Trump Ancam Setop Penjualan Pesawat Bombardier di AS
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali melontarkan ancaman terhadap perusahaan Kanada. Kali ini, produsen pesawat Bombardier menjadi sasaran Trump yang mengancam akan menghentikan penjualan produk perusahaan tersebut di pasar AS.
Trump menilai hubungan perdagangan antara AS dan Kanada selama ini berlangsung secara tidak adil. Ia pun meminta Bombardier memindahkan sebagian aktivitas produksinya ke AS apabila ingin terus menjangkau pasar Negeri Paman Sam.
“Tak ada lagi penjualan Bombardier di Amerika Serikat!” tulis Trump melalui platform Truth Social pada Senin (7/9/2026), seperti dikutip AFP.
Baca Juga : Mantan Ketua DPR Filipina Ditangkap, Terseret Kasus Korupsi
Meski menyampaikan ancaman tersebut, Trump tidak merinci langkah maupun mekanisme hukum yang akan digunakan pemerintah AS untuk menghentikan pemasaran pesawat Bombardier di negaranya.
Trump Minta Bombardier Bangun Pabrik di AS
Trump menegaskan bahwa Bombardier harus melakukan produksi di wilayah AS jika perusahaan tersebut ingin mempertahankan akses terhadap pasar Amerika.
“Jika mereka menginginkan pasar kami, mereka harus membangun di sini, dan berhenti memperlakukan Amerika seperti ‘celengan’,” tulis Trump.
Selain menyoroti Bombardier, Trump juga menuding Kanada membatasi aktivitas bank dan perusahaan besar asal AS di negara tersebut.
“Kanada menghalangi BANK-BANK dan PERUSAHAAN-PERUSAHAAN BESAR Amerika” untuk berbisnis di sana, kata Trump.
“Era itu SUDAH BERAKHIR!”
Menurut Trump, pasar AS memiliki peran besar terhadap bisnis Bombardier karena menyumbang lebih dari separuh pendapatan perusahaan. Ribuan pesawat produksi Bombardier juga masih digunakan oleh berbagai maskapai penerbangan domestik AS.
Ancaman terbaru Trump bukan kali pertama ditujukan kepada Bombardier. Pada Januari lalu, ia sempat mengutarakan rencana mencabut sertifikasi pesawat Bombardier di AS sekaligus memberlakukan tarif sebesar 50 persen terhadap pesawat asal Kanada.
Langkah tersebut muncul setelah Trump memprotes keputusan Kanada yang dinilai menghambat sertifikasi model pesawat Gulfstream buatan AS.
Namun, ancaman itu pada akhirnya tidak direalisasikan. Trump kemudian menyatakan Kanada memberikan sertifikasi terhadap pesawat Gulfstream pada bulan berikutnya setelah dirinya melakukan intervensi.
Sampai saat ini, sejumlah model pesawat Bombardier masih mengantongi sertifikasi untuk beroperasi di AS. Produk perusahaan tersebut juga masih mendapatkan pengecualian dari tarif AS.
Sementara itu, Bombardier belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait pernyataan terbaru Trump.
Perang Dagang AS dan Kanada Kembali Memanas
Ancaman terhadap Bombardier muncul ketika hubungan perdagangan AS dan Kanada kembali mengalami ketegangan.
Perundingan perdagangan kedua negara terhenti pada akhir Agustus setelah delegasi AS dan Kanada bertemu selama beberapa hari di Washington.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney saat itu mengatakan dirinya memilih menangguhkan perundingan karena sejumlah persyaratan yang diajukan pemerintahan Trump dianggap tidak dapat diterima.
Baca Juga : Iran Ancam Serang Infrastruktur Minyak-Gas Arab, Kenapa?
Carney juga menyebut negosiator AS memasukkan pembatasan terhadap kesepakatan dagang Kanada dengan negara lain pada tahap akhir pembicaraan.
Kegagalan negosiasi kemudian diikuti keputusan Trump mengenakan tarif 50 persen terhadap sejumlah produk Kanada. Kebijakan tersebut mencakup berbagai barang, mulai dari stik hoki hingga semen.
Kanada merespons dengan memberlakukan tarif balasan terhadap produk AS dengan nilai yang kurang lebih setara.
Tarif balasan Kanada mulai berlaku pada Selasa (8/9/2026). Sejumlah komoditas yang terdampak antara lain baja, aluminium, serta produk susu seperti keju.
Besaran tarif yang diterapkan Kanada bervariasi, mulai dari 15 persen, 25 persen, hingga mencapai 50 persen.
