AS dan China Berebut Mineral Tanah Jarang di Kenya
Amerika Serikat (AS) dan China tengah berlomba mendapatkan akses terhadap cadangan mineral tanah jarang dan niobium di Mrima Hill, Kenya. Kawasan tersebut menjadi salah satu proyek mineral strategis yang menarik perhatian di tengah upaya Washington mengurangi ketergantungannya terhadap rantai pasok China.
Mrima Hill berada sekitar 65 kilometer barat daya Mombasa, di pesisir Samudra Hindia. Selain tanah jarang, kawasan tersebut memiliki kandungan niobium yang digunakan untuk memperkuat sekaligus membuat baja lebih ringan.
Nilai deposit tersebut kerap disebut mencapai sekitar US$62,4 miliar atau lebih dari Rp1 kuadriliun. Namun, angka tersebut merupakan estimasi nilai mineral yang berada di dalam tanah dan bukan nilai kontrak proyek atau keuntungan yang sudah pasti diperoleh.
Pemerintah Kenya membuka tender internasional pada Maret 2026 untuk menentukan perusahaan yang akan mengembangkan deposit Mrima Hill.
Baca Juga : Peneliti Klaim Bahtera Nuh Ditemukan di Gunung Ararat
Menurut laporan South China Morning Post, yang dikutip berbagai media pada Minggu (27/9/2026), Sekretaris Utama Pertambangan Kenya Harry Kimtai mengatakan enam kandidat kini masih bersaing. Jumlah tersebut turun dari 13 kelompok yang sebelumnya menyatakan minat. Dua di antaranya berasal dari China.
Konsorsium AS Ikut Memburu Mrima Hill
Dari sisi Amerika Serikat, dua konsorsium yang dipimpin perusahaan AS juga masuk dalam proses tender.
Salah satunya adalah Mrima Earth Limited Consortium yang dipimpin Critical Metals Corp. Perusahaan tersebut mengumumkan pada Juli bahwa konsorsiumnya masuk tahap akhir tender pemerintah Kenya untuk mendapatkan hak pengembangan proyek Mrima Hill.
Perusahaan Australia RareX juga sebelumnya membentuk konsorsium untuk mengejar peluang eksplorasi di kawasan tersebut. Identitas seluruh peserta tender belum diumumkan secara terbuka oleh pemerintah Kenya.
Perebutan proyek ini berlangsung ketika Washington dan Beijing sama-sama berusaha mengamankan rantai pasok mineral kritis yang dibutuhkan industri teknologi, energi, dan pertahanan.
AS Tawarkan Pengolahan Mineral di Kenya
Keterlibatan Washington tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap cadangan mineral. AS juga menawarkan bantuan kepada Kenya untuk membangun industri pertambangan dan fasilitas pemrosesan mineral di dalam negeri.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya bertemu Presiden Kenya William Ruto di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York. Salah satu pembahasan kedua pihak adalah peluang Kenya mengembangkan sumber daya mineral kritis dan meningkatkan nilai tambahnya di dalam negeri.
Tawaran serupa disampaikan pejabat AS dalam AmCham Business Summit di Nairobi pada 9 September.
Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Afrika Frank Garcia mengatakan Washington siap membantu Kenya mengembangkan sektor tersebut.
“Mineral kritis adalah prioritas utama Presiden Donald Trump. Kami siap bekerja sama dengan Kenya saat negara itu menjadi pemimpin regional di bidang ini,” kata Garcia.
Garcia mengatakan perusahaan AS tidak sekadar mengambil mineral dari Kenya lalu mengirimkannya ke luar negeri. Menurutnya, kerja sama juga dapat mencakup investasi di masyarakat, pengembangan tenaga kerja, transfer teknologi, serta pembangunan fasilitas pemrosesan.
Washington ingin semakin banyak proses pengolahan dilakukan di Kenya agar negara tersebut memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus menciptakan lapangan kerja.
AS Ingin Kurangi Ketergantungan pada China
Dorongan AS terhadap proyek Mrima Hill tidak terlepas dari upaya Washington mengurangi ketergantungan terhadap China dalam rantai pasok mineral tanah jarang.
China saat ini masih memiliki posisi dominan dalam pemrosesan dan pemurnian sejumlah mineral tanah jarang. Kondisi tersebut menjadi perhatian AS karena mineral tersebut dibutuhkan untuk berbagai produk berteknologi tinggi hingga industri pertahanan.
Analis geoekonomi Aly-Khan Satchu mengatakan persaingan AS-China dalam mineral kritis bukan hanya mengenai siapa yang mendapatkan akses terhadap bahan mentah, tetapi juga siapa yang menguasai fasilitas pemrosesannya.
“Pada akhirnya, persaingan AS-China terkait mineral kritis bukan hanya soal akses terhadap mineral tersebut, tetapi lebih pada infrastruktur pemurniannya,” kata Satchu.
Menurutnya, China memiliki keunggulan sekitar satu dekade dalam sektor tersebut. Karena itu, Kenya perlu mempertimbangkan dampak strategis yang lebih luas ketika menentukan pengembang Mrima Hill.
Chris Berry, kepala perusahaan penasihat komoditas AS House Mountain Partners, juga menilai keterlibatan Washington menunjukkan upaya negara-negara Barat mendiversifikasi rantai pasok mineral.
“AS belum kompetitif saat ini, tetapi itu bisa berubah dengan investasi berkelanjutan dan perjanjian offtake,” ujarnya.
Berry menilai pengurangan ketergantungan terhadap China tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Ia mencontohkan Jepang yang telah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap material China selama sekitar 15 tahun, tetapi masih mengandalkan China untuk sebagian besar kebutuhan impornya.
Mrima Hill Merupakan Kawasan Sakral
Di tengah persaingan investasi tersebut, rencana pengembangan Mrima Hill juga menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat setempat.
Mrima Hill merupakan kawasan Kaya, yakni hutan sakral sekaligus situs leluhur masyarakat Digo yang termasuk dalam komunitas Mijikenda. Kawasan tersebut ditetapkan sebagai monumen nasional Kenya pada 1992.
Baca Juga : Turki Bantah Tuduhan Netanyahu Tampung Pimpinan Hamas
Masyarakat setempat sebelumnya telah menolak sejumlah rencana pertambangan di kawasan tersebut. Mereka khawatir aktivitas pertambangan dapat merusak situs sakral dan habitat satwa, memicu penggusuran, serta mengganggu pertanian dan akses masyarakat terhadap sumber daya hutan.
Pemerintah AS sendiri mengatakan pendekatan pengembangan mineral yang ditawarkan kepada Kenya harus memperhatikan masyarakat dan memberikan manfaat ekonomi lokal. Reuters melaporkan Washington ingin model pertambangan yang transparan, menghormati komunitas, dan membantu memperkuat rantai pasok global.
Ketertarikan Washington terhadap Mrima Hill telah terlihat sejak tahun lalu. Pada Juni 2025, Marc Dillard, yang saat itu menjabat kuasa usaha Kedutaan Besar AS di Kenya, mengunjungi kawasan tersebut.
Sementara itu, laporan AFP yang dikutip dalam pemberitaan lokal menyebut sejumlah warga negara China juga pernah mencoba memasuki kawasan Mrima Hill, tetapi mendapat penolakan dari penjaga komunitas setempat.
Dengan enam kandidat yang masih berada dalam proses tender, pemerintah Kenya kini berada di tengah persaingan kepentingan ekonomi dan strategis antara berbagai negara. Keputusan mengenai pengembang Mrima Hill nantinya tidak hanya menentukan siapa yang memperoleh akses terhadap mineral, tetapi juga bagaimana Kenya membangun industri pengolahan dan seberapa besar manfaat ekonomi yang tetap berada di dalam negeri.
