Trump Dua Kali Batalkan Rencana Serang Houthi, Bom Sudah Siap
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dua kali berubah pikiran terkait rencana serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman.
Menurut laporan New York Times, keputusan tersebut terjadi setelah Trump mendapat tekanan dari Mohammed bin Salman, pemimpin de facto Arab Saudi yang merupakan salah satu sekutu utama AS dalam perang melawan Iran.
Mohammed bin Salman disebut berulang kali meminta Trump membantu membendung pergerakan Houthi.
Trump kemudian sempat memerintahkan Pentagon menyiapkan serangan terhadap kelompok tersebut.
Padahal, sehari sebelum menerima telepon dari Mohammed bin Salman, Trump disebut telah mengatakan kepada para penasihatnya bahwa dirinya tidak mendukung serangan terhadap Houthi.
Namun, pada Minggu (20/9/2026), Trump kembali tampak membatalkan rencana tersebut.
Menurut sejumlah pejabat pemerintahan AS, tidak akan ada serangan udara terhadap Houthi, setidaknya untuk sementara waktu.
Rencana serangan tersebut dinilai berisiko membuka front baru dalam perang melawan Iran yang telah dimulai Trump sejak Februari 2026.
Kantor pers Gedung Putih menolak memberikan komentar mengenai pertimbangan Trump dalam mengambil keputusan tersebut.
Sementara itu, seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan Washington memiliki perjanjian pertahanan dengan Arab Saudi dan akan selalu membela sekutunya.
Baca Juga: Mamdani Terkejut setelah Pramono Ungkap Transportasi Gratis Jakarta
Bom Sudah Dimuat ke Pesawat AS
Keputusan Trump membatalkan serangan terjadi ketika persiapan militer AS telah berlangsung.
Menurut dua orang yang mendapat pengarahan mengenai operasi tersebut, para komandan militer AS telah menyetujui daftar target yang akan diserang.
Personel militer bahkan telah memuat bom ke pesawat-pesawat tempur AS.
Gelombang serangan disebut tinggal beberapa saat lagi dimulai ketika Trump kembali menarik diri dari rencana tersebut.
Dalam percakapan melalui telepon dengan Fox News pada Minggu pagi, Trump mengatakan dirinya masih mempertimbangkan langkah yang akan diambil dalam perang yang lebih luas melawan Iran.
Terkait Houthi, Trump mengatakan AS masih berkomunikasi dengan kelompok tersebut.
Menurut laporan reporter Fox News Trey Yingst, Trump juga mengatakan Houthi sejauh ini telah sepakat untuk tidak memerangi AS.
Houthi Kuasai Sejumlah Wilayah di Laut Merah
Houthi telah berperang melawan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi sejak 2014.
Kekerasan kemudian berkurang setelah gencatan senjata berlaku pada 2022.
Namun, Houthi kembali terlibat dalam konflik sejak Juli 2026.
Kelompok tersebut menyatakan blokade terhadap pelayaran Arab Saudi di Laut Merah dan melancarkan serangan terhadap kapal-kapal Saudi.
Dalam pertempuran tersebut, Houthi merebut sejumlah wilayah penting di dekat Selat Bab El-Mandeb, salah satu jalur sempit dan strategis di Laut Merah.
Penguasaan kawasan tersebut turut mengganggu pasar energi global yang sebelumnya telah terdampak perang AS-Israel melawan Iran.
Sejumlah diplomat serta komandan AS, baik yang masih aktif maupun yang pernah bertugas di Timur Tengah, meragukan efektivitas kampanye pengeboman untuk memaksa Houthi bernegosiasi dan meninggalkan tuntutan mereka.
Baca Juga: IRGC Sebut AS Tidak Berani Akui Kekalahan dalam Perang
AS Pernah Bombardir Houthi Selama 50 Hari
AS sebelumnya telah melancarkan kampanye pengeboman terhadap Houthi selama lebih dari 50 hari pada 2025.
Operasi tersebut bertujuan memulihkan kebebasan navigasi di Laut Merah sekaligus menghentikan serangan Houthi terhadap kapal komersial dan kapal perang AS.
Selama operasi berlangsung, Komando Pusat AS menyerang lebih dari 1.000 target.
Target tersebut mencakup sistem radar, pertahanan udara, lokasi rudal balistik, area peluncuran drone, serta pusat produksi drone di sekitar Sana’a, ibu kota Yaman.
Houthi kemudian membalas dengan menembak jatuh sejumlah drone AS dan tetap menyerang kapal-kapal militer di Laut Merah, termasuk sebuah kapal induk AS.
Operasi tersebut juga menghabiskan persenjataan dan amunisi AS dengan biaya sekitar 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 17 triliun hanya dalam bulan pertama.
Dalam operasi tersebut, dua jet tempur F/A-18 Super Hornet yang ditugaskan untuk menyerang Houthi secara tidak sengaja jatuh dari kapal induk AS ke laut.
Kurang dari dua bulan setelah operasi militer dimulai, Trump secara tiba-tiba mengumumkan gencatan senjata dengan Houthi.
Saat itu, Trump mengatakan Houthi telah berjanji untuk tidak lagi menyerang kapal-kapal dan AS menghormati janji tersebut.
Houthi kemudian menghentikan serangan terhadap kapal-kapal AS.
