Saudi Minta Trump Serang Houthi, AS Tolak Terjun Langsung
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat dan mulai membayangi keamanan jalur energi dunia. Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memasuki bulan ketujuh turut menempatkan Arab Saudi dalam situasi sulit setelah kelompok Houthi di Yaman, yang memiliki hubungan dengan Iran, meningkatkan tekanan militernya.
Menghadapi kondisi tersebut, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan meminta bantuan langsung kepada Presiden AS Donald Trump.
Menurut laporan eksklusif Reuters yang mengutip tiga sumber internal, MBS setidaknya dua kali berbicara melalui telepon dengan Trump. Dalam percakapan tersebut, pemimpin Saudi itu mendesak AS melakukan serangan terhadap sejumlah basis Houthi di Yaman.
Baca Juga : Pakistan Nyatakan Siap Lindungi Saudi Jika Diserang Houthi
Permintaan itu muncul setelah Houthi mencatat kemajuan di kawasan pesisir Laut Merah dan menguasai Pulau Perim yang berada di Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran strategis dunia.
Namun, Washington tidak memenuhi permintaan Riyadh. Trump disebut memilih untuk tidak mengerahkan pasukan AS dalam serangan langsung terhadap Houthi.
Sebagai gantinya, AS menawarkan dukungan berupa pertukaran informasi intelijen dan bantuan dalam menentukan sasaran militer. Pilihan tersebut menunjukkan keengganan Washington membuka medan perang baru di tengah konflik yang sudah meluas di kawasan.
Laut Merah Jadi Jalur Penting bagi Saudi
Situasi di Laut Merah menjadi persoalan serius bagi Arab Saudi karena jalur energi alternatif semakin terbatas.
Konflik AS-Iran telah membuat Selat Hormuz praktis tertutup sebagai jalur utama pengiriman energi. Selat tersebut sebelumnya menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia.
Akibatnya, Arab Saudi semakin bergantung pada jalur Laut Merah untuk menjaga kelancaran ekspor minyaknya.
Penguasaan Houthi atas kawasan strategis di sekitar Bab el-Mandeb berpotensi menambah tekanan terhadap arus perdagangan dan energi internasional. Jika jalur tersebut terganggu, pasar minyak global berisiko kembali menghadapi lonjakan harga, dikutip dari Reuters, Minggu (13/9/2026).
Bagi Riyadh, ancaman tersebut menjadi semakin serius karena Bab el-Mandeb merupakan pintu masuk penting menuju Laut Merah.
Trump Hadapi Dilema Politik di Dalam Negeri
Keputusan Trump untuk tidak melakukan serangan langsung juga tidak terlepas dari situasi politik di AS.
Perang berkepanjangan dengan Iran telah mendorong kenaikan harga minyak dan bensin di Amerika Serikat. Kondisi tersebut ikut menekan tingkat kepuasan publik terhadap Trump menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan fokus Washington saat ini adalah menjaga kebebasan navigasi di Laut Merah.
Pemerintah AS juga mendorong negara-negara di kawasan untuk mengambil tanggung jawab lebih besar dalam menghadapi persoalan keamanan di wilayah masing-masing.
Pendekatan tersebut membuat Washington tetap memberikan dukungan kepada sekutunya tanpa harus terlibat langsung dalam perang melawan Houthi.
Hubungan Saudi dan Houthi Kembali Memburuk
Hubungan Arab Saudi dengan Houthi kembali memburuk pada awal Juli lalu setelah insiden di Bandara Internasional Sanaa. Peristiwa tersebut kemudian ikut mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung selama empat tahun.
Baca Juga : Israel Hancurkan Terowongan Hizbullah, Picu Gempa?
Sebelumnya, Riyadh sempat menyatakan kesiapannya menghadapi ancaman Houthi secara mandiri. Namun, perkembangan militer di lapangan membuat Saudi kembali membutuhkan dukungan Washington.
Permintaan MBS kepada Trump menunjukkan semakin beratnya tekanan yang dihadapi kerajaan tersebut. Di satu sisi, Saudi harus menjaga keamanan jalur ekspor energinya, sementara di sisi lain AS belum bersedia terjun langsung menghadapi Houthi.
Dengan kondisi tersebut, Laut Merah kini menjadi salah satu titik paling rawan dalam konflik Timur Tengah sekaligus jalur yang berpotensi menentukan stabilitas pasokan energi global.
