Korsel Minta Ukraina Minta Maaf soal Tawanan Korut
Pemerintah Korea Selatan (Korsel) meminta Ukraina memberikan penjelasan resmi dan permintaan maaf setelah Kyiv mengungkap pemindahan dua tentara Korea Utara (Korut) ke Seoul yang sebelumnya disebut disepakati untuk dirahasiakan.
Perselisihan ini bermula setelah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengungkap dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa Kyiv telah menyerahkan dua tentara Korut kepada Korea Selatan. Zelensky juga menyebut kedua tentara tersebut “tidak mudah untuk ditangkap hidup-hidup”.
Beberapa jam setelah pernyataan Zelensky, Presiden Korsel, Lee Jae Myung, menyampaikan kekecewaannya melalui X.
“Saya tidak tahu mengapa pihak Ukraina melanggar kesepakatan dan mempublikasikan masalah ini, tetapi hal tersebut sangat mengecewakan,” tulis Lee.
Baca Juga : Presiden Korsel Tegur Ukraina Terkait Tawanan Korut
Menurut Lee, pemindahan kedua tentara tersebut memang seharusnya tidak dipublikasikan karena berpotensi menimbulkan persoalan diplomatik, keamanan, serta dampak terhadap situasi di Semenanjung Korea.
Pernyataan Lee kemudian mendapat respons dari Dmytro Lytvyn, ajudan Zelensky. Kepada wartawan, Lytvyn mengatakan Ukraina merupakan “negara terbuka” sehingga menurutnya pengungkapan mengenai pemindahan kedua tentara tersebut bukan sesuatu yang perlu dirahasiakan sepenuhnya.
“Dari keseluruhan cerita, yang panjang dan terperinci, kami hanya melaporkan fakta itu sendiri, bahwa mereka telah dikirim ke Republik Korea,” katanya, dilansir AFP.
Kantor kepresidenan Ukraina sebelumnya juga menyatakan bahwa proses pemindahan kedua tawanan dilakukan melalui komunikasi langsung dengan Seoul. Kyiv kemudian membantah adanya kesepakatan kerahasiaan terkait pemindahan tersebut.
Kantor kepresidenan Korsel menilai pengungkapan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan antara Seoul dan Kyiv.
“Hal itu sendiri merupakan masalah yang sangat serius bahwa pihak Ukraina melanggar perjanjian kerahasiaan antara kedua negara dan mengungkapkannya secara sepihak,” kata Seong Ghi-hong, sekretaris senior kepresidenan bidang hubungan masyarakat, dalam pernyataan pada Minggu (27/9/2026) malam.
Seong juga menyoroti bantahan dari kantor pers kepresidenan Ukraina mengenai keberadaan kesepakatan kerahasiaan.
“Tetapi pernyataan palsu dari kantor pers kepresidenan Ukraina bahwa tidak pernah ada kesepakatan kerahasiaan… secara serius merusak kepercayaan antara kedua pemerintahan dan sangat merusak hubungan persahabatan antara kedua negara,” ujarnya.
Menurut kantor kepresidenan Korsel, Ukraina sebelumnya meminta agar proses pemindahan tersebut tidak dipublikasikan. Seoul menyetujui permintaan itu dengan mempertimbangkan keselamatan kedua tawanan, keluarga mereka di Korut, serta dampak diplomatik dan keamanan.
Seoul kemudian meminta Ukraina memberikan penjelasan resmi mengenai pengungkapan tersebut sekaligus menyampaikan permintaan maaf.
Kantor kepresidenan Korea Selatan juga menyatakan sedang mempertimbangkan “langkah-langkah tambahan yang mungkin diperlukan terkait masalah ini”. Namun, Seoul belum menjelaskan bentuk tindakan yang sedang dipertimbangkan.
Perselisihan ini menambah persoalan dalam hubungan Korea Selatan dan Ukraina, terutama karena transfer kedua tawanan tersebut sebelumnya ditangani sebagai isu sensitif yang berkaitan dengan keamanan dan hubungan antar-Korea.
Baca Juga : AS dan China Berebut Mineral Tanah Jarang di Kenya
Dua tentara Korut tersebut ditangkap pasukan Ukraina pada Januari 2025 setelah dikirim ke wilayah Kursk, Rusia, untuk membantu pasukan Moskow dalam perang melawan Ukraina. Ribuan tentara Korea Utara dilaporkan dikerahkan ke Rusia dalam mendukung perang tersebut.
Sebelumnya, seorang anggota parlemen Korea Selatan mengatakan kedua tentara tersebut ingin menjalani “kehidupan normal” di Korea Selatan.
Pemindahan keduanya ke Korsel juga berkaitan dengan status kewarganegaraan. Berdasarkan konstitusi Korea Selatan, warga Korea Utara juga dipandang sebagai bagian dari warga negara Korea Selatan. Atas dasar itu, Seoul sebelumnya menyatakan ketentuan tersebut berlaku terhadap kedua tentara Korut yang ditangkap Ukraina.
Korea Selatan sebelumnya memang berhati-hati dalam mengonfirmasi keberadaan kedua tawanan tersebut di Seoul karena mempertimbangkan keselamatan mereka dan keluarga yang masih berada di Korea Utara.
