran kembali berkecamuk.
Sementara itu, konfrontasi antara armada AS dan kapal-kapal komersial juga terus terjadi di perairan Teluk Persia.
Di tengah imbauan melalui radio dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang mewajibkan kapal meminta izin untuk melintas, militer AS dilaporkan mengambil tindakan terhadap kapal yang mencoba menerobos blokade.
Pasukan AS disebut melepaskan tembakan ke arah kapal kargo berbendera Panama yang mengabaikan peringatan untuk berputar balik ketika berupaya keluar dari wilayah Teluk Persia.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa meskipun Trump mengklaim AS telah menguasai Selat Hormuz, perusahaan pelayaran masih menghadapi risiko tinggi. Pilihan sebagian kapal untuk mengikuti jalur di bawah pengawasan Iran menunjukkan bahwa persepsi keamanan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan arus pelayaran di kawasan tersebut.
