Energi Terbarukan Terjamin, Bahlil Ajak Investor Bangun Data Center di Indonesia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengajak investor membangun pusat data atau data center di Indonesia. Ia menawarkan potensi energi terbarukan yang dinilai mampu mendukung kebutuhan listrik industri digital yang terus meningkat.
Salah satu sumber energi yang ditawarkan berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Mamberamo di Papua dengan potensi sekitar 23 gigawatt (GW). Sementara itu, Sungai Kayan di Kalimantan memiliki potensi tenaga air sekitar 12 GW.
Menurut Bahlil, kebutuhan energi di berbagai negara mulai menghadapi tekanan seiring pesatnya perkembangan industri digital. Kondisi tersebut semakin terasa karena industri data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar sekaligus mendorong permintaan terhadap energi baru terbarukan (EBT).
Baca Juga : Menkeu AS Pertanyakan Delegasi Iran Pulang usai Penerbangan Stop
“Kita tahu bahwa di beberapa negara sekarang kebutuhan terhadap energi sudah mulai ngos-ngosan, apalagi energi baru terbarukan. Data center, wah, ini banyak sekali. Bapak-Ibu semua, tidak perlu ragu para investor kalau membangun data center di Indonesia,” ujar Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 in Partnership with Enlit Asia di ICE BSD, Tangerang, dikutip Kamis (24/9/2026).
Bahlil menyebut kondisi geografis Indonesia sebagai salah satu modal untuk menarik investasi di sektor energi dan industri digital. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan sumber energi yang beragam, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi hingga angin.
Ia pun menawarkan sejumlah wilayah yang memiliki potensi energi besar kepada investor.
“Ada yang membangun di Kalimantan, ada yang membangun di Sumatera. Kalau ada yang mau air, PLTA di Papua, Sungai Mamberamo itu potensinya 23 gigawatt. Kalau di Kalimantan, di Kayan, kurang lebih sekitar 12 gigawatt. Banyak sekali,” katanya.
Dengan potensi tersebut, Bahlil melihat Indonesia memiliki peluang untuk menyediakan pasokan listrik berbasis energi bersih bagi industri data center yang membutuhkan energi dalam jumlah besar.
Bahlil mengatakan ketersediaan energi bersih semakin penting bagi industri pusat data. Perusahaan teknologi global kini semakin mempertimbangkan penggunaan energi terbarukan dalam menjalankan pusat data mereka.
Pemerintah juga terus mendorong pengembangan pembangkit berbasis EBT sebagai bagian dari agenda transisi energi dan target net zero emission (NZE) pada 2050-2060.
Baca Juga : AS-China Perpanjang Gencatan Senjata hingga Awal 2027
Salah satu langkahnya melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, dengan sekitar 70 persen di antaranya berasal dari EBT.
Selain itu, pemerintah juga tengah mendorong pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan target kapasitas 100 GW yang ditargetkan selesai dalam tiga tahun.
“Ini bukan hanya sekadar tema, tetapi langsung dibuat program yang konkret,” tegas Bahlil.
Melalui pengembangan sumber energi tersebut, pemerintah berharap ketersediaan listrik bersih dapat sekaligus mendukung ekspansi industri digital dan meningkatkan daya tarik investasi pusat data di Indonesia.
