Danantara Investasi Rp4,5 Triliun di Migas AS, Ini Alasannya
Danantara melalui Danantara Investment Management (DIM) mengakuisisi perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal Amerika Serikat, High Peak Energy Inc, senilai 250 juta dollar AS atau sekitar Rp4,5 triliun.
Nilai transaksi tersebut dihitung menggunakan asumsi kurs Rp18.000 per dollar AS dan dilakukan melalui penerbitan saham preferen konvertibel dalam beberapa tahap.
Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi menilai aksi korporasi tersebut dapat dilihat dari dua sudut pandang, yakni sebagai investasi portofolio dan upaya mendapatkan aset strategis di sektor energi.
“Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) punya kepentingan untuk investasi portofolio maupun investasi ke aset strategis terutama di sektor energi”, ujarnya, Rabu (7/10/2026).
Menurut Yosua, investasi minoritas tersebut tetap memiliki nilai strategis, terutama di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah yang masih memanas.
“Memang aset-aset migas US banyak dilirik saat konflik Timur Tengah. US bukan hanya negara dengan cadangan minyak yang terbesar tetapi mereka juga punya teknologi. Ini jadi alasan kenapa aset-aset migas di sana diincar banyak pihak secara global”, tambahnya.
Baca Juga: Prabowo Sebut Rp52 Triliun Diselamatkan dari Hutan
High Peak Energy Beroperasi di Permian Basin
High Peak Energy Inc merupakan perusahaan yang berbasis di Texas dan tercatat di Nasdaq dengan nilai kapitalisasi pasar sekitar 1 miliar dollar AS.
Perusahaan tersebut bergerak di bidang akuisisi, pengembangan, eksplorasi, serta eksploitasi minyak dan gas bumi di Permian Basin.
Permian Basin merupakan wilayah penghasil minyak mentah terbesar di Amerika Serikat yang menyumbang 48 persen dari total produksi minyak AS selama 2025 berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat.
Sejak 2007, pertumbuhan produksi di wilayah tersebut terutama didorong oleh penerapan teknik pengeboran horizontal dan rekahan hidrolik atau hydraulic fracturing (fracking).
Kedua teknik tersebut dapat diterapkan pada lapangan migas tua di darat apabila kondisi reservoir mendukung untuk meningkatkan produktivitas sumur dan perolehan migas.
Yosua menilai investasi DIM tidak hanya memberikan akses terhadap cadangan minyak, tetapi juga teknologi melalui pertukaran keterampilan berupa pelatihan dan penugasan kerja.
Di sisi lain, skema transaksi melalui penerbitan saham preferen konvertibel dinilai mencerminkan aspek kehati-hatian dalam investasi.
Menurut Yosua, saham preferen memiliki karakteristik berbeda dibandingkan saham biasa karena memberikan perlindungan tertentu terhadap risiko penurunan nilai investasi sekaligus membuka peluang keuntungan dalam jangka panjang.
“Ada aspek perlindungan dari penurunan nilai investasi tetapi juga membuka akses upside ke depan jangka panjang. Skema seperti ini memang lazim untuk dilakukan ke perusahaan migas yang aktif dalam melakukan eksplorasi maupun eksploitasi” tambahnya.
Baca Juga: Produksi Mobil China di Indonesia Capai 87.319 Unit, BYD Terbesar
Danantara dan ENRG Sama-sama Investasi di High Peak
Dalam siaran persnya, DIM menyebut investasi tersebut tidak hanya bertujuan untuk transfer pengetahuan, tetapi juga mendukung pengembangan sektor energi Indonesia.
Investasi tersebut sekaligus diharapkan memperkuat hubungan energi dan ekonomi yang telah lama terjalin antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Investasi DIM di perusahaan migas AS juga menambah daftar investor besar yang melakukan aksi serupa, seperti Mitsubishi, JAPEX, dan Osaka Gas.
Sejumlah lembaga investasi negara seperti GIC, Mubadala, dan ADIA juga diketahui telah berinvestasi pada aset migas di Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mengumumkan keterbukaan informasi terkait investasi di High Peak Energy Inc.
Nilai investasi ENRG mencapai 200 juta dollar AS atau sekitar Rp3,6 triliun dengan skema transaksi yang juga melibatkan penerbitan saham preferen konvertibel.
Yosua menilai Danantara sebagai SWF lebih berorientasi pada gambaran besar, terutama diversifikasi portofolio di sektor strategis dan penguatan ketahanan energi nasional.
Sementara itu, dari sisi ENRG, investasi tersebut lebih berkaitan dengan ekspansi geografis dan penguasaan teknologi sebagai nilai tambah.
“Ko-investasi pada dasarnya sangat umum dilakukan. Danantara dan ENRG menjadi salah satunya. Danantara dari sisi SWF, sementara ENRG sebagai pelaku migas asal Indonesia. Besar harapannya manfaat itu dirasa oleh sektor migas Indonesia juga dari investasi ini” pungkas Yosua.
