Prabowo Klaim Ekonomi RI Tetap Kokoh di Tengah Ketidakpastian Global
Presiden RI Prabowo Subianto mengatakan perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah tekanan dan ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2026.
Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam pidatonya pada Sidang Paripurna DPR RI dengan agenda penyampaian Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dan Nota Keuangan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
“Kita memasuki tahun 2026 dalam keadaan dunia yang tidak menentu, yang tidak mudah,” ujar Prabowo.
Baca Juga: Prabowo Ungkap Ekonomi RI Tumbuh 5,45 Persen Semester 1 Tahun Ini
“Namun di tengah tekanan dan ketidakpastian global tersebut, kita bersyukur perekonomian kita tetap berdiri tegak,” lanjut dia.
Prabowo mengatakan sejumlah kondisi global memberikan tekanan terhadap perekonomian berbagai negara. Salah satunya adalah kenaikan harga energi dunia yang dipengaruhi oleh konflik dan perang.
Selain itu, suku bunga global masih berada pada level tinggi dan berpotensi kembali mengalami kenaikan. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar berbagai negara.
“Nilai tukar berbagai negara tertekan dan ketegangan geopolitik mengganggu perdagangan dunia,” ujar Prabowo.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, Prabowo menilai perekonomian Indonesia masih mampu mencatatkan kinerja positif.
Ia menyebut inflasi Indonesia tetap terkendali dan permintaan domestik masih kuat. Menurut Prabowo, kondisi tersebut turut didukung oleh kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Yang lebih penting, APBN kita bekerja optimal,” kata Prabowo.
Prabowo kemudian memaparkan kinerja pendapatan dan belanja negara hingga akhir Juli 2026. Ia mengatakan pendapatan negara tumbuh 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Prabowo Sebut Target Pendapatan Negara 2027 Capai Rp3,426 Triliun
Sementara itu, belanja negara tercatat tumbuh sebesar 18,2 persen.
“Ini peningkatan yang cukup signifikan,” ucap dia.
Prabowo mengatakan pemerintah terus mengarahkan belanja negara untuk menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, anggaran negara digunakan untuk memperkuat pelayanan publik dan mendorong aktivitas perekonomian.
“Walaupun belanja negara tumbuh, defisit APBN tetap terjaga hanya 0,91 persen terhadap produk domestik bruto,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, kondisi tersebut menunjukkan APBN tetap berfungsi sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
