Menkeu AS Bingung Delegasi Iran Pulang, Penerbangan Terhenti
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent, mempertanyakan bagaimana delegasi Iran yang menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York dapat kembali ke negaranya.
Pernyataan itu disampaikan setelah pemerintahan AS memperketat sanksi terhadap sektor penerbangan Iran. Kebijakan tersebut membuat sebagian besar penerbangan internasional dari Iran dihentikan dan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
“Saya tidak yakin bagaimana perwakilan Iran di PBB akan pulang,” kata Bessent kepada Fox News, Rabu (23/9/2026).
Bessent mengatakan sekitar 80 hingga 90 persen penerbangan eksternal dari Iran telah berhenti setelah sanksi baru mulai diberlakukan.
Baca Juga : Krisis Dolar di Maladewa Makin Parah, Presiden Tertekan
Sebelumnya, pada Senin (21/9/2026), Bessent telah memperingatkan maskapai Iran kemungkinan tidak dapat menjalankan penerbangan internasional mulai Rabu. Perusahaan asing yang memberikan layanan kepada maskapai Iran juga terancam terkena sanksi sekunder AS.
Sejumlah Rute Penerbangan Iran Dihentikan
Dampak kebijakan tersebut mulai terlihat di sejumlah negara yang menjadi tujuan penerbangan Iran.
Georgia dan Azerbaijan mengonfirmasi penghentian penerbangan dari Iran. Otoritas penerbangan Azerbaijan menyatakan penerbangan maskapai Iran menuju negara tersebut dihentikan mulai Selasa (22/9/2026).
Seorang agen perjalanan di Teheran juga mengatakan kepada AFP bahwa penerbangan menuju Baghdad, Muscat, dan Qatar telah dihentikan. Sejumlah rute menuju kawasan tersebut ikut terdampak setelah negara-negara tujuan menghadapi tekanan terkait sanksi AS.
Turkish Airlines sebelumnya juga menyatakan menghentikan penerbangan ke Iran hingga setidaknya Maret 2027.
Namun, pembatasan tersebut belum membuat seluruh koneksi udara Iran terhenti. Data pelacakan penerbangan menunjukkan sejumlah penerbangan masih berangkat dari Iran menuju beberapa negara, termasuk China.
Data FlightRadar24 bahkan mendeteksi pesawat Mahan Air yang terbang dari Teheran dan mendarat di Guangzhou, China, pada Rabu. Jadwal penerbangan menuju Shanghai juga masih tercatat dari Bandara Internasional Teheran.
China sebelumnya menentang sanksi AS terhadap Iran dan menyebut kebijakan tersebut ilegal.
Penerbangan Iran-Irak Terancam Berhenti
Penghentian penerbangan juga memberikan dampak pada rute Iran-Irak yang banyak digunakan oleh warga Iran, termasuk para peziarah.
Media Iran melaporkan Bandara Baghdad tidak lagi menerima penerbangan dari Iran. Otoritas penerbangan Iran kemudian membahas kemungkinan mengalihkan penerbangan menuju Baghdad ke Bandara Najaf, yang juga menjadi salah satu tujuan utama peziarah Iran.
Sebelumnya, otoritas penerbangan Iran mengatakan penerbangan internasional lainnya, termasuk rute menuju Istanbul, masih berjalan sesuai jadwal.
Sementara itu, sejumlah sumber di Irak mengatakan kepada AFP bahwa Baghdad akan mengikuti langkah pembatasan tersebut. Dua sumber di Otoritas Penerbangan Sipil Irak juga mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah Irak memerintahkan penghentian penerbangan Iran menuju Baghdad mulai tengah malam pada Rabu.
Iran Peringatkan Negara Tetangga
Kepala badan keamanan nasional tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan negara-negara di sekitar Iran agar tidak mengikuti sanksi AS terhadap penerbangan Iran.
“Jika suatu negara bekerja sama atau melakukan petualangan bersama Amerika Serikat, bandara mereka tidak akan lagi dapat mengoperasikan penerbangan ke Iran,” kata Rezaei kepada televisi pemerintah.
Baca Juga : Jepang Minta PBB Hapus Label “Negara Musuh”, Kenapa?
Peringatan tersebut muncul ketika maskapai Iran semakin kesulitan mendapatkan layanan pendukung di luar negeri. AS sebelumnya memperingatkan perusahaan yang memberikan bahan bakar, layanan pendaratan, penjualan tiket, maupun layanan lainnya kepada maskapai Iran dapat terkena sanksi sekunder.
Pembatasan penerbangan turut membuat agen perjalanan di Iran menghadapi peningkatan permintaan informasi dari pelanggan.
Sejumlah agen perjalanan mengatakan pelanggan mulai khawatir dengan kondisi penerbangan dan mencari kepastian mengenai rute yang masih tersedia. Sebagian penumpang bahkan mulai mempertimbangkan perjalanan melalui jalur darat, meskipun pilihan tersebut membutuhkan waktu lebih lama.
Di tengah tekanan tersebut, penerbangan menuju beberapa negara masih tetap tersedia. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar penerbangan internasional Iran telah terdampak, konektivitas udara negara tersebut belum sepenuhnya terputus.
