Saudi-UEA Didesak Bersatu Hadapi Houthi di Yaman
Arab Saudi didesak memperbaiki kembali hubungannya dengan Uni Emirat Arab (UEA) di tengah meningkatnya ancaman kelompok Houthi di Yaman.
Rekonsiliasi Riyadh dan Abu Dhabi dinilai dapat menjadi bagian penting dalam membangun kekuatan militer yang mampu menghadapi pergerakan Houthi di wilayah tersebut.
Hubungan kedua negara memburuk sejak awal 2026 setelah pasukan yang berafiliasi dengan UEA terlibat konflik dengan Arab Saudi di Yaman.
Situasi tersebut kembali menjadi perhatian setelah Houthi yang bersekutu dengan Iran bergerak mendekati Selat Bab al-Mandab pada pertengahan September.
Baca Juga: Irak Tetapkan Hari Kedaulatan setelah Pasukan AS Pergi
Hubungan Saudi-UEA Memburuk
Mengutip laporan The Guardian, Rabu (30/9/2026), Arab Saudi dan UEA sebelumnya sama-sama mendukung kelompok yang memerangi Houthi di Yaman.
Namun, hubungan kedua negara berubah setelah pasukan Saudi menyerang dan mengalahkan kelompok separatis Southern Transitional Council (STC) yang berafiliasi dengan UEA.
Serangan tersebut dilakukan untuk menggagalkan upaya STC membentuk kembali negara terpisah di Yaman bagian selatan.
Setelah itu, UEA secara efektif meninggalkan Yaman, sementara pengaruh STC di panggung politik negara tersebut semakin melemah.
Situasi kembali berubah ketika pasukan Houthi bergerak ke arah selatan dan berhasil mendekati Selat Bab al-Mandab pada pertengahan September.
Dalam ofensif tersebut, National Resistance Forces yang sebelumnya didukung UEA dan dipimpin Tareq Saleh mengalami kekalahan hingga garis pertahanannya runtuh dengan cepat.
Masa depan peran UEA di Yaman kemudian menjadi salah satu topik dalam pertemuan di Abu Dhabi pada Minggu yang dihadiri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan dan sejumlah negara Arab, termasuk perwakilan Saudi.
Netanyahu dilaporkan menawarkan bantuan kepada Saudi untuk menghadapi Houthi, tetapi Riyadh kemungkinan akan sulit menerima tawaran tersebut karena Presiden AS Donald Trump belum merespons permintaan Saudi agar Washington membantu menghadapi Houthi.
Pembahasan mengenai Yaman berlanjut dalam pertemuan Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman Al Saud dan Wakil Presiden UEA Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan di Riyadh pada Selasa.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa kedua negara mungkin mulai mencari jalan untuk memperbaiki hubungan yang retak, meski langkah awalnya dapat terbatas pada kerja sama di sektor energi.
Houthi Bergerak Mendekati Bab al-Mandab
Dorongan untuk memperbaiki hubungan Saudi dan UEA semakin kuat setelah Houthi bergerak mendekati Selat Bab al-Mandab yang merupakan salah satu jalur strategis bagi ekspor minyak Saudi.
Setelah merebut sejumlah wilayah, pasukan Houthi kini berusaha memperkuat posisi mereka dan bergerak menuju Kota Taiz di Yaman bagian barat daya.
“Pasukan Houthi melancarkan gelombang serangan secara bersamaan ke kota tersebut, berusaha menguras kekuatan pasukan Poros Taiz yang mempertahankan kota,” kata Baraa Shiban, pakar Teluk dan Yaman dari lembaga kajian pertahanan Rusi, yang baru menghabiskan sepekan di Taiz.
“Pasukan Houthi memang didorong mundur, tetapi kemudian keesokan harinya mereka kembali menyerang dari front yang berbeda.”
Shiban mengatakan upaya untuk mengakhiri perselisihan Saudi dan UEA sedang dilakukan, termasuk kemungkinan penerapan sejumlah langkah untuk membangun kembali kepercayaan.
Namun, ia menilai kembalinya UEA ke Yaman tidak mudah karena Abu Dhabi sebelumnya telah meninggalkan negara tersebut dan masih memiliki hubungan dengan STC.
“Upaya sedang dilakukan untuk mencoba mengakhiri keretakan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dan mungkin akan ada beberapa langkah untuk membangun kepercayaan. Namun, UEA telah meninggalkan Yaman, dan kecil kemungkinan Riyadh akan membiarkan mereka kembali karena mereka bersekutu dengan STC, dan itu akan menimbulkan masalah … UEA dan Arab Saudi pada dasarnya berada di pihak yang berlawanan,” ujarnya.
Pemimpin STC Aidarous al-Zubaidi sendiri melarikan diri ke pengasingan setelah pasukannya diserang Saudi.
Mantan Menteri Luar Negeri Yaman sekaligus pendukung STC, Khaled Alyemany, mengatakan Saudi mungkin perlu meninjau kembali pendekatan politiknya terhadap persoalan Yaman bagian selatan.
Menurut Alyemany, Giant Brigades yang pernah dilatih UEA dan sebelumnya memiliki hubungan dengan STC merupakan salah satu kekuatan paling andal dan memiliki persenjataan terbaik untuk menahan laju Houthi.
STC sendiri mendesak Giant Brigades menolak rencana penggabungan dengan pasukan pemerintah Yaman karena dinilai dapat melemahkan perjuangan kelompok tersebut untuk memperoleh kemerdekaan.
“Kita tidak bisa bertempur dan berperang di utara melawan Houthi jika kita tidak memiliki prospek untuk kemerdekaan kita,” kata Alyemany.
Baca Juga: Tambang Emas Ilegal Picu Kekerasan di Afrika Selatan
AS Dorong Komando Militer Bersama
Pemerintah Yaman yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan beroperasi dari pengasingan di Riyadh meminta warga selatan ikut berperang untuk merebut kembali ibu kota Sanaa.
Namun, menurut Alyemany, pemerintah tersebut tidak memberikan jaminan mengenai hak warga Yaman selatan untuk menentukan nasib sendiri.
“Pemerintah yang diakui PBB … yang beroperasi dari pengasingan di Riyadh, bersikeras agar warga selatan berperang untuk merebut kembali ibu kota, Sana’a, atas namanya, tetapi tanpa janji apa pun mengenai hak selatan untuk menentukan nasib sendiri,” katanya.
“Masalahnya adalah, selama pemerintah Yaman memperoleh legitimasinya dari para penyandang dana Saudi, bukan dari rakyatnya, hasilnya bukanlah tujuan yang dinyatakan Arab Saudi, yaitu keamanan di sepanjang perbatasan selatannya,” ujar Alyemany.
Di sisi lain, Gedung Putih dilaporkan secara diam-diam mendorong UEA dan Saudi mengakhiri perselisihan mereka.
Washington disebut mengusulkan pembentukan komando militer terpadu yang melibatkan Southern Giants Brigades untuk menghadapi kemajuan Houthi.
Ada pula proposal untuk memanfaatkan intelijen Israel serta menyewa perusahaan keamanan swasta Israel, yang sebelumnya pernah digunakan UEA di Yaman.
Namun, Saudi selama ini enggan terlihat bekerja sama dengan Israel dan juga menolak membantu kelompok separatis selatan karena khawatir pemisahan Yaman justru memperkuat kendali Houthi di wilayah utara yang berbatasan langsung dengan Saudi.
Houthi sebelumnya telah menggunakan drone dan rudal untuk menyerang fasilitas energi Saudi.
Di tengah dukungan dan perlindungan udara dari Saudi, pertempuran untuk mencegah Houthi memperkuat wilayah yang telah dikuasai masih berlangsung.
Parlemen pemerintah Yaman yang diakui PBB bahkan telah mengesahkan mobilisasi umum rakyat Yaman untuk melawan Houthi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat eskalasi konflik di Yaman telah menewaskan 838 orang dan melukai 3.643 lainnya sejak 6 Agustus tahun lalu hingga 26 September tahun ini.
Houthi menyatakan tidak bermaksud memblokir seluruh aktivitas pelayaran komersial di Selat Bab al-Mandab dan mengatakan hanya kapal yang terkait dengan Saudi yang menjadi sasaran.
Pada Senin, Houthi merilis data yang mereka klaim menunjukkan lalu lintas kapal komersial tetap berjalan normal.
Houthi juga menuduh Saudi sebagai kekuatan kolonial, sementara pemerintah Yaman yang diakui PBB dan berbasis di Aden disebut hanya menjadi kepanjangan tangan Riyadh.
April Longley Alley, peneliti senior di Washington Institute, mengatakan dalam seminar International Crisis Group bahwa perang tersebut merupakan persoalan hidup dan mati bagi Saudi, sementara Houthi tidak menunjukkan tanda-tanda bersedia berkompromi.
“Kita harus melihat apakah mereka dapat mempertahankan wilayah-wilayah ini, tetapi apa yang dipelajari Houthi dari perang dengan Iran adalah bahwa Arab Saudi ketika berada di bawah tekanan dan serangan akan mencari deeskalasi,” kata Alley.
“Houthi menuntut perdamaian dari pihak yang menang,” ujarnya.
