FBI AS Dekati China dan Rusia, Kerja Sama Lawan Kejahatan Global
Di tengah rivalitas geopolitik Amerika Serikat (AS) dengan China dan Rusia, FBI justru disebut mulai membangun kerja sama dengan kedua negara untuk menghadapi kejahatan lintas negara.
Langkah tersebut dilakukan di bawah kepemimpinan Direktur FBI Kash Patel, yang disebut melakukan pendekatan langsung kepada pejabat keamanan China dan Rusia.
Kerja sama ini mencakup sejumlah bidang, mulai dari kejahatan siber, perdagangan manusia, narkotika, hingga jaringan kriminal internasional.
Baca Juga: PBB Ungkap Militer Myanmar Intensif Gunakan Drone Serrang Sipil
FBI Perkuat Kerja Sama dengan China
Patel disebut menjadi direktur FBI pertama yang mengunjungi China sejak 2016 ketika melakukan kunjungan pada November 2025.
Ia kembali mengunjungi China pada Juli 2026 untuk bertemu Menteri Keamanan Publik China Wang Xiaohong.
Hubungan antara kedua lembaga keamanan tersebut kemudian mulai dilembagakan melalui empat kelompok kerja yang menangani penipuan siber, kejahatan kekerasan terhadap anak, pemberantasan narkotika, serta pencarian buronan.
Pejabat dari Kementerian Keamanan Publik China juga disebut rutin mengunjungi fasilitas FBI di AS. Sebaliknya, personel FBI melakukan kunjungan ke China.
Komunikasi antara kedua pihak bahkan dilaporkan berlangsung hampir setiap hari.
Kerja sama tersebut disebut telah menghasilkan sejumlah operasi bersama. Salah satunya adalah Operation Sand Dollar yang melibatkan FBI, Kementerian Keamanan Publik China, serta kepolisian Dubai untuk membongkar jaringan penipuan siber.
Operasi tersebut diklaim menghasilkan sekitar 300 penangkapan dan penyitaan aset senilai sekitar 300 juta dollar AS. Ribuan pekerja yang menjadi korban perdagangan manusia juga disebut berhasil dibebaskan.
Pendekatan Serupa Dibangun dengan Rusia
FBI juga disebut mulai membangun pola kerja sama serupa dengan Rusia.
Patel dikabarkan tengah mempersiapkan kunjungan ke Moskow dan St. Petersburg pada pertengahan Oktober 2026. Badan keamanan Rusia, FSB, diperkirakan menjadi pihak yang akan menerima kunjungan tersebut.
Jika terlaksana, kunjungan itu akan menjadi langkah yang cukup langka. Direktur FBI terakhir yang diketahui mengunjungi Rusia adalah Robert Mueller pada 2013.
Kontak antara FBI dan Rusia sendiri disebut telah berlangsung secara lebih terbatas selama lebih dari setahun, terutama untuk menangani jaringan kriminal.
Langkah tersebut berlangsung ketika pemerintahan Presiden Donald Trump juga berupaya mengurangi ketegangan dengan Moskow.
Utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner sebelumnya telah beberapa kali mengunjungi Rusia dan bertemu Presiden Vladimir Putin.
Baca Juga: Presiden Minta Audit, Pendapatan Danantara Naik 400 Persen
Bukan Berarti AS Berdamai dengan China dan Rusia
Meski kerja sama keamanan mulai dibangun, langkah tersebut tidak berarti AS mengakhiri persaingan strategis dengan China dan Rusia.
Peneliti non-residen China-CEE Institute sekaligus pakar Valdai Discussion Club, Ladislav Zemanek, menilai pendekatan Patel lebih menunjukkan pergeseran menuju kerja sama pragmatis.
Dikutip dari RT, Rabu (12/8/2026), Zemanek mengatakan kerja sama FBI hanya berfokus pada bidang tertentu, seperti kejahatan siber, narkotika, perdagangan manusia, dan jaringan kriminal lintas negara.
Di bidang pertahanan, pejabat Pentagon juga disebut mulai mendorong pembukaan kembali jalur komunikasi dengan Beijing.
Kepala kebijakan Pentagon Elbridge Colby disebut tertarik mengunjungi China dan menghidupkan kembali hubungan profesional antarmiliter.
Menteri Perang AS Pete Hegseth juga mendorong pemulihan komunikasi militer serta hotline krisis antara AS dan China. Langkah tersebut ditujukan untuk mencegah insiden kecil, khususnya di laut dan udara, berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Kerja Sama Saat Kepentingan Bertemu
Menurut Zemanek, pola hubungan yang mulai terlihat antara AS, China, dan Rusia adalah bekerja sama ketika terdapat kepentingan yang sama, tetapi tetap bersaing ketika kepentingan mereka berbeda.
Kerja sama FBI dengan Beijing dan Moskow tidak serta-merta menyelesaikan berbagai persoalan strategis antara ketiga negara, termasuk konflik terkait Iran, Taiwan, Ukraina, maupun persaingan teknologi.
“Namun, pendekatan ini menunjukkan bahwa negara-negara yang bersaing tetap dapat bekerja sama menghadapi ancaman yang sama,” ujar Zemanek.
