Trump Panggil Bos Minyak AS Hadapi Lonjakan Harga BBM akibat Perang Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan para eksekutif perusahaan kilang minyak pada Selasa (1/9/2026) untuk membahas strategi menghadapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik dengan Iran.
Pertemuan tersebut dilakukan menjelang pemilu sela AS pada November mendatang, ketika kenaikan biaya hidup menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian publik.
Gedung Putih menyebut pertemuan itu akan melibatkan berbagai pelaku industri energi, mulai dari produsen kilang berskala kecil, menengah, hingga perusahaan besar.
Baca Juga: Purbaya Jelaskan Strategi Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen
“Presiden akan bertemu dengan para pemimpin industri untuk berkolaborasi mengenai cara terbaik meningkatkan kapasitas pengolahan, semakin melepaskan dominasi energi Amerika di seluruh rantai pasokan, dan menurunkan harga bagi rakyat Amerika,” ujar juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers dalam keterangannya kepada AFP, Senin (31/8/2026).
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pembahasan tersebut menjadi semakin penting di tengah upaya pemerintah meningkatkan pasokan minyak mentah Venezuela ke kilang-kilang AS.
“Seiring langkah kami meningkatkan aliran minyak mentah Venezuela ke kilang-kilang AS,” ucap pejabat tersebut.
Lonjakan harga BBM dalam beberapa waktu terakhir telah meningkatkan tekanan ekonomi bagi masyarakat AS. Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan Partai Republik bahwa pemilih dapat memberikan respons negatif dalam pemilu sela mendatang.
Trump berharap peningkatan pasokan minyak Venezuela dapat membantu mengurangi dampak gangguan energi global akibat konflik di Timur Tengah. Sebelumnya, Trump mengumumkan kesepakatan yang disebutnya memberikan AS kendali besar terhadap cadangan minyak Venezuela.
Baca Juga: Rosan Targetkan Investasi Rp2.322 T pada 2027, Naik 13,8 Persen
Trump mengklaim kesepakatan tersebut menjadi salah satu perjanjian energi terbesar dalam sejarah dan memungkinkan Amerika Serikat mengakses mayoritas dari 65 miliar barel cadangan minyak terbukti Venezuela.
Venezuela sendiri diketahui memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Namun, pemerintahan negara tersebut masih berada di bawah tekanan politik dan ekonomi dari Washington setelah AS menggulingkan serta menangkap mantan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu.
Di sisi lain, konflik antara AS dan Iran masih belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Kedua negara kembali terlibat serangan pada Minggu (30/8/2026) setelah sebelumnya mengalami jeda konflik selama sekitar satu bulan.
Situasi semakin rumit karena Iran masih menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia. Sementara itu, AS tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran.
