Trump Klaim Presiden Ber-IQ Tinggi Bisa Kendalikan AI
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak seruan sejumlah petinggi perusahaan kecerdasan buatan (AI) agar pemerintah memberlakukan pembatasan terhadap pengembangan teknologi tersebut.
Trump justru mengeklaim dirinya sebagai sosok yang dibutuhkan untuk mengendalikan perkembangan AI.
“Satu-satunya kontrol yang dibutuhkan AI adalah PRESIDEN YANG KUAT DAN PINTAR (IQ tinggi!), dan AS sudah memilikinya,” tulis Trump melalui media sosial pada Senin (15/9/2026), seperti dikutip The New York Times.
Trump juga mengatakan pemerintahannya telah menghentikan pihak-pihak di industri AI melakukan tindakan yang dianggap buruk atau berpotensi menimbulkan dampak buruk.
“Kami sudah memiliki kekuatan PIDANA dan REGULASI yang luar biasa terhadap perusahaan-perusahaan ini!” tambahnya.
Namun, menurut The New York Times, belum jelas kewenangan apa yang dimaksud Trump maupun tindakan yang telah dilakukan pemerintahannya untuk mencegah bahaya AI.
AS memang memiliki undang-undang yang dapat digunakan untuk menindak peretasan secara sengaja terhadap sistem lain, tetapi belum jelas apakah tindakan agen AI yang secara mandiri meretas jaringan akan tercakup dalam aturan tersebut.
Baca Juga: Rusia Serang Kereta Dekat Perbatasan Polandia, NATO Bersiaga
Trump Sebut Kekhawatiran soal AI sebagai Hoaks
Trump juga menepis kekhawatiran mengenai potensi bahaya AI, termasuk anggapan bahwa teknologi tersebut dapat mengambil alih dunia dan menghancurkan umat manusia.
Ia menyebut kekhawatiran tersebut sebagai berita hoaks dan membandingkannya dengan peringatan mengenai perubahan iklim yang juga dianggapnya sebagai hoaks.
Padahal, sejumlah peneliti dan pemimpin industri sebelumnya telah memperingatkan berbagai risiko AI, termasuk potensi pengangguran massal, munculnya senjata biologis, hingga peperangan otonom.
Trump tidak secara langsung membahas risiko-risiko tersebut dan justru mempertanyakan ketulusan para eksekutif perusahaan AI yang menyerukan perlambatan pengembangan teknologi.
Sehari sebelumnya, Senin (14/9/2026), Trump menelepon CEO Nvidia Jensen Huang ketika Huang sedang berada di atas panggung dalam sebuah konferensi teknologi di Los Angeles.
Trump kembali menyebut kekhawatiran mengenai keselamatan AI sebagai sesuatu yang berlebihan.
“Itu hoaks,” kata Trump ketika Huang menyalakan pengeras suara teleponnya di hadapan peserta konferensi.
“Robot tidak akan mengambil alih dunia,” lanjut Trump.
Trump kemudian kembali membahas AI melalui media sosial dan menyebut anggapan bahwa AI akan mengambil alih dunia, menghancurkan umat manusia, serta menimbulkan berbagai keburukan lainnya sebagai “HOAX”.
Bos AI Serukan Perlambatan
Pernyataan Trump muncul setelah CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan perlambatan pengembangan AI secara global melalui sebuah esai pada akhir pekan.
Beberapa hari sebelumnya, seorang peneliti Anthropic juga mengundurkan diri dan secara terbuka menyampaikan kekhawatirannya mengenai keselamatan teknologi AI.
Pemerintahan Trump sebelumnya terlibat perselisihan dengan Anthropic setelah perusahaan tersebut menolak memberikan akses tanpa batas kepada Pentagon terhadap sistem AI miliknya karena menginginkan sejumlah pengamanan.
Trump kemudian memerintahkan pemerintah federal menghentikan penggunaan teknologi AI Anthropic dan melabeli perusahaan tersebut sebagai risiko keamanan.
Namun, seorang hakim federal kemudian menyatakan penetapan tersebut melanggar hukum.
Sejumlah pimpinan perusahaan AI lainnya, termasuk Ketua Google DeepMind Demis Hassabis, CEO SpaceX Elon Musk, dan CEO OpenAI Sam Altman, juga mendukung seruan agar pengembangan AI dilakukan lebih lambat.
Trump Baru Mengenal AI Saat Kampanye 2024
Trump disebut baru mengenal AI secara lebih dekat menjelang kampanye pemilihan presiden AS 2024.
Saat itu, eksekutif OpenAI memberikan demonstrasi teknologi kepada Trump di Las Vegas.
Berdasarkan buku Regime Change karya jurnalis The New York Times Maggie Haberman dan Jonathan Swan, Trump terkesan dengan kemampuan ChatGPT membuat puisi secara instan.
Dalam pertemuan tersebut, Trump juga bertanya mengenai cara kerja teknologi itu serta bagaimana seorang presiden dapat mengatasi hambatan regulasi agar industri AI dapat berkembang.
Setelah kembali ke Gedung Putih, Trump kemudian berpihak pada kelompok yang mendorong percepatan pengembangan AI dan meminta pemerintah mengurangi hambatan terhadap pertumbuhan industri tersebut.
Trump antara lain dipengaruhi CEO Nvidia Jensen Huang dan investor Silicon Valley David Sacks yang turut membentuk kebijakan AI pemerintahannya.
Keduanya berpendapat bahwa penerapan pengamanan baru terhadap perusahaan AI AS dapat memberikan keuntungan bagi China dalam persaingan teknologi.
Trump pada Senin juga menuding adanya konspirasi terhadap AI dan pembangunan pusat data di AS.
Ia memprediksi industri AI akan menjadi mesin pengembangan ekonomi terbesar dalam sejarah, bahkan lebih besar daripada minyak, emas, berlian, maupun internet.
“SIAPA PUN YANG MEMENANGKAN AI, MENANG!” tulis Trump.
Baca Juga: Purbaya Lega Tak Lagi Urus Utang Whoosh, Kenapa?
Negara Lain Dorong Pengawasan
Berbeda dengan Trump yang menolak seruan regulasi baru, sejumlah pemerintah di luar AS justru mendorong koordinasi dan pengawasan yang lebih ketat terhadap AI.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney pada Senin mengatakan dirinya mendukung pembentukan badan global untuk menjaga stabilitas teknologi dan mengawasi AI.
Ia mengusulkan badan tersebut memiliki fungsi yang mirip dengan Financial Stability Board.
China juga meningkatkan peringatan mengenai risiko AI.
Menteri Keamanan China Chen Yixin baru-baru ini memperingatkan bahwa model AI terkemuka dapat menimbulkan risiko terhadap sistem China dan menyerukan pengawasan pemerintah yang lebih ketat.
