Trump Tak Menyesal Perang Iran Meski Hadapi Pemilu
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan tidak menyesal telah membawa negaranya berperang melawan Iran. Sikap tersebut tetap dipertahankan meski konflik berpotensi memengaruhi hasil pemilu sela AS yang akan digelar November mendatang.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara bersama pembawa acara Fox News, Laura Ingraham. Ia ditanya mengenai kemungkinan penyesalan atas keputusan perang karena dampaknya terhadap pemilu.
“Saya tidak percaya pada kata ‘penyesalan’. Anda selalu bisa sedikit mempertanyakan diri sendiri,” kata Trump dalam wawancara yang disiarkan Kamis melalui program The Ingraham Angle, dikutip Reuters, Jumat (11/9/2026).
Trump bahkan mengatakan dirinya akan mengambil keputusan yang sama apabila kembali menghadapi situasi serupa.
Baca Juga : Breaking! Gaji Pejabat Singapura Naik 60 Persen
“Jika saya harus melakukannya lagi, saya akan melakukan persis seperti yang saya lakukan,” ujar Trump.
Trump Bantah Pendukungnya Kecewa
Trump juga membantah anggapan bahwa perang melawan Iran membuat sebagian pendukungnya kehilangan semangat atau kecewa terhadap pemerintahannya.
“Saya tidak berpikir mereka kehilangan semangat. Saya pikir mereka sangat bangga karena saya tidak membiarkan Iran memiliki senjata nuklir,” kata Trump.
Ia kembali menyampaikan keyakinannya bahwa konflik tersebut akan segera berakhir setelah pemilu sela AS. Trump bahkan memberikan perkiraan waktu yang cukup tegas mengenai berakhirnya perang.
“Ini akan berakhir tepat setelah pemilu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut bukan kali pertama disampaikan Trump. Sehari sebelumnya, ia juga mengatakan perang akan berakhir setelah pemilu sela yang akan menentukan masa depan kekuasaan Partai Republik di Kongres.
Trump sebelumnya menuding Teheran berupaya memengaruhi proses pemilu tersebut.
Harga Minyak Jadi Tantangan bagi Partai Republik
Di tengah konflik, kenaikan harga minyak dan gas menjadi salah satu persoalan yang berpotensi membebani Partai Republik menjelang pemilu.
AS dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Konflik tersebut turut berdampak luas terhadap kawasan Timur Tengah. Serangkaian serangan AS dan Israel terhadap Iran, ditambah serangan Israel ke Lebanon, dilaporkan telah menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan lainnya mengungsi.
Trump menjadikan upaya melemahkan kemampuan nuklir Iran sebagai salah satu alasan utama dilancarkannya perang.
Baca Juga : Trump Klaim Bulan Milik Amerika Serikat, Ini Aturan Antariksanya
Namun, Iran diketahui tidak memiliki senjata nuklir dan selama ini menyatakan bahwa program pengayaan uraniumnya digunakan untuk tujuan damai. Di sisi lain, AS merupakan salah satu negara yang memiliki persenjataan nuklir.
Dengan kondisi tersebut, keputusan Trump mempertahankan perang menjadi perhatian menjelang pemilu sela, terutama karena dampak konflik terhadap harga energi dan kondisi ekonomi AS dapat menjadi isu penting bagi pemilih.

An Engaging Blog Post