MBS Berlindung di Istana Berbunker Saat Houthi Serang Saudi
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan berpindah-pindah di antara sejumlah istana yang dilengkapi bunker dan pengamanan ketat di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi dari Yaman.
Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ) pada Senin (12/10/2026), MBS kini dilindungi tim keamanan pilihan yang ditunjuk langsung olehnya.
Pengamanan tersebut diperketat setelah serangan Houthi semakin mengancam Riyadh, termasuk fasilitas sipil dan infrastruktur penting Arab Saudi.
MBS terakhir kali muncul di hadapan publik pada Selasa (6/10/2026), saat mengikuti kegiatan donor darah nasional.
Baca Juga: Israel Kecam Belanda setelah Suporter Hapoel Be’er Sheva Dilarang Hadir
Serangan Houthi Tewaskan 12 Orang di Bandara Riyadh
Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi melaporkan sedikitnya 12 orang tewas dan 309 lainnya terluka akibat serangan di Bandara Riyadh pada Sabtu (10/10/2026).
Menurut laporan Ynet News, serangan tersebut menghantam Bandara Internasional King Khalid dan menyebabkan dua terminal mengalami kerusakan parah, termasuk bagian atap yang dilaporkan runtuh.
Serangan kembali terjadi pada Minggu (11/10/2026), ketika sebuah proyektil menghantam bandara yang telah ditutup dan memicu kebakaran di Terminal 4.
Pada hari yang sama, otoritas penerbangan sipil melaporkan serangan lain yang menyebabkan sejumlah orang terluka.
Kelompok Houthi, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, mengakui telah melancarkan empat operasi berskala besar menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone dalam kurun 24 jam pada 11 Oktober.
Dampak serangan juga dirasakan di berbagai kawasan Riyadh, sehingga warga, pekerja di kawasan keuangan, siswa sekolah internasional, dan diplomat diminta mencari perlindungan atau meninggalkan gedung.
Pada Kamis (8/10/2026), puing-puing rudal balistik yang berhasil dicegat dilaporkan menghantam sebuah taman kanak-kanak dan kompleks klinik medis.
Saudi Cari Tambahan Sistem Pertahanan Udara
Di tengah meningkatnya ancaman, Arab Saudi berupaya memperoleh tambahan sistem pertahanan udara dari sejumlah negara dan meminta bantuan Pakistan, sekutu militernya.
Menurut laporan WSJ, pejabat Saudi memperingatkan bahwa persediaan rudal pencegat negara itu mulai menipis.
Arab Saudi juga memindahkan baterai pertahanan udara ke sejumlah lokasi strategis, termasuk istana kerajaan dan infrastruktur energi penting, untuk menghadapi serangan di wilayahnya yang luas.
Selain itu, Riyadh berupaya merekrut petempur asing guna mendukung sekutu-sekutunya di Yaman, sebagaimana dikutip dari kantor berita TASS.
Amerika Serikat (AS) telah menyediakan penasihat militer, tetapi sejauh ini menolak permintaan Arab Saudi untuk membantu secara langsung membalikkan kemajuan teritorial Houthi di Yaman.
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan bahwa Washington dapat bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap kelompok tersebut.
“Apa yang mereka lakukan sangat buruk,” kata Trump setelah serangan di Bandara King Khalid.
Baca Juga: Survei Sebut Jepang Kini Anggap AS Lebih Mengancam daripada Rusia
Serangan Ancam Ambisi Ekonomi Mohammed bin Salman
Meningkatnya serangan Houthi turut mengancam ambisi MBS untuk menjadikan Arab Saudi sebagai pusat global pariwisata, investasi, dan teknologi.
Selama bertahun-tahun, putra mahkota berusia 41 tahun itu mendorong transformasi ekonomi melalui investasi besar dalam berbagai proyek pembangunan, termasuk kota futuristik Neom dan proyek-proyek baru di Riyadh.
Namun, serangan Houthi menyasar sejumlah infrastruktur penting, mulai dari bandara dan kilang minyak hingga jaringan pipa East-West yang memungkinkan Arab Saudi mengekspor minyak melalui Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz.
Houthi juga mengancam pelayaran di Laut Merah, jalur strategis bagi perdagangan dan ekspor minyak Arab Saudi.
Konferensi investasi internasional yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober 2026 turut terancam terganggu karena serangan dapat memengaruhi perjalanan internasional dan kepercayaan investor.
Tekanan ekonomi tersebut muncul ketika investasi asing di Arab Saudi menurun pada paruh pertama 2026 dan sejumlah proyek besar mengalami penundaan atau peninjauan ulang.
Kementerian Keuangan Arab Saudi memperkirakan perekonomian negara itu menyusut 3,6 persen pada 2026.
Konflik antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi telah berlangsung sejak Agustus 2014.
Pada Juli 2026, Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan kemudian menyerang sejumlah kapal tanker minyak milik negara tersebut.
Pada 10–11 September 2026, Houthi menguasai Kota Mokha dan sejumlah posisi penting di sepanjang pesisir, sehingga meningkatkan ancaman terhadap pengiriman minyak Saudi melalui Selat Bab El-Mandeb.
Pada 4 Oktober 2026, pasukan pemerintah Yaman mengumumkan dimulainya operasi militer besar untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.
