Menteri Jerman Bawa Delegasi Bisnis ke RI, Fokus Kerja Sama Energi
Menteri Pembangunan Jerman Reem Alabali Radovan melakukan kunjungan resmi ke Indonesia. Dalam kunjungan tersebut, ia membawa delegasi bisnis dari Jerman.
Kunjungan ini bertujuan memperkuat kemitraan kedua negara. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan energi terbarukan dan transisi energi.
Dalam pernyataannya pada Selasa (18/8/2026), Alabali Radovan menyebut Indonesia menjadi salah satu negara fokus baru dalam kebijakan pembangunan Jerman.
Langkah tersebut sejalan dengan reformasi Kementerian Pembangunan Jerman (BMZ). Pemerintah Jerman ingin memperluas kerja sama dengan sektor swasta di sejumlah negara mitra potensial.
Baca Juga: Rencana Israel Gulingkan Iran Disebut Digagalkan Erdogan
Selain Indonesia, negara yang masuk dalam daftar tersebut adalah Ghana, Kenya, Maroko, Afrika Selatan, Brasil, India, Meksiko, dan Vietnam.
Rencana Aksi untuk Bisnis dan Pembangunan telah disiapkan sejak musim gugur 2025.
“Jika kita mengintensifkan kerja sama ekonomi kita, kedua belah pihak akan mendapat manfaat, di mana Indonesia dapat mempercepat pembangunan berkelanjutannya, dan Jerman dapat memperkuat ekonominya sendiri,” kata Alabali Radovan.
“Ini berkontribusi pada perlindungan iklim, menciptakan lapangan kerja baru di Indonesia dan menawarkan peluang baru bagi perusahaan Jerman,” paparnya.
Perusahaan Jerman Didorong Perluas Investasi Energi
Kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi perusahaan teknologi Jerman. Mereka dapat bertemu langsung dengan perusahaan, startup, peneliti, mahasiswa, hingga pemerintah Indonesia.
Agenda itu dilakukan melalui konferensi, pertemuan bisnis, dan roadshow. Sejumlah startup yang bergerak di bidang energi juga akan terlibat.
Bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI, Alabali Radovan membuka Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW).
ISEW merupakan konferensi energi terbarukan yang digelar pemerintah Indonesia. Kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Jerman.
Delegasi bisnis Jerman juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah perusahaan mereka di Indonesia. Di antaranya Bayer dan Siemens.
Alabali Radovan juga akan melakukan pembicaraan dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Ia juga dijadwalkan bertemu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Keterlibatan perusahaan Jerman di sektor energi Indonesia sudah mulai terlihat. Salah satunya melalui proyek percontohan fasilitas penyimpanan dingin bertenaga surya.
Proyek tersebut didanai melalui kerja sama pembangunan Jerman. Komponen teknisnya berasal dari Siemens dan spesialis pendingin Bitzer.
Investasi swasta dinilai penting untuk mendukung transisi energi Indonesia. Di sisi lain, kondisi tersebut membuka peluang ekspansi bagi perusahaan Jerman dan Eropa.
Baca Juga: Jika Ganggu Kesepakatan Hormuz, Trump Ancam Bom Oman
Kerja sama juga dilakukan melalui Just Energy Transition Partnership (JETP). Kemitraan tersebut bertujuan memobilisasi pendanaan sekitar 20 miliar dollar AS atau sekitar Rp 356 triliun.
Jerman menjadi pimpinan bersama JETP dengan Jepang. Negara tersebut juga mendorong kemitraan ini bersama negara-negara G7, Uni Eropa, Denmark, dan Norwegia.
Melalui JETP, Jerman berkomitmen membantu Indonesia memperluas energi terbarukan. Dukungan juga diberikan untuk pengembangan jaringan energi dan penyusunan aturan yang mendukung transisi energi.
Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia. Terlebih, sektor energi menghadapi berbagai risiko akibat krisis global, termasuk gangguan pasokan yang dipicu perang di kawasan Teluk Persia.
