Pemimpin Yaman Minta Trump Lawan Houthi, Ini Respons AS
Pemimpin pemerintahan Yaman sekaligus kepala Presidential Leadership Council (PLC) yang didukung Arab Saudi, Rashad Al-Alimi, meminta bantuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menghadapi kelompok Houthi.
Permintaan itu disampaikan Al-Alimi dalam percakapan melalui telepon dengan Trump pada Minggu (20/9/2026). Menurut seorang sumber dari kantor Al-Alimi kepada AFP, Senin (21/9/2026), Trump tidak memberikan komitmen untuk mengerahkan dukungan militer kepada Yaman.
Al-Alimi meminta bantuan tersebut setelah Houthi melancarkan serangan ke Riyadh pada Sabtu (19/9/2026). Aksi tersebut menjadi serangan pertama Houthi yang menyasar ibu kota Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.
MBS Kembali Desak Trump Serang Houthi
Desakan agar AS mengambil tindakan terhadap Houthi juga datang dari Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS).
Baca Juga : Krisis AS Disebut Lebih Parah dari Pendemi Covid-19
The New York Times melaporkan MBS menghubungi Trump melalui telepon pada Minggu untuk kembali meminta bantuan AS dalam menghadapi Houthi.
Trump sempat merespons permintaan tersebut dan Pentagon bahkan telah menyiapkan pesawat pengebom. Namun, rencana serangan tersebut kemudian dibatalkan.
Permintaan MBS bukan pertama kalinya disampaikan kepada Trump. Pada 11 September, menurut laporan Axios yang dikutip The Jerusalem Post, MBS dua kali menelepon Trump dan meminta AS melancarkan serangan terhadap Houthi.
Trump kemudian menolak permintaan tersebut. Pejabat AS juga menyatakan pemerintahan Trump saat itu tidak memiliki rencana untuk melakukan aksi militer secara langsung terhadap Houthi.
Meski tidak melakukan intervensi militer langsung, Washington tetap memberikan dukungan kepada Arab Saudi dalam konflik tersebut.
Menurut laporan Axios, AS memberikan bantuan intelijen kepada Arab Saudi. Selain itu, sekitar 200 personel militer AS berada di Arab Saudi untuk memberikan dukungan nontempur.
Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan kepada Axios bahwa AS memiliki kepentingan untuk menjaga Laut Merah tetap terbuka. Sementara itu, penyelesaian konflik dengan Houthi diserahkan kepada negara-negara mitra AS di kawasan Timur Tengah.
Houthi Kuasai Selat Bab El-Mandeb
Di sisi lain, Houthi disebut kini menguasai wilayah pesisir strategis yang menghadap Selat Bab El-Mandeb. Wilayah tersebut direbut dari pasukan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi.
Penguasaan kawasan itu memperkuat posisi Iran dan kelompok sekutunya di sekitar jalur perairan strategis tersebut. Selat Bab El-Mandeb memiliki peran penting bagi negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi yang merupakan salah satu eksportir minyak mentah utama.
Baca Juga : Negara Kaya Minyak, Tapi Krisis Listrik di Libya Makin Parah
Konflik antara Houthi dan Arab Saudi kembali pecah pada Juli setelah gencatan senjata yang telah berlangsung sejak 2022 runtuh.
Houthi sebelumnya mengizinkan sebuah pesawat Iran mendarat di Sana’a. Langkah tersebut disebut sebagai bentuk penentangan terhadap kendali Riyadh atas wilayah udara Yaman.
Kelompok bersenjata itu kemudian mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Setelahnya, Houthi mulai melancarkan serangan terhadap kapal dan wilayah Arab Saudi.
Arab Saudi bahkan melaporkan bahwa Houthi telah menyerang Mekkah, kota suci umat Islam.
