Empat Kapal Diserang di Selat Hormuz, Satu Tenggelam
Empat kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz pada Selasa (13/10/2026), ketika Iran dan Amerika Serikat (AS) terus bersaing memperebutkan kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut. Insiden ini menyebabkan satu kapal kontainer dilaporkan tenggelam, sementara keberadaan sebuah kapal tanker belum diketahui.
Perusahaan keamanan maritim Inggris, Vanguard, mengungkapkan bahwa dua kapal lainnya masih dapat melanjutkan pelayaran setelah mengalami serangan.
Dilansir AFP, Rabu (14/10/2026), Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menerima laporan mengenai dua kapal yang terkena proyektil tak dikenal pada Selasa. Kedua kapal itu masing-masing memiliki bobot 50.000 ton dan 19.000 ton.
Baca Juga : Pada September 2026 Inflasi AS Dikabarkan Naik!
UKMTO menyatakan kerusakan yang dialami kedua kapal tergolong ringan sehingga keduanya masih dapat melanjutkan perjalanan. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kedua insiden tersebut.
Sebelumnya, UKMTO juga menerima laporan tentang dua serangan lain yang menyasar kapal tanker dan kapal kontainer pada hari yang sama. Namun, lembaga tersebut tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai tingkat kerusakan maupun kemungkinan adanya korban dalam dua kejadian itu.
Vanguard kemudian mengidentifikasi empat kapal yang dilaporkan menjadi sasaran, yakni GFS Pride dan GFS Giselle yang berbendera Singapura, Alfonso berbendera Barbados, serta Al Saadiyat berbendera Kepulauan Marshall.
Menurut laporan Vanguard, GFS Pride yang merupakan kapal kontainer dilaporkan tenggelam. Sementara itu, nasib kapal tanker Alfonso masih belum diketahui. Adapun GFS Giselle dan Al Saadiyat dilaporkan tetap melanjutkan pelayaran.
Pada Rabu, Iran juga mengumumkan bahwa sebuah kapal terbakar dan tenggelam setelah menabrak ranjau di Selat Hormuz. Namun, Teheran tidak mengungkapkan waktu pasti kejadian tersebut.
Belum ada kepastian apakah kapal yang dilaporkan Iran itu termasuk salah satu dari empat kapal yang menjadi sasaran serangan pada Selasa.
Selat Hormuz Jadi Arena Perebutan Kendali Iran dan AS
Selat Hormuz menjadi salah satu titik panas konflik di Timur Tengah sejak perang yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Jalur perairan ini memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan hidrokarbon global melewati Selat Hormuz, menjadikannya salah satu jalur utama distribusi energi internasional.
Baca Juga : China dan Korut Buka Jembatan Baru Setelah Tertunda Bertahun-tahun
Sejak perang berlangsung, Iran mengambil kendali atas Selat Hormuz dan berulang kali menyerang kapal-kapal yang dituding melintasi perairan tersebut tanpa izin dari Teheran.
Sebagai respons, Amerika Serikat memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menekan perekonomian negara tersebut. Kebijakan itu semakin memperuncing persaingan kedua negara dalam mengendalikan jalur pelayaran strategis tersebut.
Rangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz menunjukkan bahwa kawasan itu masih menjadi titik rawan di tengah konflik Washington dan Teheran. Gangguan terhadap jalur tersebut juga berpotensi memengaruhi kelancaran perdagangan energi global.
