Krisis Listrik Libya Makin Parah, Padahal Negara Kaya Minyak
Krisis listrik yang telah menghantui Libya selama bertahun-tahun kini semakin membebani dunia usaha. Gelombang panas ekstrem yang terjadi musim panas ini membuat kondisi semakin buruk di tengah kelangkaan listrik dan bahan bakar.
Dilansir Arab News, Senin (21/09/2026), lonjakan suhu dan gangguan energi global memperparah sejumlah persoalan domestik Libya. Infrastruktur yang menua, distribusi energi yang bermasalah hingga praktik penyelundupan bahan bakar membuat krisis semakin sulit dikendalikan.
Ironisnya, kondisi tersebut terjadi di negara yang memiliki posisi sebagai salah satu produsen minyak utama Afrika Utara dan sedang berupaya meningkatkan ekspor gas ke Eropa.
Naseem Al-Akkari, pemilik jaringan restoran di Tripoli, mengatakan krisis listrik telah membuat usahanya mengalami kerugian yang diperkirakan mencapai US$40.000 atau sekitar Rp704 juta dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga : Korea Utara Kembali Luncurkan Rudal, Korsel Siaga
“Generator harus terus menyala untuk mencegah barang membusuk. Anda tidak punya pilihan selain membeli solar dari pasar gelap agar tetap beroperasi,” ungkapnya saat sesi wawancara yang diwarnai oleh pemadaman listrik hingga lebih dari 10 kali.
Pemadaman Listrik Bikin Pelaku Usaha Tercekik
Di Qasr Bin Ghashir, kawasan selatan Tripoli, pemadaman dapat berlangsung hingga 36 jam. Kondisi tersebut membuat Al-Akkari harus mengeluarkan sekitar 10.000 dinar Libya atau hampir US$1.600 (Rp28,16 juta) setiap hari hanya untuk menjalankan generator.
Beban serupa dirasakan Sufian Boushaala, manajer toko kue keluarga di Benghazi, Libya timur. Pemadaman listrik yang berkepanjangan membuat bisnisnya terpaksa mengurangi jumlah pekerja dan pada beberapa kesempatan harus menghentikan operasional selama satu hari penuh.
Krisis energi juga berdampak pada ketersediaan air. Pasokan dari Proyek Sungai Buatan Raya, jaringan pipa yang mengalirkan air tanah dari kawasan Sahara, dilaporkan terhenti sepenuhnya setelah Perusahaan Listrik Umum Libya (GECOL) mengumumkan terjadinya pemadaman total.
GECOL tidak memberikan tanggapan atas permintaan wawancara mengenai persoalan tersebut.
Kelangkaan Solar Picu Antrean hingga Dua Kilometer
Masalah energi Libya tidak berhenti pada listrik. Kelangkaan bahan bakar juga semakin parah.
Antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar di wilayah timur dan barat Libya kini dapat mencapai dua kilometer. Kedua wilayah tersebut masih berada di bawah pemerintahan yang saling bersaing sejak konflik sipil pada 2014.
Di tengah kelangkaan, harga solar di pasar gelap melonjak hingga 11 dinar Libya per liter atau sekitar US$1,70 (Rp29.920). Angka tersebut jauh di atas harga resmi yang masih mendapat subsidi pemerintah, yakni hanya 0,15 dinar per liter.
Utusan Khusus PBB untuk Libya, Hanna Tetteh, menggambarkan situasi tersebut sebagai “paradoks yang mencolok” dalam pengarahan pada Agustus lalu.
Pasalnya, Libya mengeluarkan sekitar US$1 miliar atau Rp17,6 triliun setiap bulan untuk mengimpor bahan bakar.
Gelombang Panas hingga Penyelundupan Jadi Pemicu
Kontributor Royal United Services Institute (RUSI), Jalel Harchaoui, menyebut gelombang panas menjadi salah satu pemicu langsung memburuknya krisis listrik Libya.
Suhu tinggi membuat masyarakat meningkatkan penggunaan pendingin udara. Lonjakan konsumsi tersebut kemudian memberikan tekanan besar terhadap jaringan listrik yang sudah bermasalah.
Situasi diperburuk oleh rendahnya produksi gas alam. Akibatnya, sejumlah pembangkit listrik harus menggunakan bahan bakar cair sebagai pengganti gas.
Namun, pasokan bahan bakar cair juga menghadapi persoalan karena maraknya penyelundupan.
Libya memang mempunyai cadangan minyak mentah terbukti terbesar di Afrika Utara. Meski demikian, negara tersebut masih bergantung pada impor produk minyak olahan yang kemudian dijual kepada masyarakat dengan harga subsidi.
Menurut sejumlah analis dan pakar PBB, sebagian bahan bakar yang masuk ke Libya justru dialihkan secara ilegal ke luar negeri untuk memperoleh keuntungan.
The Sentry, kelompok pengawas berbasis di Amerika Serikat, memperkirakan pada akhir tahun lalu bahwa praktik penyelundupan bahan bakar menyebabkan kerugian sekitar US$6,7 miliar atau Rp117,92 triliun setiap tahun.
Lembaga tersebut memperkirakan lebih dari separuh bahan bakar impor Libya disedot oleh jaringan kriminal.
Infrastruktur Tua Perparah Krisis Energi
Selain penyelundupan dan korupsi, buruknya infrastruktur juga menjadi persoalan besar.
Juru Bicara Brega Petroleum Marketing, Ahmad Al-Mesllati, mengatakan sembilan tangki penyimpanan bahan bakar di Tripoli yang rusak akibat perang pada 2014 hingga kini belum diperbaiki.
Padahal, lima kilang utama Libya secara teori memiliki kemampuan mengolah sekitar 380.000 barel minyak per hari. Namun, laporan Badan Audit dan Otoritas Nasional Antikorupsi Libya pada Juni menunjukkan produksi sebenarnya berada jauh di bawah kapasitas tersebut.
Kondisi semakin sulit setelah serangan drone pada bulan lalu menghantam kompleks minyak di Zawiya, lokasi kilang utama Libya.
Menurut Al-Mesllati, gangguan terhadap jalur pelayaran melalui Selat Hormuz juga turut menyebabkan keterlambatan pengiriman bahan bakar. Beberapa pengiriman bahkan mengalami penundaan hingga 12 hari.
Krisis Disebut Cerminan Masalah Libya
Peneliti Chatham House, Tim Eaton, menilai krisis listrik yang terjadi saat ini mencerminkan berbagai persoalan mendasar yang dihadapi Libya.
Menurutnya, Libya sebenarnya mengimpor bahan bakar dalam jumlah yang lebih besar daripada kebutuhan untuk menghasilkan listrik. Namun, sebagian pasokan tersebut justru hilang akibat korupsi yang disebut mendapat perlindungan politik serta lemahnya kelembagaan negara.
Baca Juga : Trump Dua Kali Batalkan Serangan ke Houthi, Bom Siap?
“Rakyat Libya menanggung biayanya dan mendapat sedikit imbalan,” pungkas Eaton.
Pemerintah melalui Brega Petroleum Marketing telah mencoba mengurangi tekanan dengan menyediakan stasiun pengisian bahan bakar keliling. Setiap kendaraan dibatasi maksimal membeli 300 liter.
Namun, kebijakan tersebut belum mampu menghilangkan antrean panjang. Warga masih harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bensin.
“Kami hidup melalui sebuah lelucon, lelucon yang keterlaluan,” keluh seorang warga bernama Khaled Al-Turki saat mengantre bahan bakar di pusat kota Tripoli.
“Apakah masuk akal jika negara penghasil minyak tidak dapat menemukan solusi untuk kekurangan bensin dan solar? Negara macam apa ini?” pungkasnya.
