Prabowo Sebut Ekonomi RI Tumbuh 5,45 Persen Semester I-2026
Presiden Prabowo Subianto melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45 persen pada semester I-2026. Ia menyebut capaian tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Hal itu disampaikan Prabowo saat membacakan pidato kenegaraan dalam rangka Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD di Gedung Parlemen, Jumat (14/8/2026).
Sementara itu, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I-2026. Adapun pada kuartal II-2026, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,29 persen atau melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Baca Juga: Dari Perang Rusia-Ukraina, Korup Raup Rp393 Triliun
“Ini adalah pertumbuhan ekonomi kuartal pertama dan pertumbuhan semester pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir ini,” kata Prabowo.
Dengan capaian tersebut, Prabowo optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir 2026 dapat mencapai 6 persen.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga memaparkan perkembangan investasi di Indonesia. Sepanjang 2025, realisasi investasi tercatat mencapai Rp 1.931 triliun dan menciptakan sekitar 2,7 juta lapangan kerja.
“Pada semester I-2026 ini saja, realisasi investasi mencapai Rp1.010 triliun dan telah menciptakan 1,4 juta lapangan kerja,” terangnya.
Menurut Prabowo, pertumbuhan investasi tersebut terjadi ketika dunia tengah menghadapi berbagai tekanan, mulai dari konflik geopolitik, perang dagang, hingga perang terbuka di Eropa dan Timur Tengah.
Ia mengatakan kondisi global saat ini juga ditandai dengan gangguan rantai pasok dan tekanan ekonomi. Karena itu, Indonesia dinilai perlu memperkuat kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
“Kita harus bisa mendiri. Kita tidak boleh tergantung pasokan-pasokan dari luar. Karena kalau situasi tiba-tiba berubah ke arah yang lebih jelek, kita tetap harus survive. Alhamdulillah karena kerja keras kita, karena kepercayaan rakyat kepada pemerintah, di tengah ketidakpastian global, investasi tetap tumbuh,” katanya.
Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan investasi bukan merupakan tujuan akhir pemerintah. Menurutnya, kedua indikator tersebut harus memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga: Taktik Ukraina Ditiru Iran untuk Jebol Pertahanan AS
“Pertumbuhan tinggi, tidak bisa dinikmati oleh rakyat kita, kebanyakan tidak bermanfaat bagi kita. Setiap rupiah investasi harus menciptakan pekerjaan, harus menghasilkan perbaikan kualitas hidup rakyat kita, terutama rakyat kita yang paling bawah,” ujarnya.
Ia menekankan pemerintah tidak boleh mengabaikan masyarakat yang berada dalam kondisi rentan, termasuk persoalan kelaparan.
“Itulah orientasi pemerintah yang saya pimpin. Kita tidak boleh meninggalkan mereka yang tidak berdaya, kita tidak boleh meninggalkan kelaparan ada di bumi Indonesia, Republik Indonesia anggota G20, tidak pantas ada rakyat kita yang lapar.”
