Trump Tolak Gencatan Senjata Iran, Muncul “Selat Trump”
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan pertempuran dalam waktu tujuh hari. Tidak lama setelah penolakan tersebut dilaporkan, Trump mengunggah gambar bertuliskan “Selat Trump” di platform Truth Social.
Proposal tersebut disampaikan Iran melalui mediator Qatar dalam rangkaian diplomasi di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Tehran menawarkan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut dan dimulainya kembali perundingan nuklir sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik.
Mengutip laporan Wall Street Journal yang diberitakan kembali Daily Mail, Minggu (27/9/2026), kesepakatan itu juga mengharuskan AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Trump kemudian menolak proposal tersebut. Dalam pernyataannya kepada wartawan, ia mengatakan Iran ingin segera membuka Selat Hormuz karena kondisi ekonominya semakin tertekan.
Baca Juga : Trump-Xi Bertemu, Bahas AI hingga Resiko Dagang
Sekitar setengah jam setelah laporan mengenai penolakan Trump beredar, ia mengunggah gambar rekayasa yang menyebut jalur tersebut sebagai “Selat Trump”. Unggahan itu mengingatkan pada kebijakan Trump sebelumnya yang mengubah penyebutan Teluk Meksiko menjadi “Gulf of America”.
Trump Disebut Siapkan Serangan Setelah Pemilu Sela
Laporan Wall Street Journal juga menyebut Trump telah memberi sinyal kepada orang-orang terdekatnya bahwa serangan terhadap Iran dapat kembali dilakukan setelah pemilu sela AS pada November.
Reuters, yang mengutip laporan tersebut, menyebut Trump telah menolak proposal Iran dan mengatakan kepada para pembantunya bahwa ia memperkirakan pemboman dapat dilanjutkan setelah pemilu kongres November. Namun, laporan itu bersumber dari pejabat AS yang tidak disebutkan namanya sehingga belum menjadi pengumuman resmi mengenai rencana operasi militer.
Trump sendiri sebelumnya mengatakan serangan tambahan terhadap Iran sebelum pemilu sela masih mungkin terjadi. Pada saat yang sama, ia juga menyatakan perang dapat segera berakhir.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Tehran tetap mempertahankan persyaratannya. Ia menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada terpenuhinya tuntutan Iran.
“Our conditions are clear, and any move toward reopening the Strait of Hormuz is contingent on these conditions being met,” tulis Araghchi.
“Only a negotiated solution can get them out of this deadlock.”
Iran juga menyatakan bahwa proposal yang disampaikan melalui Qatar dapat mengarah pada pembukaan kembali selat dan penghentian permusuhan dalam waktu tujuh hari.
Trump Pernah Ancam “Musnahkan” Iran
Sikap keras Trump terhadap Tehran sebelumnya telah disampaikan dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada Selasa (22/9/2026).
Saat itu, Trump menyatakan terdapat dua kemungkinan bagi masa depan Iran, yakni mencapai kesepakatan dengan Washington atau menghadapi serangan lebih lanjut.
“Apakah kesepakatan akan dibuat dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih besar dari sebelumnya? Mungkin menjadi salah satu yang terbesar di Timur Tengah atau bahkan di dunia?” ujar Trump.
“Atau haruskah saya memusnahkan Republik Islam itu secara cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan lagi untuk membunuh dan menghancurkan masyarakat serta negara-negara lain?” tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Washington dan Tehran masih berupaya menjaga jalur komunikasi melalui mediator. Reuters sebelumnya melaporkan kedua negara masih memiliki perbedaan besar mengenai cara mengakhiri konflik, meski pembicaraan diplomatik tetap berlanjut.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Ekonomi Global
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling penting dalam konflik AS-Iran karena merupakan jalur utama perdagangan energi dunia. Gangguan pelayaran di kawasan tersebut telah memengaruhi aliran minyak dan menambah tekanan terhadap pasar energi global.
Baca Juga : KTT Trump-Xi Bertemu, Buka Babak Baru Hubungan AS-China
Reuters melaporkan konflik selama berbulan-bulan telah mengganggu aliran minyak melalui salah satu jalur pelayaran paling penting dunia dan turut membebani perekonomian global.
Ketegangan di selat tersebut juga membuat negara-negara Teluk berupaya mencari jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz. Namun, upaya tersebut masih menghadapi kendala keamanan dan infrastruktur.
Hingga kini, unggahan “Selat Trump” tersebut masih sebatas pernyataan dan materi di media sosial. Tidak ada informasi bahwa Trump telah mengeluarkan keputusan resmi untuk mengubah nama Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran menyatakan masih menunggu respons resmi Washington melalui mediator. Meskipun Trump telah menyatakan penolakannya secara terbuka, Tehran mengatakan mediator belum secara resmi menyampaikan penolakan AS terhadap proposal tersebut.

[…] Trump Tolak Gencatan Senjata Iran, Muncul “Selat Trump” […]