Peneliti Klaim Temukan Bahtera Nuh di Gunung Ararat
Tim peneliti yang menyelidiki formasi berbentuk perahu di dekat Gunung Ararat, Turki, mengklaim menemukan bukti baru bahwa struktur tersebut merupakan buatan manusia. Mereka bahkan menyebut temuan itu dapat memperkuat dugaan bahwa situs Durupınar merupakan sisa-sisa Bahtera Nuh.
Mengutip Yahoo Mail, Sabtu (26/9/2026), formasi Durupınar telah menjadi objek penelitian selama puluhan tahun. Dalam wawancara dengan Daily Mail pada Selasa (22/9/2026), tim peneliti internasional tersebut mengklaim telah “100 percent confirmed” bahwa struktur itu dibuat manusia, bukan sekadar bentukan geologi alami.
Tim juga menyatakan hasil pemeriksaan menunjukkan formasi tersebut tidak tersusun dari batuan dasar padat maupun batu kapur. Andrew Jones, pendiri Noah’s Ark Scans yang terlibat dalam penelitian tersebut, menyebut temuan ini sebagai titik penting dalam penyelidikan.
Baca Juga : Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Siapkan Dukungan Hadapi Houthi
“Ini menghancurkan teori bahwa situs tersebut adalah balok batu kapur padat yang dibentuk menyerupai perahu oleh gletser dan pelapukan setelah turun dari lereng gunung,” tutur Jones.
“Dan ini juga membantah teori bahwa ini adalah batuan dasar di mana lumpur mengalir di sekitarnya untuk membentuk pola tersebut,” paparnya.
Namun, klaim tersebut belum menjadi kesimpulan ilmiah final. Proyek penelitian yang mendapat izin resmi pemerintah Turki masih melakukan pemetaan geofisika, pengeboran inti, serta analisis material untuk mengetahui struktur dan komposisi formasi tersebut.
Struktur Tiga Lapis Jadi Petunjuk
Dugaan mengenai Bahtera Nuh berangkat dari kemiripan bentuk Durupınar dengan gambaran kapal dalam Kitab Kejadian. Berdasarkan sejumlah interpretasi kisah tersebut, Bahtera Nuh dibangun untuk menyelamatkan manusia dan berbagai spesies hewan dari banjir besar.
Dalam kisah Alkitab, kapal tersebut memiliki tiga geladak. Tim peneliti mengatakan hasil pemindaian bawah permukaan justru menemukan indikasi tiga lapisan pada bagian bawah formasi.
Mereka juga melaporkan adanya ruang-ruang, koridor, serta struktur menyerupai terowongan di bawah permukaan. Penelitian sebelumnya dengan teknologi GPR dan ERT memang menemukan pola linear serta sudut-sudut siku di bawah formasi. Analisis tim pada 2023 juga mengidentifikasi fitur menyerupai koridor dan ruangan.
Meski demikian, pihak proyek sendiri menekankan bahwa temuan geofisika tersebut masih bersifat indikatif dan membutuhkan verifikasi melalui penelitian geologi lebih lanjut.
Andrew Jones telah mempelajari situs Durupınar sejak kunjungan pertamanya pada 1997. Dalam penelitian terbaru, timnya mengaku menemukan material organik yang kini menjalani pengujian untuk mengetahui apakah terdapat sisa-sisa kayu yang telah mengalami pembusukan atau mineralisasi.
Melalui siaran pers pada Rabu (23/9/2026), Jones juga menceritakan adanya kejadian saat pengeboran inti dilakukan. Mesin bor yang telah melewati material di bagian atas tiba-tiba mengenai lapisan keras yang tidak diperkirakan sebelumnya hingga menyebabkan mata bor rusak.
Menurut Jones, salah satu kemungkinan yang ingin diuji melalui laboratorium independen adalah keberadaan kayu yang membatu atau material kayu yang mengalami mineralisasi berat.
Saat ini, sampel dari pengeboran masih menjalani pengujian untuk menentukan material yang berada di bawah formasi.
Durupınar Masih Jadi Perdebatan
Formasi Durupınar telah lama dikaitkan dengan legenda Bahtera Nuh karena bentuknya menyerupai kapal. Situs tersebut pertama kali diidentifikasi dalam survei udara pada 1959 oleh Kapten İlhan Durupınar dan sejak itu menjadi perhatian berbagai peneliti.
Baca Juga : Tukiye Bantah Tudingan Tampung Pimpinan Hamas
Pada 2026, pemerintah Turki memberikan izin untuk penelitian geologi komprehensif di lokasi tersebut. Proyek ini dipimpin Prof. Dr. Cenker Atila dari Sivas Cumhuriyet University dan bekerja sama dengan Noah’s Ark Scans.
Di sisi lain, sejumlah penelitian geologi sebelumnya menyimpulkan bahwa Durupınar merupakan formasi alami yang terbentuk melalui proses geologi, termasuk longsoran dan erosi. Kajian Geoheritage yang terbit pada 2026 juga menggambarkan Durupınar sebagai formasi geologi alami berbentuk menyerupai kapal.
Karena itu, hasil pengeboran dan analisis laboratorium terbaru masih diperlukan sebelum dapat menentukan apa sebenarnya struktur yang berada di bawah situs tersebut.
Meski hasil akhir penelitian belum keluar, Jones tetap menyatakan keyakinannya terhadap teori Bahtera Nuh.
“Saya yakin ini adalah Bahtera Nuh,” tegasnya.
“Itulah sebabnya saya menempatkan situs Durupınar pada pengujian paling ketat yang memungkinkan.
