Iran Tawarkan Rp 535 Juta untuk Tangkap Tentara AS
Militer Iran menawarkan hadiah 30.000 dollar AS atau sekitar Rp 535 juta bagi siapa saja yang membunuh atau menangkap tentara Amerika Serikat (AS).
Hadiah tersebut bahkan akan dilipatgandakan jika aksi dilakukan oleh perempuan Iran.
Pernyataan itu disampaikan Kepala Angkatan Darat Iran Amir Hatami. Adapun pernyataan tersebut dilaporkan kantor berita resmi Iran, IRNA.
Seperti yang diberitakan France24, Senin (17/8/2026), rencana pemberian hadiah itu disusun setelah banyak pihak meminta untuk ikut berpartisipasi.
“Siapa pun yang membunuh atau menangkap dan menyerahkan personel militer Amerika yang menginvasi akan menerima imbalan setara 30.000 dollar AS atau 5 miliar toman dari Iran,” kata Hatami.
Toman merupakan satuan mata uang informal di Iran. Nilainya setara dengan 10.000 rial Iran.
Baca Juga: Korban Gempa M 7 di NTT Ditawari Bantuan Iran
Iran Desak AS Tinggalkan Timur Tengah
Hatami juga memberikan apresiasi khusus kepada perempuan Iran yang melakukan aksi tersebut.
“Perempuan Iran yang pemberani yang melakukan tindakan seperti itu akan menerima imbalan dua kali lipat,” tutur Hatami.
Dalam kesempatan yang sama, Hatami kembali mendesak AS meninggalkan kawasan Timur Tengah.
Ia mengatakan pasukan AS tidak lagi memiliki izin untuk memasuki Teluk Persia, Teluk Oman, maupun Selat Hormuz.
Namun, Hatami tidak menjelaskan lokasi ataupun waktu yang dimaksud untuk aksi pembunuhan atau penangkapan tentara AS tersebut.
Sejak awal perang, sebanyak 17 personel militer AS dilaporkan tewas. Kematian terbaru terjadi pada Juli 2026.
Seluruh personel AS yang tewas berada di luar wilayah Iran. Lokasinya antara lain Yordania dan Irak.
Hingga kini, tidak diketahui adanya pasukan darat AS yang beroperasi di wilayah Iran. Pengecualian terjadi saat operasi penyelamatan pada April lalu.
Dalam operasi tersebut, sekitar 200 tentara AS dan lebih dari 170 pesawat dikerahkan. Misi itu dilakukan untuk menyelamatkan seorang perwira dari jet F-15 yang jatuh.
Pasukan Iran sempat merusak pesawat serang darat A-10 milik AS. Pesawat tersebut kemudian melakukan pendaratan darurat di wilayah yang dikuasai pihak sekutu.
AS juga dilaporkan meninggalkan dan menghancurkan sejumlah pesawat yang digunakan dalam misi tersebut. Salah satunya adalah pesawat angkut C-130.
Beberapa hari sebelumnya, pilot F-15 yang jatuh telah diselamatkan oleh kru helikopter dalam operasi yang lebih kecil.
Baca Juga: Untuk Korban Gempa NTT, Bantuan Beras Rp100 Miliar Disalurkan
Eskalasi antara Teheran dan Washington bermula pada 28 Februari. Saat itu, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Pertempuran sempat mereda setelah gencatan senjata pada April. Kedua pihak kemudian melanjutkan upaya negosiasi damai pada Juni, tetapi pembicaraan tersebut berakhir tanpa kesepakatan.
Sejak itu, kontak tembak kembali terjadi secara sporadis. Pertempuran terutama berlangsung di Iran bagian selatan dan sekitar Selat Hormuz.
Komunikasi tidak langsung melalui mediator masih berlangsung. Namun, belum terlihat adanya terobosan diplomatik antara kedua pihak.
Iran juga menetapkan sejumlah tuntutan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Salah satunya adalah tuntutan ganti rugi perang.
