Prabowo Dorong Reformasi PBB di KTT BRICS 2026
Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pandangan strategis dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026).
Dalam sesi rapat terbatas tersebut, Prabowo menyampaikan pandangannya di hadapan sejumlah pemimpin negara, termasuk Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden China Xi Jinping.
Prabowo menyoroti pentingnya peran BRICS dalam menjaga stabilitas pasokan pangan dan energi dunia sekaligus membangun sistem multilateral yang dapat mengakomodasi kepentingan seluruh negara.
Baca Juga: Terowongan Hizbullah Dihancurkan Israel, Picu Gempa M 4,1
Menurut dia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus tetap menjadi pusat sistem multilateral karena menjadi wadah yang menempatkan negara-negara dalam posisi setara.
“Agar hal ini berhasil, kita harus tetap menempatkan PBB sebagai pusat sistem tersebut,” ujar Prabowo.
Prabowo Soroti Kebutuhan Reformasi PBB dan Sistem Ekonomi Global
Meski menempatkan PBB sebagai poros utama, Prabowo menilai organisasi internasional tersebut membutuhkan reformasi agar mampu menghadapi perubahan dan kompleksitas situasi global.
“Agar PBB dapat menjalankan peran sentral tersebut secara efektif, PBB harus direformasi. PBB harus menjadi lebih representatif, lebih responsif, dan lebih mampu memberikan hasil nyata bagi masyarakat kita,” tegasnya.
Dalam forum yang sama, Prabowo juga menekankan pentingnya kedaulatan negara dan ketahanan energi.
Menurutnya, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan, menjamin pasokan energi, menyediakan pendidikan berkualitas, dan membuka peluang kesejahteraan menjadi fondasi bagi negara yang tangguh dan mandiri.
“Kita tidak ingin didikte oleh satu atau dua kekuatan. Kita harus tangguh dan dengan demikian kita benar-benar menjadi negara yang merdeka,” kata Prabowo.
Ia juga mendorong penguatan kerja sama energi antarnegara BRICS untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan ketahanan kawasan.
“Energi adalah salah satu contoh yang jelas, kita menghubungkan sistem energi kita dan memperkuat keamanan energi di seluruh wilayah kita untuk mendorong perekonomian kita, dan membangun ketahanan yang berkelanjutan,” paparnya.
Prabowo menyebut BRICS memiliki posisi strategis karena mewakili lebih dari separuh populasi dunia serta mencakup porsi besar ekonomi dan perdagangan global.
Menurutnya, kekuatan kolektif tersebut dapat mempertemukan pasar besar dunia dengan negara-negara produsen energi utama.
Baca Juga: Bergerak ke Selat Bab El Mandeb, Houthi Rebut Mokha
Prabowo juga menolak penggunaan perdagangan dan mata uang sebagai instrumen politik maupun senjata ekonomi.
“Perdagangan dan mata uang tidak boleh dijadikan senjata. Keduanya harus lebih mampu merespons kebutuhan negara-negara berkembang, termasuk dengan memberikan akses yang lebih baik terhadap sumber daya,” seru Prabowo.
Ia mendorong BRICS memperkuat kapasitas finansial untuk meningkatkan ketahanan global, terutama melalui mobilisasi sumber daya bagi pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi negara-negara Global South.
“Inilah jenis kekuatan kolektif yang kita butuhkan. Kekuatan yang tidak hanya tertulis di atas kertas, tetapi diterjemahkan menjadi peluang bagi masyarakat kita,” pungkasnya.
