Iran Ancam Serang Infrastruktur Minyak-Gas Arab jika AS Menyerang
Perang di Timur Tengah kembali memanas. Iran memperingatkan akan membalas setiap serangan baru Amerika Serikat (AS) dengan menyasar infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Ancaman tersebut meningkatkan risiko serangan terhadap fasilitas minyak dan gas di negara-negara Arab yang memiliki hubungan ekonomi dan kepentingan strategis dengan AS.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan Teheran akan memberikan respons terhadap serangan yang diarahkan kepada negaranya.
“Serang aset kami, maka Anda akan diserang balik,” ujar Qalibaf, Senin waktu setempat, seperti dikutip Reuters.
“Serangan termasuk kepentingan minyak dan gas milik AS,” katanya lagi, merujuk pada fasilitas energi yang menjadi bagian dari kerja sama AS dengan sejumlah negara Teluk.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Rp800 Miliar per Tahun Cukup Bayar Utang Whoosh
Iran Ancam Ganggu Energi dan Selat Hormuz
Qalibaf menyebut rantai produksi minyak dan gas di kawasan Teluk sangat luas dan mudah dijangkau. Perusahaan energi AS yang beroperasi di wilayah perairan tersebut juga disebut menghadapi risiko.
“Rantai produksi minyak dan gas di sini sangat luas, mudah diakses, dan terbuka terhadap serangan,” tulis Qalibaf melalui platform X.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang sebelumnya menyebut armada kapal tanker minyak Iran tidak memiliki pertahanan yang memadai.
Ketegangan juga meningkat di sekitar Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut sebelumnya menjadi rute bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum perang AS-Iran berkecamuk pada Februari lalu.
Pejabat senior keamanan Iran Mohsen Rezaei mengatakan Teheran akan segera menetapkan zona terlarang baru di Teluk sekaligus membuka koridor pelayaran baru. Kapal yang memasuki area tertentu dapat dimasukkan ke dalam daftar sanksi Iran.
“Kami hanya akan berkomitmen untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka jika mereka menghentikan sabotase, ancaman, dan serangan terhadap Iran,” kata Rezaei.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sebelumnya telah merosot tajam. Rata-rata hanya sekitar 10 kapal pengangkut komoditas yang melintas setiap hari dalam 10 hari terakhir, menjadi angka terendah sejak Mei.
Baca Juga: Prabowo Mau Semua Warga Indonesia Punya Rekening Bank
Negara Arab Siapkan Jalur Ekspor Alternatif
Dampak konflik juga dirasakan negara-negara Arab penghasil minyak, termasuk Uni Emirat Arab (UEA).
UEA menghadapi serangan rudal Iran serta gangguan terhadap kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Kondisi tersebut mendorong Abu Dhabi menyiapkan jalur alternatif untuk menjaga ekspor energi dan aktivitas perdagangan.
Penasihat Presiden UEA Anwar Gargash mengatakan pemerintah tengah membangun jalur alternatif tersebut agar kegiatan ekonomi negaranya tidak terganggu oleh konflik yang terus berlangsung.
Langkah itu dilakukan untuk memastikan aktivitas ekonomi UEA tidak “disandera” oleh perang yang kembali meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan dan pasokan energi di kawasan Teluk.
